M. Reza Sulaiman | Budi Prathama
Ilustrasi WFH. (Pixabay.com/@ricardorv30)
Budi Prathama

Tanggal 1 April 2026 kemarin rasanya seperti April Mop yang kelewat serius. Pemerintah, lewat Menteri Ketenagakerjaan Yassierli, tiba-tiba menganjurkan WFH satu hari dalam seminggu. Satu hari saja. Bukan full remote, bukan juga hybrid ala startup Jakarta Selatan. Cuma sehari. Tapi tetap saja, ini cukup untuk bikin banyak pekerja kantoran berhenti sejenak dari rutinitas absen pagi sambil bertanya dalam hati: “Ini beneran boleh kerja pakai celana pendek?”

WFH sehari ini, kalau dipikir-pikir, memang seperti kompromi khas Indonesia. Tidak terlalu progresif, tapi juga tidak mau ketinggalan zaman. Di satu sisi, pemerintah ingin terlihat adaptif dengan tren global. Di sisi lain, kita semua tahu budaya kerja kita masih sangat percaya bahwa orang yang duduk manis di kantor dari pagi sampai sore adalah definisi produktivitas yang paling sahih.

Padahal, kalau mau jujur, yang bikin capek itu sering kali bukan pekerjaannya, tapi perjalanan menuju pekerjaannya. Di kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, waktu dua sampai empat jam di jalan bukan hal yang aneh. Itu bukan perjalanan, itu ziarah harian. Dan WFH sehari ini seperti memberi satu hari bebas dari “ritual suci” tersebut. Satu hari di mana kita tidak perlu berperang dengan klakson dan kemacetan hanya untuk duduk di kursi yang sama, membuka laptop yang sama, dan mengerjakan tugas yang sama.

Secara teori, ini masuk akal. Orang dikasih sedikit kendali atas hidupnya, stres turun, kerja jadi lebih fokus. Tapi teori selalu terlihat rapi di atas kertas. Begitu sampai di rumah, realitasnya beda. Laptop memang terbuka, tapi kasur ada di sebelah. Deadline memang ada, tapi notifikasi ojek online juga tidak kalah menggoda. Belum lagi godaan klasik: “Ah, rebahan lima menit dulu.” Kita semua tahu, lima menit itu sering kali berkembang menjadi satu episode drama Korea.

Masalahnya bukan di kebijakannya, tapi di kebiasaan. Kita sudah terlalu lama dibesarkan dalam sistem yang mengukur kerja dari kehadiran, bukan hasil. Selama badan terlihat di kantor, seolah-olah semuanya beres. Maka ketika tiba-tiba dikasih ruang untuk bekerja tanpa diawasi langsung, yang muncul bukan cuma kebebasan, tapi juga kebingungan. “Kalau bos nggak lihat, berarti saya tetap kerja atau pura-pura kerja?”

Di sisi lain, perusahaan juga tidak kalah galau. Ada yang mulai mencoba terbuka, tapi masih banyak yang diam-diam berpikir, “Jangan-jangan nanti pada santai semua.” Ini dilema klasik: kepercayaan belum sepenuhnya tumbuh, tapi perubahan sudah di depan mata. Padahal, kalau terus-terusan curiga, ya selamanya kita akan terjebak di pola lama: kerja harus kelihatan capek supaya dianggap serius.

Yang menarik, pemerintah juga sudah kasih batas yang cukup jelas: WFH bukan alasan buat motong gaji atau cuti. Ini penting, karena sering kali kebijakan bagus jadi aneh ketika sampai di level implementasi. Kita semua tahu, kreativitas perusahaan dalam “menginterpretasikan” aturan kadang lebih liar dari ide startup pitch deck.

Dua bulan ke depan akan jadi semacam masa percobaan nasional. Kita seperti sedang ikut eksperimen sosial besar-besaran: apakah orang Indonesia bisa tetap produktif tanpa harus diawasi terus-menerus? Apakah manajer bisa percaya bahwa kerja tidak selalu harus terlihat? Dan yang paling penting, apakah kita bisa menahan diri untuk tidak menjadikan WFH sebagai “hari libur terselubung”?

Pada akhirnya, WFH sehari ini bukan soal kerja dari rumah semata. Ini soal cara kita memandang kerja itu sendiri. Apakah kerja harus selalu identik dengan lelah, macet, dan absen tepat waktu? Atau sebenarnya kerja bisa lebih fleksibel, lebih manusiawi, tanpa kehilangan esensinya?

Mungkin jawabannya tidak akan langsung ketemu dalam dua bulan. Tapi setidaknya, untuk pertama kalinya, kita diberi kesempatan untuk mencoba. Kesempatan untuk membuktikan bahwa profesionalisme tidak ditentukan oleh lokasi, tapi oleh tanggung jawab.

Dan kalau pun akhirnya ada yang tetap memilih rebahan lebih lama dari seharusnya, ya itu risiko yang harus ditanggung bersama. Namanya juga perubahan. Selalu ada yang salah paham di awal.

Tapi siapa tahu, dari satu hari WFH ini, kita pelan-pelan belajar satu hal penting: kerja itu tidak harus selalu terasa seperti hukuman. Kadang, cukup dengan tidak kena macet saja, hidup sudah terasa sedikit lebih masuk akal.