Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Ilustrasi pengisian BBM (Unsplash/@visualbywahyu)
Oktavia Ningrum

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 18 April 2026 kembali memantik perbincangan publik. Sejumlah jenis BBM non-subsidi mengalami lonjakan signifikan: Pertamax Turbo (RON 98) naik menjadi Rp19.400 per liter dari sebelumnya Rp13.100, Dexlite melonjak ke Rp23.600 dari Rp14.700, dan Pertamina Dex kini berada di angka Rp23.900 per liter dari Rp14.500.

Sementara itu, Pertamax (RON 92) masih bertahan di Rp12.300 per liter. Di tengah situasi ini, sebagian masyarakat justru merasa lega karena Pertalite atau BBM subsidi yang banyak digunakan tidak ikut naik.

Namun, rasa syukur ini perlu dikaji ulang. Dalam logika ekonomi, terutama dalam sektor energi, perubahan harga pada satu jenis komoditas hampir selalu menimbulkan efek berantai. Apa yang tampak seperti kabar baik hari ini bisa menjadi masalah baru dalam waktu dekat.

Ketika harga BBM non-subsidi seperti Pertamax Turbo dan Dexlite melonjak tajam, konsumen akan cenderung mencari alternatif yang lebih murah. Ini adalah respons rasional. Pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan BBM dengan kualitas lebih tinggi kemungkinan besar akan beralih ke Pertamax atau bahkan Pertalite.

Perpindahan ini bukan sekadar perubahan pilihan individu, tetapi akumulasi dari jutaan keputusan serupa yang pada akhirnya meningkatkan permintaan secara drastis.

Di sinilah efek domino mulai bekerja. Lonjakan permintaan terhadap BBM yang lebih murah akan menekan ketersediaan. Jika distribusi tidak mampu mengimbangi peningkatan konsumsi, maka potensi kelangkaan menjadi nyata.

Dalam kondisi seperti itu, pemerintah dihadapkan pada dua pilihan sulit: menambah subsidi yang membebani anggaran negara, atau menyesuaikan harga agar tetap stabil secara fiskal. Kedua opsi ini memiliki konsekuensi besar.

Lebih jauh lagi, perubahan pola konsumsi BBM juga berdampak pada sektor lain. Distribusi barang, biaya logistik, hingga harga kebutuhan pokok sangat bergantung pada stabilitas harga energi.

Ketika pelaku usaha harus menyesuaikan biaya operasional akibat perubahan harga BBM, beban tersebut pada akhirnya akan diteruskan ke konsumen. Artinya, meskipun Pertalite tidak naik hari ini, bukan berarti masyarakat terbebas dari tekanan ekonomi.

Narasi yang berkembang di masyarakat bahwa tidak naiknya Pertalite adalah “kemenangan” perlu dilihat secara lebih kritis. Dalam jangka pendek, memang terasa melegakan. Namun dalam jangka menengah dan panjang, tekanan terhadap BBM subsidi justru bisa semakin besar.

Ketika semakin banyak orang beralih ke BBM subsidi, maka beban negara untuk mempertahankan harga tersebut juga meningkat. Ini bukan situasi yang bisa dipertahankan selamanya.

Selain itu, ada aspek keadilan yang juga perlu dipertimbangkan. BBM subsidi seharusnya ditujukan untuk kelompok masyarakat yang benar-benar membutuhkan. Namun dalam praktiknya, perpindahan dari pengguna BBM non-subsidi ke subsidi bisa menciptakan distorsi. Mereka yang sebelumnya mampu membeli BBM lebih mahal kini ikut “berebut” sumber daya yang seharusnya dilindungi untuk kelompok rentan.

Penting untuk memahami bahwa kebijakan energi tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan erat dengan kondisi global, nilai tukar, harga minyak dunia, serta kapasitas fiskal negara. Oleh karena itu, reaksi publik seharusnya tidak berhenti pada perasaan lega atau marah semata, tetapi juga diiringi dengan pemahaman yang lebih utuh.

Alih-alih sekadar bersyukur karena satu jenis BBM tidak naik, masyarakat perlu melihat gambaran besarnya. Kenaikan harga pada jenis BBM lain adalah sinyal bahwa tekanan di sektor energi sedang meningkat.

Jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat dan kesadaran kolektif, efek domino yang ditimbulkan bisa jauh lebih besar dari yang dibayangkan.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan yang responsif, tetapi juga literasi publik yang lebih baik. Memahami bagaimana satu keputusan ekonomi bisa berdampak luas adalah langkah awal untuk bersikap lebih bijak.

Karena dalam kasus BBM, yang terlihat tenang di permukaan sering kali menyimpan gelombang besar di bawahnya.