Kalau dipikir-pikir, kebiasaan finansial yang sehat memang sering terasa membosankan. Itu juga yang saya rasakan selama beberapa bulan terakhir. Tidak ada sensasi “wah” ataupun kepuasan instan yang biasanya hanya muncul sesaat. Tapi justru di situlah letak tantangannya.
Baru-baru ini, saya menonton sebuah podcast di kanal YouTube Ninda Fer yang membahas tentang 10 kebiasaan membosankan agar bisa menabung hingga 50% dari gaji. Jujur saja, sebagian besar pembahasannya terasa tidak asing, terutama bagi saya yang selama ini mencoba menerapkan strategi “karet gelang” dalam mengatur keuangan.
Namun, di tulisan ini saya hanya akan membahas beberapa poin yang terasa relevan dengan pengalaman pribadi saya.
Salah satu yang paling dekat adalah konsep pay yourself first. Selama ini, banyak orang menabung dari sisa uang di akhir bulan. Tapi kenyataannya, tanpa batasan yang jelas, uang sering kali habis sebelum sempat disisihkan.
Karena itu, penting untuk “mengikat” tabungan sejak awal. Dengan konsep ini, kita menyisihkan sebagian gaji ke rekening terpisah begitu gajian, lalu baru menggunakan sisanya untuk kebutuhan sehari-hari.
Menabung di awal gaji masuk juga berarti kita mulai menganggap tabungan sebagai sebuah “tagihan”. Sama seperti listrik, wifi, atau kontrakan yang harus dibayar setiap bulan, tabungan pun perlu diperlakukan dengan keseriusan yang sama.
Contoh sederhananya: jika di suatu bulan saya tidak berhasil mencapai target menabung, artinya saya harus melakukan evaluasi. Mungkin perlu penyesuaian di pengeluaran, atau memperbaiki strategi di bulan berikutnya. Dengan cara ini, saya tetap menjaga konsistensi tanpa merasa terbebani secara berlebihan.
Awalnya, saya juga sempat merasa khawatir dan takut tidak cukup, apalagi dengan gaji yang bisa dibilang masih “imut”. Tapi saya tetap mencoba. Dan justru dari situ, saya mulai belajar lebih berhati-hati dalam menggunakan uang. Bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja sendiri, tapi melakukannya dengan batasan yang sudah dipertimbangkan sebelumnya.
Perubahan lain yang saya rasakan adalah cara saya melihat keinginan. Setiap kali ingin membeli sesuatu, saya jadi lebih banyak mempertimbangkan. Ini juga sejalan dengan poin yang dibahas Ninda Fer tentang menunda pembelian selama tiga hari.
Sekarang, ketika menemukan barang yang saya inginkan tapi tidak mendesak, saya hanya memasukkannya ke keranjang dan membiarkannya selama beberapa hari. Menariknya, sering kali keinginan itu hilang dengan sendirinya. Dari situ saya sadar, ternyata tidak semua yang kita inginkan benar-benar kita butuhkan.
Poin lain yang cukup “menampar” adalah tentang live below your means (hidup di bawah kemampuan). Fenomena yang sering terjadi adalah ketika penghasilan naik, gaya hidup ikut naik.
Di sinilah saya merasa konsep ini sangat berkaitan dengan filosofi karet gelang yang pernah saya tulis sebelumnya. Ketika penghasilan meningkat, godaannya adalah menarik karet itu lebih jauh dan menaikkan standar hidup sebagai bentuk “reward”. Padahal, jika terus dilakukan, karet itu bisa kehilangan elastisitasnya, bahkan berisiko putus.
Hal ini mengingatkan saya pada pernyataan Theo Derick yang cukup mengena: “Harga yang harus kita bayar untuk menjadi kaya adalah dengan tidak terlihat kaya.” Dia menyebutkan ketika kita terus “memberi makan” gaya hidup, di saat yang sama kita sebenarnya sedang mengorbankan peluang untuk menabung atau berinvestasi.
Kebiasaan lain yang Ninda bahas dalam podcast-nya, seperti: investasi, menghindari cicilan barang yang nilainya stagnan, menghitung harga per jam dari diri kita, hingga mendesain lingkungan, pada akhirnya mengarah pada satu hal yang sama: konsistensi dalam melakukan kebiasaan kecil yang terlihat remeh dan membosankan. Tapi justru dari kebosanan itulah, kestabilan bisa perlahan dibangun.
Baik Ninda Fer, Theo Derick, maupun perspektif yang pernah saya pelajari sebelumnya sama-sama menekankan hal ini: menjaga agar pengeluaran tetap stabil meskipun pendapatan meningkat. Tujuannya sederhana, yaitu: agar selisih antara pemasukan dan pengeluaran tetap lebar.
Sebab kunci dari semuanya bukan terletak pada seberapa besar penghasilan kita, melainkan seberapa mampu kita menahan diri untuk tidak terus menarik “karet” itu ke arah gaya hidup.
Baca Juga
-
Bawa Tas Belanja Sendiri: Langkah Sederhana untuk Memulai Gaya Hidup Less Waste
-
Saat Impian ke Tanah Suci Berujung Nestapa: Di Mana Letak Tanggung Jawab Influencer?
-
Sila Kelima Pancasila: Mengapa Keadilan Masih Terasa Begitu Jauh dari Jangkauan?
-
Drama The Scarecrow dan Potret Kegagalan Sistem Hukum dalam Kasus Hwaseong
-
Saat Semua Orang Ingin Didengar, Pancasila Mengajarkan Kita untuk Mendengar
Artikel Terkait
Kolom
-
Kenapa Gen Z Makin Jarang Memasak? Ini Dampak Tersembunyi di Baliknya
-
Pakai AI untuk Lambang Negara, BRIN Terjebak Kesalahan Fatal yang Tak Termaafkan?
-
Masakan Sering Terbuang, Meal Planning Jadi Solusi Tepat?
-
Bawa Tas Belanja Sendiri: Langkah Sederhana untuk Memulai Gaya Hidup Less Waste
-
Ketika Anak Zaman Sekarang Lebih Nurut pada ChatGPT ketimbang Nasihat Emak
Terkini
-
Sukses dengan Live-Action, Manga Gifted Resmi Diadaptasi Jadi Anime 2027!
-
"Anak Saya Sehat, Perlu Vaksin?" Ini Alasan Mengapa Anggapan Itu Bisa Berbahaya
-
Woody dan Buzz Kini Bisa Dipakai di Kaki, Kolaborasi Adidas x Toy Story 5!
-
Antidot Budaya Konsumtif: Mengapa Mahakarya Tolstoy Tahun 1886 Semakin Relevan Sekarang?
-
Teror Tanpa Jumpscare Berlebihan, 'Kucing Hitam' Buktikan Horor Atmosferik Lebih Mengerikan