Ada satu hal yang dulu terasa sangat nyata: bunyi krecek uang di dompet. Entah itu receh yang berisik atau lembaran ribuan yang dilipat seadanya, semuanya punya “rasa”. Ada sensasi ketika kita mengeluarkan uang, sedikit perih, sedikit mikir. Sekarang? Yang berbunyi bukan lagi dompet, tapi notifikasi: “Pembayaran berhasil.” Dan anehnya, rasa perih itu ikut hilang.
Beberapa tahun terakhir, hidup kita diam-diam berubah. Dari yang awalnya ribet bawa uang tunai, sekarang cukup modal satu smartphone. Mau beli kopi, tinggal scan. Mau bayar ojek, tinggal klik. Mau lapar tengah malam? Tinggal pesan, bayar belakangan, atau malah pakai promo biar terasa “hemat”, padahal ya tetap keluar uang juga.
Buat mahasiswa, ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Hidup praktis, tidak perlu repot cari kembalian, dan yang paling penting: semuanya terasa cepat. Terlalu cepat, malah. Dulu, sebelum beli sesuatu, kita sempat berhenti sebentar. Minimal mikir, “Uang di dompet cukup tidak, ya?” Sekarang pertanyaannya berubah jadi, “Masih bisa bayar tidak?” Dan seringnya, jawabannya selalu: bisa. Entah dari saldo e-wallet, paylater, atau kartu yang entah kapan bayarnya.
Hilangnya Jeda dan Kesadaran Bertransaksi
Masalahnya bukan di teknologinya. Jujur saja, sistem cashless ini memang memudahkan hidup. Kita jadi lebih efisien, lebih praktis, dan (katanya) lebih aman. Tidak ada lagi cerita uang jatuh di jalan atau hilang di saku. Tapi justru karena terlalu mudah, kita jadi kehilangan satu hal penting: kesadaran. Uang yang dulu punya bentuk, sekarang cuma angka. Dan angka itu tidak terasa apa-apa.
Coba ingat terakhir kali kamu beli sesuatu secara impulsif. Mungkin awalnya cuma lihat promo diskon 50 persen. Lalu mikir, “Lumayan, mumpung murah.” Padahal sebelumnya tidak butuh-butuh amat. Tapi karena prosesnya cuma butuh beberapa detik, transaksi pun terjadi. Selesai. Tidak ada drama. Padahal kalau situasinya beda, misalnya harus bayar pakai uang tunai, bisa jadi kamu akan mikir dua kali. Atau bahkan tiga kali. Karena ada momen jeda. Ada waktu untuk mempertimbangkan. Dan yang paling penting, ada rasa “kehilangan” ketika uang itu benar-benar berpindah tangan.
Godaan di Balik Notifikasi
Di dunia digital, jeda itu hampir tidak ada. Ditambah lagi, kita hidup di era yang sangat doyan menggoda. Notifikasi promo muncul terus, cashback di mana-mana, diskon seolah tidak pernah habis. Kita seperti sedang berjalan di lorong penuh papan reklame yang semuanya bilang: “Beli sekarang juga.” Dan anehnya, kita sering menurut. Bukan karena butuh, tapi karena tergoda.
Lalu muncul fenomena yang cukup sering dirasakan: uang terasa lebih cepat habis, padahal merasa tidak beli banyak. Ini bukan ilusi. Ini kombinasi dari transaksi kecil yang terjadi berulang-ulang tanpa kita sadari. Beli kopi, pesan makanan, langganan aplikasi, ongkir, dan lain-lain. Nominalnya mungkin kecil, tapi kalau dikumpulkan, ya lumayan bikin kaget. Yang lebih menarik, banyak dari kita tidak benar-benar mencatat pengeluaran. Kita mengandalkan feeling. Selama saldo masih ada, ya lanjut saja. Sampai suatu hari buka aplikasi, lalu kaget sendiri: “Lho, kok tinggal segini?”
Menciptakan Jeda Sendiri
Di titik itu, biasanya kita mulai menyalahkan banyak hal. Promo terlalu menggoda, aplikasi terlalu canggih, atau bahkan keadaan yang “memaksa”. Padahal kalau mau jujur, kita juga punya peran besar di situ. Bukan berarti cashless itu musuh. Justru sebaliknya, ini adalah alat yang sangat membantu. Masalahnya bukan di alatnya, tapi di cara kita menggunakannya.
Karena pada akhirnya, uang tetaplah uang, mau bentuknya kertas atau angka di layar. Bedanya cuma satu: yang satu bisa kita rasakan, yang satu lagi harus kita sadari. Dan di era seperti sekarang, kesadaran itu jadi mahal. Mungkin solusinya bukan kembali ke zaman dompet tebal berisi uang tunai. Tapi setidaknya, kita perlu menciptakan “jeda” sendiri. Entah dengan mulai mencatat pengeluaran, membatasi penggunaan aplikasi tertentu, atau sekadar bertanya sebelum membeli: “Ini butuh atau cuma pengin?”
Karena kalau tidak, kita akan terus hidup dalam ilusi bahwa semuanya terkendali, padahal saldo diam-diam sudah menipis. Dan seperti biasa, kita baru sadar setelah semuanya terlambat.
Baca Juga
-
Niat Jahat yang Tidak Sampai: Ketika Hukum Tidak Selalu Perlu Ikut Panik
-
Uang Tidak Bisa Membeli Kebahagiaan Adalah Kebohongan Terbesar yang Kita Percaya
-
Menonton Sirkus Kemiskinan: Sisi Gelap Konten Sedekah di Media Sosial
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
-
Dompet Kelas Menengah Lagi Kering, Alarm Bahaya Buat Ekonomi?
Artikel Terkait
-
Survei Ipsos 2026: Koneksi ke Platform Belanja Online Kini Jadi Alasan Orang Pilih Bank Digital
-
Rupiah Ambruk, Konsumen Ramai-ramai Beralih ke Produk China
-
Dari Cari Barang hingga Bayar, AI Kini Mulai Bisa 'Belanja' Sendiri
-
Dompet Kosong Guru Honorer dan Nurani yang Ikut Terkoyak
-
Anggaran Dipangkas, Dapur Tak Ngebul: Jeritan Seniman Jogja hingga Sarjana Menganggur
Kolom
-
Kurs Dollar Mencekik? Mari Selamatkan Ekonomi Lewat Wisata Dalam Negeri
-
Kasus Nadiem Makarim Bisa Jadi Alarm Bahaya bagi Profesional yang Ingin Mengabdi pada Negara
-
Bijak Menggunakan Paylater: Kunci Kemudahan Hidup atau Jebakan Konsumtif?
-
Dibalik Tuntutan Rp5,6 T Nadiem Makarim: Saat Inovasi Digital Berujung di Kursi Pesakitan
-
Tuntutan 18 Tahun Nadiem: Angka Keadilan atau Pesan Politik yang Brutal?
Terkini
-
Black Showman, Novel Misteri Cerdas dengan Twist Tak Terduga
-
Vakum 7 Bulan, Program Musik Mingguan 'The Show' Umumkan Kembali Tayang
-
20 Episode Penuh Teror Mouse: Saat Monster Tak Selalu Berwajah Seram
-
Ulasan Film Semua Akan Baik-baik Saja: Refleksi Indah tentang Arti Keluarga
-
Melongok ke Dalam Gelapnya Depresi Lewat No Longer Human karya Osamu Dazai