Hayuning Ratri Hapsari | Angelia Cipta RN
Ilustrasi menghitung gaji (Pexels/Tima Miroshnichenko)
Angelia Cipta RN

Ada satu pertanyaan sederhana yang semakin sering muncul di kepala banyak anak muda hari ini kita bekerja untuk hidup, atau justru hidup untuk bekerja?

Bagi sebagian generasi sebelumnya, bekerja adalah kewajiban yang tidak banyak dipertanyakan. Selama ada penghasilan tetap, selama kebutuhan dasar terpenuhi, maka itu sudah cukup.

Namun bagi Gen Z, generasi yang tumbuh dengan akses informasi luas, kesadaran diri yang tinggi, dan ekspektasi hidup yang berbeda  pertanyaan itu tidak bisa lagi diabaikan. Apalagi ketika realitasnya berbenturan langsung dengan gaji UMR.

Realitas UMR Antara Bertahan dan Kehilangan Makna Hidup

Secara teori, UMR adalah jaring pengaman. Ia dirancang agar pekerja bisa hidup layak, memenuhi kebutuhan dasar, dan menjalani kehidupan dengan standar minimum yang manusiawi. Namun dalam praktiknya, banyak yang merasakan hal sebaliknya UMR bukan jaminan hidup layak, melainkan batas tipis antara bertahan dan kelelahan.

Setiap bulan, siklusnya hampir sama. Gaji datang, lalu perlahan menghilang untuk kebutuhan yang tak bisa ditawar. Biaya makan, transportasi, tempat tinggal, pulsa, listrik  semuanya seperti daftar kewajiban yang tidak memberi ruang untuk bernapas.

Pada akhirnya, yang tersisa bukanlah tabungan atau rasa aman, melainkan kekhawatiran tentang bulan berikutnya.

Dalam kondisi seperti ini, hidup terasa sangat fungsional. Segala sesuatu diukur dari cukup atau tidak cukup. Bukan lagi soal bahagia atau tidak, bermakna atau tidak. Di sinilah masalah yang lebih dalam mulai muncul.

Gen Z tidak hanya bekerja untuk bertahan. Mereka juga mencari makna. Mereka ingin merasa bahwa hidup mereka memiliki arah, bahwa pekerjaan yang dijalani bukan sekadar rutinitas tanpa arti. Namun ketika realitas ekonomi memaksa mereka untuk terus fokus pada bertahan hidup, ruang untuk mencari makna itu perlahan menyempit.

Ironisnya, semakin keras seseorang bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasar, semakin sedikit waktu dan energi yang ia miliki untuk benar-benar menjalani hidupnya.

Ketika Hidup Tersedot oleh Rutinitas Kerja

Bekerja delapan jam sehari sering disebut sebagai standar. Namun dalam praktiknya, waktu yang dihabiskan untuk pekerjaan jauh lebih panjang. Perjalanan ke kantor, lembur, tekanan target, hingga kelelahan setelah pulang kerja membuat hari terasa habis hanya untuk satu hal bekerja.

Sisa waktu yang ada sering kali hanya cukup untuk beristirahat, bukan untuk hidup.

Di titik ini, banyak Gen Z mulai merasakan keganjilan. Mereka mengikuti semua aturan  sekolah, mencari kerja, bekerja keras  tetapi tetap merasa kosong. Seolah-olah ada sesuatu yang hilang, tetapi sulit dijelaskan.

Kondisi ini diperparah dengan tekanan psikologis yang tidak selalu terlihat. Kecemasan finansial, rasa tidak aman terhadap masa depan, dan perasaan tertinggal dari orang lain menjadi beban yang terus dibawa setiap hari. Bahkan di luar jam kerja, pikiran tetap dipenuhi oleh kekhawatiran yang sama.r

Tidak heran jika banyak yang merasa lelah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara mental.

Di sisi lain, budaya produktivitas modern terus mendorong narasi bahwa kita harus selalu melakukan sesuatu. Waktu luang dianggap tidak produktif. Istirahat sering kali disertai rasa bersalah. Akibatnya, hidup menjadi serangkaian aktivitas tanpa jeda, tanpa ruang untuk benar-benar berhenti dan bertanya untuk apa semua ini?

Pertanyaan kerja demi hidup atau hidup demi kerja akhirnya bukan lagi sekadar refleksi filosofis, tetapi menjadi pengalaman sehari-hari.

Mencari Jawaban Hidup di Tengah Ketidakpastian dan Harga Terus Naik

Yang membuat dilema ini semakin kompleks adalah tidak adanya jawaban yang benar-benar pasti. Bekerja tetaplah kebutuhan. Tanpa bekerja, tidak ada penghasilan. Tanpa penghasilan, tidak ada cara untuk bertahan hidup.

Namun di saat yang sama, jika hidup hanya dihabiskan untuk bekerja, maka apa yang sebenarnya kita kejar?

Gen Z berada di persimpangan ini. Mereka menyadari bahwa sistem kerja modern tidak selalu memberi ruang untuk keseimbangan. Mereka juga mulai mempertanyakan narasi lama bahwa kerja keras pasti berujung pada kesejahteraan. Realitas menunjukkan bahwa kerja keras saja tidak selalu cukup.

Di sinilah muncul keinginan untuk mencari alternatif. Bukan berarti menolak bekerja, tetapi mencari cara agar hidup tidak sepenuhnya dikendalikan oleh pekerjaan. Entah itu melalui pekerjaan yang lebih fleksibel, usaha sampingan, atau sekadar mencoba menjaga batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Namun tentu saja, tidak semua orang memiliki privilese untuk memilih. Bagi banyak pekerja dengan gaji UMR, pilihan sering kali bukan antara ingin dan tidak ingin, tetapi antara bisa dan tidak bisa. Dan dalam banyak kasus, bertahan tetap menjadi satu-satunya opsi.

Pada akhirnya, pertanyaan ini mungkin tidak akan pernah benar-benar terjawab dengan sederhana. Tetapi justru di situlah pentingnya untuk terus mempertanyakannya.

Karena selama kita masih bertanya, berarti kita masih menyadari bahwa hidup seharusnya lebih dari sekadar bekerja.

Bahwa di balik rutinitas, ada keinginan untuk hidup lebih utuh. Untuk merasa cukup, bukan hanya secara finansial, tetapi juga secara emosional.

Mungkin, di tengah keterbatasan itu, jawaban kecil bisa mulai ditemukan. Bukan dalam perubahan besar yang instan, tetapi dalam kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan  melainkan juga tentang menemukan arti, sekecil apa pun itu.