Sekar Anindyah Lamase | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi kebun kayu galih (Dok.Pribadi/Fathorrozi)
Fathorrozi 🖊️

Terdapat pergeseran senyap yang sedang berlangsung di beberapa wilayah, bahkan hingga di pelosok desa. Rumah-rumah tidak lagi bertumpu pada kayu, melainkan pada galvalum dan beton. Perubahan ini kerap dipuji sebagai tanda kemajuan yang lebih praktis, lebih cepat dibangun, dan dianggap lebih tahan lama. Namun, di balik narasi efisiensi itu, ada kelompok yang perlahan tersingkir. Siapa? Petani kayu.

Dulu, kayu bukan sekadar material bangunan, melainkan bagian dari siklus ekonomi desa. Petani menanam sengon, jati, atau mahoni sebagai tabungan hidup. Ketika anak masuk sekolah, ketika butuh biaya hajatan, atau saat harga sedang baik, kayu ditebang dan dijual. Ada nilai ekonomi sekaligus nilai kultural. Rumah kayu dipandang hangat, alami, dan menyatu dengan lingkungan. Kini, logika itu mulai runtuh.

Galvalum dan beton datang dengan janji yang sulit ditolak. Harga lebih stabil, pemasangan cepat, dan perawatan minim. Tukang pun cenderung merekomendasikannya karena lebih mudah dikerjakan dan tidak bergantung pada kualitas bahan yang fluktuatif.

Dalam banyak kasus, masyarakat tidak lagi mempertimbangkan kayu karena dianggap mahal di awal, rentan rayap, dan butuh perawatan. Rasionalitas pasar bekerja dingin, bahwa yang paling efisien akan menang.

Masalahnya, efisiensi itu tidak netral. Ia menciptakan pemenang dan pecundang. Dalam konteks ini, petani kayu kecil berada di sisi yang kalah. Harga kayu dari hutan rakyat kian tertekan karena permintaan menurun.

Kayu yang dulu bisa menjadi investasi jangka panjang, kini berubah menjadi beban yang tak kunjung laku. Petani kehilangan daya tawar, bahkan sering dipaksa menjual dengan harga rendah karena kebutuhan mendesak.

Ironisnya, petani kayu tidak punya banyak pilihan. Beralih ke komoditas lain bukan perkara mudah. Menanam kayu membutuhkan waktu bertahun-tahun; artinya, keputusan masa lalu mengikat mereka pada kondisi hari ini. Ketika pasar berubah drastis, mereka tidak punya fleksibilitas untuk segera beradaptasi.

Inilah bentuk ketimpangan struktural yang jarang dibicarakan, perubahan preferensi konsumen di kota bisa mengguncang ekonomi desa tanpa mekanisme perlindungan yang memadai.

Lebih jauh lagi, dominasi material modern juga memunculkan pertanyaan ekologis. Kayu dari hutan rakyat, jika dikelola dengan baik, sebenarnya merupakan sumber daya terbarukan.

Sementara itu, produksi galvalum dan beton menyerap energi besar dan berkontribusi pada emisi karbon. Namun, narasi keberlanjutan ini kalah oleh logika harga dan kepraktisan. Konsumen jarang diajak melihat dampak jangka panjang dari pilihan material yang mereka gunakan.

Kondisi ini diperparah oleh absennya intervensi kebijakan yang berpihak. Petani kayu dibiarkan berhadapan langsung dengan mekanisme pasar yang tidak adil. Tidak ada jaminan harga, tidak ada insentif untuk meningkatkan kualitas kayu, dan minim akses terhadap teknologi pengolahan yang bisa meningkatkan nilai tambah.

Akibatnya, mereka hanya menjadi pemasok bahan mentah dengan margin tipis, sementara rantai keuntungan dinikmati oleh pihak lain.

Padahal, jika dikelola dengan serius, kayu rakyat masih punya peluang untuk bersaing. Inovasi dalam pengolahan, seperti kayu rekayasa atau desain konstruksi modern berbasis kayu, bisa menjadi jalan tengah antara tradisi dan efisiensi.

Edukasi kepada konsumen juga penting, bahwa kayu tidak selalu identik dengan mahal atau tidak tahan lama. Namun semua itu membutuhkan dukungan sistemik, bukan sekadar inisiatif individu.

Yang paling mengkhawatirkan adalah dampak jangka panjangnya. Jika petani kehilangan insentif untuk menanam kayu, maka hutan rakyat akan menyusut. Lahan bisa beralih fungsi menjadi komoditas jangka pendek yang lebih cepat menghasilkan, tetapi kurang ramah lingkungan. Dalam jangka panjang, kita tidak hanya kehilangan sumber ekonomi desa, tetapi juga kehilangan penyangga ekologi yang penting.

Maka, kemenangan galvalum dan beton bukan sekadar soal perubahan material bangunan. Ia mencerminkan arah pembangunan yang terlalu memuja kecepatan dan efisiensi, tetapi abai pada keadilan sosial dan keberlanjutan.

Petani kayu tumbang bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena sistem tidak memberi ruang bagi mereka untuk bertahan.

Pertanyaannya sederhana namun mendasar, apakah kita rela menukar keberlanjutan dan keadilan dengan kenyamanan jangka pendek?

Jika jawabannya ya, maka tumbangnya petani kayu hanyalah awal dari krisis yang lebih besar.