Hikmawan Firdaus | afifatun khuzaemah
ilustrasi belanja secara berlebihan (gemini ai)
afifatun khuzaemah

Sobat yoursay, siapa yang pernah jadi korban paket bundling skincare? Toss! Kita sama! Suatu waktu saya memang sedang kehabisan skincare, singkat cerita berakhirlah saya di sebuah toko online produk skincare yang biasa dipakai. Setelah berhasil mengeranjangi produk tersebut, saya masih lanjut scroll dan justru mendapati paket bundling dengan dua buah produk yang sama tapi dengan harga yang lebih miring. Setelah melakukan perbandingan dan pertimbangan, akhirnya saya membeli paket tersebut. 

Namun, alih-alih merasa tenang karena tidak perlu takut kehabisan skincare lagi dan berhasil menghemat pengeluaran, saya justru dihantui bayang-bayang tanggal kadaluarsa produk. Ternyata produk yang saya beli memiliki tanggal kadaluarsa sekitar enam bulan lagi. Sedangkan saya biasanya butuh tiga sampai empat bulan untuk menghabiskan satu buah produk. 

Sering kali kita terjebak dengan paket-paket bundling seperti itu dengan dalih lebih murah dan hemat. Lalu mengesampingkan tanggal kadaluarsa dan isi produk. Bukan hanya itu, saat sedang beberes meja rias saya mendapati banyak produk makeup yang ternyata juga sudah lewat tanggal kadaluarsa dengan isi yang masih banyak.

Kita sering kali lupa atau kurang teliti, bahwa produk skincare dan kosmetik, apalagi yang jenis paket bundling seperti di atas biasanya memang memiliki masa pakai yang jauh lebih singkat. Hal itu biasanya dilakukan untuk menekan angka kerugian. 

Namun, hal tersebut hanya memindahkan permasalahannya saja, bukan menghilangkannya. Pada dasarnya tanggal kadaluarsa tetap sama. Sehingga pada akhirnya produk yang tidak sempat digunakan akan menjadi sampah yang baru dipakai sedikit bahkan kadang tanpa pernah dipakai sekalipun, dan yang lebih menyedihkannya uang kita juga ikut terbuang sia-sia karenanya. 

Beli barang sesuai kebutuhan, bukan sesuai tren mingguan 

Menurut saya hal yang paling penting untuk dilakukan sebelum berbelanja adalah mengira-ngira barang yang akan dibeli. Apakah barang tersebut memang sangat kita butuhkan? Lalu, jika barang yang dipakai adalah barang yang bisa habis seperti sabun, sampo, dan skincare coba buat perkiraan berapa lama barang tersebut akan habis. Sehingga kita bisa memperkirakan jumlah barang dengan waktu berbelanja, dan kebiasaan menumpuk produk juga bisa dihindari. 

Selain itu, coba untuk tidak mudah membeli barang hanya karena seorang influencer atau orang terkenal lainnya juga memakai produk tersebut. Coba untuk lebih bijak lagi dengan menilai seberapa butuhnya kita terhadap produk tersebut. Karena apa yang menjadi kebutuhan orang lain, belum tentu menjadi hal yang kita butuhkan juga. 

Kurangi scroll e-comerce, mulailah untuk mengobrol secara langsung! 

Berapa jam waktu yang kalian gunakan untuk menonton video pendek? Apakah jauh lebih lama dari pada berinteraksi dengan orang lain secara langsung? Jika kamu mudah merasa pusing, mungkin hal itu menjadi salah satu penyebabnya. 

Bukan! Saya bukan mau menjelaskannya dari kacamata kesehatan. Hanya saja melihat dan menjadi korban dari halusnya video-video pendek mengubah hidup cukup membuat saya sedikit tersentil. Belum lagi fitur keranjang yang akhir-akhir ini mulai marak disempilkan dalam video singkat tersebut. Memang benar-benar mempermudah hidup, tapi juga menciptakan masalah lain. 

Timbulnya masalah seperti terlilit hutang paylater sudah bukan hal yang asing bagi semua orang, apalagi gen Z. Dengan iming-iming harga yang lebih miring saat menggunakan fitur tersebut untuk checkout barang incaran, siapa yang tidak akan tertarik? Di sinilah peran media sosial menjadi bumerang. Jangan sampai tiba-tiba saldo di rekening berkurang, lalu teror melalui telepon dan pesan singkat mulai bermunculan, tapi baru sadar kemudian. 

Bagaimana jika kita kembali menghidupkan kebiasaan berbelanja di pasar? Alih-alih terlilit paylater, besar kemungkinan kita dapat menawar dengan harga yang masih ramah di kantong. Selain itu skill bersosialisasi kita juga akan lebih terasah bukan? 

Tumbuhkan rasa cukup dulu, karena semuanya tidak harus baru 

Siapa yang bilang barang lama akan selalu kalah dengan barang baru? Mulai sekarang stop pemikiran seperti itu ya, sobat yoursay! 

Contohnya saja saat kalian sudah mulai bosan dengan style kaos oversize, jangan buru-buru beli pakaian lain! Coba kreasikan cara berpakaiannya. Bagaimana jika bagian bawahannya dengan diganti atau ditambah mini skirt, atau coba ikat bajunya biar menjadi ala-ala crop top, atau dengan ditambah aksesoris pendukung lain agar tidak terasa membosankan?

Dengan begitu, satu buah pakaian bisa dikreasikan menjadi banyak model seperti itu diharapkan dapat mengurangi kebiasaan membeli baju, yang akhirnya hanya menjadi limbah tekstil. 

Selain itu, cobalah membeli pakaian, sepatu, atau aksesoris pendukung lain yang bisa masuk ke berbagai acara! Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan kenyamanan ya. Dengan begitu, kemungkinan terjadi tumpukan barang dan membiarkannya tidak terawat akan lebih kecil.

Bagaimana teman-teman, mudah bukan? Dengan kita memulai hal-hal kecil di atas, besar kemungkinan hal-hal yang berkaitan dengan sampah kemasan, sampah produk skincare dan kosmetik, hingga sampah tekstil dapat dikurangi. Bukan hanya harus sadar tentang bahaya dan dampak yang ditimbulkan nantinya, tapi mulai dengan aksi nyata dan sadar tentang apa yang akan dibeli serta dikonsumsi juga bagian dari bentuk menyelamatkan bumi, lingkungan, dan diri kita sendiri.