Tanggal 1 April 2026 kemarin rasanya seperti April Mop yang kelewat serius. Pemerintah, lewat Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, tiba-tiba menganjurkan WFH satu hari dalam seminggu. Satu hari saja. Bukan full remote, bukan juga hybrid ala startup Jakarta Selatan. Cuma sehari. Tapi tetap saja, ini cukup untuk bikin banyak pekerja kantoran berhenti sejenak dari rutinitas absen pagi sambil bertanya dalam hati: “Ini beneran boleh kerja pakai celana pendek?”
WFH sehari ini, kalau dipikir-pikir, memang seperti kompromi khas Indonesia. Tidak terlalu progresif, tapi juga tidak mau ketinggalan zaman. Di satu sisi, pemerintah ingin terlihat adaptif dengan tren global. Di sisi lain, kita semua tahu budaya kerja kita masih sangat percaya bahwa orang yang duduk manis di kantor dari pagi sampai sore adalah definisi produktivitas yang paling sahih.
Padahal, kalau mau jujur, yang bikin capek itu sering kali bukan pekerjaannya, tapi perjalanan menuju pekerjaannya. Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, waktu dua sampai empat jam di jalan bukan hal yang aneh. Itu bukan perjalanan, itu ziarah harian. Dan WFH sehari ini seperti memberi satu hari bebas dari “ritual suci” tersebut. Satu hari di mana kita tidak perlu berperang dengan klakson dan kemacetan hanya untuk duduk di kursi yang sama, membuka laptop yang sama, dan mengerjakan tugas yang sama.
Secara teori, ini masuk akal. Orang dikasih sedikit kendali atas hidupnya, stres turun, kerja jadi lebih fokus. Tapi teori selalu terlihat rapi di atas kertas. Begitu sampai di rumah, realitasnya beda. Laptop memang terbuka, tapi kasur ada di sebelah. Deadline memang ada, tapi notifikasi ojek online juga tidak kalah menggoda. Belum lagi godaan klasik: “Ah, rebahan lima menit dulu.” Kita semua tahu, lima menit itu sering kali berkembang menjadi satu episode drama Korea.
Masalahnya bukan di kebijakannya, tapi di kebiasaan. Kita sudah terlalu lama dibesarkan dalam sistem yang mengukur kerja dari kehadiran, bukan hasil. Selama badan terlihat di kantor, seolah-olah semuanya beres. Maka ketika tiba-tiba dikasih ruang untuk bekerja tanpa diawasi langsung, yang muncul bukan cuma kebebasan, tapi juga kebingungan. “Kalau bos nggak lihat, berarti saya tetap kerja atau pura-pura kerja?”
Di sisi lain, perusahaan juga tidak kalah galau. Ada yang mulai mencoba terbuka, tapi masih banyak yang diam-diam berpikir, “Jangan-jangan nanti pada santai semua.” Ini dilema klasik: kepercayaan belum sepenuhnya tumbuh, tapi perubahan sudah di depan mata. Padahal, kalau terus-terusan curiga, ya selamanya kita akan terjebak di pola lama: kerja harus kelihatan capek supaya dianggap serius.
Yang menarik, pemerintah juga sudah kasih batas yang cukup jelas: WFH bukan alasan buat motong gaji atau cuti. Ini penting, karena sering kali kebijakan bagus jadi aneh ketika sampai di level implementasi. Kita semua tahu, kreativitas perusahaan dalam “menginterpretasikan” aturan kadang lebih liar dari ide startup pitch deck.
Dua bulan ke depan akan jadi semacam masa percobaan nasional. Kita seperti sedang ikut eksperimen sosial besar-besaran: apakah orang Indonesia bisa tetap produktif tanpa harus diawasi terus-menerus? Apakah manajer bisa percaya bahwa kerja tidak selalu harus terlihat? Dan yang paling penting, apakah kita bisa menahan diri untuk tidak menjadikan WFH sebagai “hari libur terselubung”?
Pada akhirnya, WFH sehari ini bukan soal kerja dari rumah semata. Ini soal cara kita memandang kerja itu sendiri. Apakah kerja harus selalu identik dengan lelah, macet, dan absen tepat waktu? Atau sebenarnya kerja bisa lebih fleksibel, lebih manusiawi, tanpa kehilangan esensinya?
Mungkin jawabannya tidak akan langsung ketemu dalam dua bulan. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, kita diberi kesempatan untuk mencoba. Kesempatan untuk membuktikan bahwa profesionalisme tidak ditentukan oleh lokasi, tapi oleh tanggung jawab.
Dan kalau pun akhirnya ada yang tetap memilih rebahan lebih lama dari seharusnya, ya itu risiko yang harus ditanggung bersama. Namanya juga perubahan. Selalu ada yang salah paham di awal.
Tapi siapa tahu, dari satu hari WFH ini, kita pelan-pelan belajar satu hal penting: kerja itu tidak harus selalu terasa seperti hukuman. Kadang, cukup dengan tidak kena macet saja, hidup sudah terasa sedikit lebih masuk akal.
Baca Juga
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Di Balik Bendera Besar pada Truk Bantuan: Murni Solidaritas atau Sekadar Pencitraan Global?
-
Kuota Hangus: Kita Beli, tapi Nggak Pernah Punya
-
Upgrade Instan ala Naturalisasi: Jalan Pintas yang Kadang Nggak Sesingkat Itu
-
Bukan Kurang Doa, Tapi Memang Sistemnya yang Gak Rata: Curhat Kelas Proletar
Artikel Terkait
-
Menaker: Pemanfaatan AI Tertinggal, Kemnaker Perkuat Kompetensi Pekerja
-
Lowongan Kerja Kapal Api Group Terkini: 8 Daftar Perusahaan, Lokasi, dan Syarat Lengkap
-
Link Lowongan Pegadaian dan Deadline Pendaftaran, Gratis!
-
Rekrutmen KAI Group Dibuka, Ini Syarat dan Dokumen yang Wajib Kamu Siapkan
-
Link Lowongan Kerja Peruri: Ada 27 Pekerjaan yang Bisa Kamu Lamar
Kolom
-
Cara Menghubungi Dosen yang Benar Tanpa Perlu Menjadi Penjahat Waktu
-
Resonansi Sunyi di Jombang: Sebuah Dialektika Tentang Hidup dan Rasa Cukup
-
Hari Pertama Haid dan Tuntutan Perempuan untuk Tetap Kuat
-
Bukan Generasi Stroberi yang Rapuh, Mungkin Kita yang Terlalu Cepat Menilai
-
Apel Batu di Ujung Tanduk: Cerita Petani di Tengah Perubahan Kota Batu
Terkini
-
Bill Gates dan Obama Mewajibkan Baca Buku Ini! Membedah Rahasia Dominasi Sapiens ala Harari
-
Gaya Casual ke Formal Look, 4 Ide Outfit ala Shin Hae Sun yang Super Chic!
-
Luka yang Tidak Selesai: Membaca Trauma Han Seol-ah dalam Sirens Kiss
-
Bukan Sekadar Label, Aturan Kemenkes Ini Sentil Cara Kita Makan Sehari-hari
-
Dalang Penggedor Pintu Dapur di Malam Takbir Saat Nenek Membuat Wajik