Pernah nggak sih kamu lagi scroll TikTok, terus nemu video seorang kakek yang hidupnya jelas nggak mudah, duduk di pinggir jalan, lalu tiba-tiba ada orang datang kasih uang? Kameranya dekat banget, nyaris nempel ke wajah si kakek. Musiknya? Jangan tanya—pasti piano sendu yang bikin hati auto melow. Beberapa detik kemudian, kakeknya nangis. Dan seperti yang sudah bisa ditebak, kolom komentar langsung penuh dengan “MasyaAllah”, “semoga rezekinya dilipatgandakan”, dan emoji (menangis) bertebaran.
Sekilas, ini kelihatan seperti kebaikan. Tapi kalau dipikir lebih lama, ada yang agak ganjil. Kok ya pas banget momen harunya? Kok framing-nya rapi? Kok ekspresinya seolah “ditungguin”? Lama-lama muncul pertanyaan yang agak nggak enak: ini bantu orang, atau lagi bikin konten?
Di titik itu, kemiskinan pelan-pelan berubah fungsi. Bukan lagi masalah sosial yang butuh solusi bareng-bareng, tapi jadi semacam bahan baku. Iya, bahan baku konten. Penderitaan orang lain dipoles, dikasih musik, dikemas, lalu dilempar ke timeline kita. Hasil akhirnya? Engagement naik, followers nambah, dan si pembuat konten dapat citra sebagai manusia paling dermawan se-Indonesia Raya.
Masalahnya, dalam skenario ini, siapa sih yang sebenarnya jadi tokoh utama? Bukan si kakek. Bukan si ibu yang jualan di pinggir jalan. Mereka cuma figuran. Properti. Yang penting bukan kehidupan mereka berubah, tapi momen “memberinya” terlihat dramatis.
Kalau mau agak serius dikit, ini sebenarnya bertabrakan dengan ide klasik: manusia itu seharusnya jadi tujuan, bukan alat. Tapi di konten-konten model begini, justru kebalik. Orang yang lagi kesusahan dijadikan alat untuk membangun narasi “gue orang baik”. Dan yang bikin nggak nyaman, relasi kuasanya timpang banget. Orang yang lagi butuh uang ya mana mungkin nolak kamera? Mau bilang “jangan direkam” juga rasanya nggak enak, wong lagi dikasih bantuan.
Akhirnya, persetujuan yang terlihat itu jadi agak semu. Mereka setuju bukan karena benar-benar nyaman, tapi karena nggak punya banyak pilihan.
Yang lebih menarik lagi, bukan cuma pembuat kontennya yang “terlibat”. Kita sebagai penonton juga ikut main peran. Kita nonton sampai habis, kita like, kita komen “Amin”. Dan anehnya, setelah itu ada rasa lega. Seolah-olah kita sudah ikut berbuat baik, padahal ya… kita cuma nonton.
Ini yang bisa dibilang sebagai kepuasan moral instan. Nggak perlu turun tangan, nggak perlu mikir panjang soal kenapa kemiskinan itu ada. Cukup scroll, tersentuh, terus lanjut ke video berikutnya. Praktis, cepat, dan—jujur aja—agak bikin nagih.
Dampaknya pelan-pelan terasa. Kita jadi terbiasa melihat kemiskinan dalam versi yang “cantik”—yang ada musiknya, ada klimaksnya, ada ending harunya. Padahal di dunia nyata, kemiskinan itu nggak sinematis. Nggak ada backsound, nggak ada cut scene, dan jelas nggak selesai dalam satu video berdurasi satu menit.
Lebih parah lagi, fokus kita jadi bergeser. Harusnya kita marah pada sistem yang bikin orang susah, tapi malah sibuk mengagumi individu yang bagi-bagi uang di depan kamera. Kita jadi lebih hafal nama kreatornya daripada akar masalahnya.
Di sisi lain, muncul juga fenomena yang agak ironis: kebaikan jadi butuh bukti. Seolah-olah kalau nggak direkam, ya nggak terjadi. Ada semacam kecemasan baru—“ngapain bantu kalau nggak bisa di-upload?” Dan di situ, ketulusan mulai goyah.
Empati yang dulu sederhana—lihat orang susah, bantu semampunya—sekarang jadi lebih ribet. Harus mikir angle kamera, lighting, bahkan timing biar dramatis. Kebaikan berubah jadi semacam produksi kecil-kecilan.
Padahal, mungkin kita perlu balik ke hal yang lebih sederhana: membantu tanpa perlu penonton. Nggak semua hal harus jadi konten. Nggak semua momen harus dibagikan.
Karena pada akhirnya, membantu orang lain itu bukan soal siapa yang paling terlihat baik. Tapi soal menjaga martabat orang yang kita bantu. Dan kadang, cara paling manusiawi untuk melakukan itu adalah… dengan tidak menyalakan kamera sama sekali.
Baca Juga
-
Pesantren dan Masa Depan Karakter Bangsa: Jangan-jangan Ini Jawabannya
-
Dompet Kelas Menengah Lagi Kering, Alarm Bahaya Buat Ekonomi?
-
Prabowo, Reformasi yang Capek, dan Mimpi Orde Transformasi
-
Tertimpa Kasus Bukan Kiamat: Cara Perusahaan Bangkit dari Krisis
-
PPN Naik, UMKM Diuji: Disuruh Kuat atau Dibiarkan Sekarat?
Artikel Terkait
-
Sebar Propaganda Lewat Medsos, Densus 88 Tangkap 8 Terduga Teroris Jaringan JAD di Sulteng!
-
Di Era Flexing, Hidup Sederhana Malah Terlihat Memalukan
-
60 Juta Rakyatnya Hidup Miskin, Kok Bisa Negara Ini Lolos ke Piala Dunia 2026?
-
Validasi di Media Sosial: Kebutuhan atau Ketergantungan yang Tak Disadari?
-
Setop Jadi Konten Kreator Saat Tugas, Mabes Polri Larang Anggota Live Streaming di Medsos!
Kolom
-
Tren Sujud Freestyle Berujung Petaka: Alarm Keras Dunia Pendidikan
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
Rumah yang Tak Pernah Selesai Dibangun: Catatan Luka Seorang Anak Perempuan Fatherless
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
Terkini
-
5 TWS Suara Paling Jernih 2026, Detail Musiknya Bikin Nagih
-
Fashion is Art, Intip Sederet Konsep Anggota BLACKPINK di Met Gala 2026
-
Bukan Hanya Pembalap, Tim Tech3 Juga Tentukan Nasib untuk Tahun 2027
-
4 Rekomendasi Double Sleeve Tee 100 Ribuan, Cocok untuk Hangout dan Konser!
-
Di Bawah Bendera Merah: Tentang Harga Diri dan Pahit Getir Kehidupan