Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Buku Bungkam Suara karya J.S. Khairen (Gramedia)
Fathorrozi 🖊️

"Saat mereka ingin mengontrol, apa yang boleh dan yang tak boleh kita bahas, saat itulah apa saja agenda mereka jadi mudah masuk ke kepala kita." (J.S. Khairen, Bungkam Suara).

Usai membaca novel Bungkam Suara ini bawaannya jadi gelisah. Gelisah karena merasa sedang membaca kenyataan yang disamarkan dalam bentuk fiksi.

Novel karya J.S. Khairen yang terbit pada 2023 ini menghadirkan kisah distopia politik yang dibalut humor, satire, misteri, aksi, dan kritik sosial yang tajam. Ia bukan sekadar cerita tentang sebuah negara fiktif, melainkan refleksi tentang bagaimana informasi, opini publik, dan kekuasaan dapat saling bertaut membentuk realitas masyarakat.

Sejak halaman-halaman awal, pembaca diperkenalkan pada Negara Kesatuan Adat Lemunesia (NKAL), yang oleh sebagian orang dipelesetkan menjadi Negara Kesatuan Lawaknesia (NAKAL). Nama tersebut bukan sekadar lelucon, melainkan penanda bahwa dunia yang dibangun Khairen penuh sindiran terhadap praktik-praktik politik dan sosial yang sering dijumpai dalam kehidupan nyata.

NKAL adalah negeri yang sangat maju secara teknologi. Kamera pengawas tersebar di mana-mana, transaksi berlangsung secara digital, kendaraan futuristik melintas di jalan-jalan, dan berbagai inovasi canggih menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Namun di balik kemajuan itu tersimpan sebuah paradoks besar, yakni masyarakat tidak benar-benar bebas berbicara.

Di negeri ini, warga hanya memiliki satu hari dalam setahun untuk mengungkapkan kritik, kemarahan, makian, atau pendapat yang selama ini mereka pendam. Hari itu disebut Hari Bebas Bicara.

Premis inilah yang menjadi kekuatan utama novel. Khairen mengajukan pertanyaan sederhana tetapi mengusik pikiran, apa yang terjadi jika kebebasan berbicara hanya diberikan dalam jatah tertentu?

Sinopsis Buku Bungkam Suara

Cerita berpusat pada Jujur Timur atau Timmy, seorang mantan asisten dosen yang kehidupannya berubah drastis setelah ayahnya dituduh melakukan kejahatan digital berskala nasional. Sang ayah dituduh mencuri uang masyarakat melalui kejahatan siber dan akhirnya dipenjara serta dimiskinkan.

Akibat kasus tersebut, keluarga Timmy menjadi sasaran kebencian publik. Mereka kehilangan harta, status sosial, dan harga diri. Sang ibu tetap yakin bahwa suaminya hanyalah korban konspirasi politik, sementara masyarakat sudah telanjur menghakimi tanpa memberi ruang pembelaan.

Dalam situasi yang semakin sulit, Timmy berusaha mencari kebenaran. Pencariannya membawanya bertemu Prof. Terang Setiawan, sosok yang ternyata memiliki hubungan erat dengan ayahnya. Dari sinilah Timmy memasuki dunia yang selama ini tersembunyi dari pandangan masyarakat biasa.

Ia menemukan fakta bahwa opini publik ternyata tidak selalu terbentuk secara alami. Ada pihak-pihak yang sengaja mengatur isu, membangun narasi, menciptakan musuh bersama, bahkan mengendalikan percakapan publik melalui teknologi dan propaganda terkomputasi.

Timmy kemudian direkrut dalam sebuah misi untuk menemukan "durian busuk", yakni pengkhianat yang bersembunyi di antara mereka sebelum Hari Bebas Bicara tiba. Namun semakin jauh ia menyelidiki, semakin banyak rahasia negara yang terbongkar. Ia mulai mempertanyakan apakah Hari Bebas Bicara benar-benar diciptakan untuk menampung aspirasi rakyat atau justru menjadi alat penguasa agar masyarakat sibuk saling menyerang dan melupakan sumber masalah yang sebenarnya.

Alur cerita dalam novel bergerak cepat melalui berbagai aksi pengejaran, pengkhianatan, intrik politik, hingga rentetan plot twist yang membuat pembaca terus mempertanyakan siapa sebenarnya pihak yang benar dan siapa yang sedang memainkan permainan kekuasaan.

Kritik Sosial yang Menjadi Jantung Cerita

Hal paling menonjol dari Bungkam Suara bukanlah petualangan Timmy, melainkan kritik sosial yang berdenyut di balik setiap peristiwa. Khairen menyoroti bagaimana masyarakat modern hidup di tengah banjir informasi tetapi justru semakin mudah dimanipulasi. Media sosial, buzzer, propaganda digital, hoaks, dan polarisasi politik menjadi tema sentral yang terasa sangat relevan.

Novel ini menunjukkan bahwa perang terbesar pada era modern bukan lagi perang senjata, melainkan perang narasi. Masyarakat dibuat sibuk bertengkar mengenai isu-isu tertentu, sementara keputusan-keputusan penting berlangsung tanpa pengawasan publik. Rakyat saling menyerang, saling membenci, dan saling mencurigai, sementara pihak yang memiliki kuasa justru mendapatkan keuntungan dari kekacauan tersebut.

Dalam konteks itulah Bungkam Suara terasa seperti cermin yang memantulkan wajah zaman sekarang.

Relevansi dengan Kondisi Saat Ini

Kekuatan terbesar novel ini terletak pada relevansinya. Di era media sosial, algoritma sering memperkuat kemarahan dan perpecahan. Informasi bergerak lebih cepat daripada verifikasi. Opini lebih mudah viral daripada fakta. Apa yang terjadi di NKAL terasa seperti versi hiperbola dari dunia yang sedang kita jalani saat ini.

Novel ini mengingatkan bahwa kebebasan berbicara bukan hanya soal hak untuk berbicara, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan tidak mudah terjebak dalam permainan narasi.

Pertanyaan yang diajukan Khairen terasa sangat penting, apakah masyarakat benar-benar bebas ketika apa yang mereka lihat, baca, dan percayai sudah terlebih dahulu diarahkan oleh pihak tertentu?

Kelebihan dan Kekurangan Novel

Salah satu kelebihan utama novel ini adalah world-building yang kaya dan unik. NKAL terasa hidup dengan teknologi futuristik, sistem pemerintahan yang kompleks, serta berbagai istilah khas yang membuat dunia fiksinya memiliki identitas kuat.

Selain itu, gaya bahasa Khairen ringan dan komunikatif sehingga tema politik yang berat tetap mudah dipahami. Humor dan satire yang disisipkan juga membuat pembaca tidak merasa sedang membaca buku teori politik.

Alur yang penuh kejutan menjadi nilai tambah lainnya. Banyak peristiwa yang tidak mudah ditebak sehingga menjaga ketegangan hingga akhir cerita. Yang paling penting, novel ini berhasil mengajak pembaca berpikir tanpa terkesan menggurui.

Meski menarik, novel ini bukan tanpa kelemahan. Beberapa singkatan nama kementerian dan institusi terasa terlalu dipaksakan sehingga bisa mengganggu sebagian pembaca. Humor yang berlebihan pada beberapa bagian juga berpotensi mengurangi kesan serius dari isu yang sedang dibahas.

Selain itu, alur cerita yang meloncat-loncat dan kemunculan banyak tokoh dalam waktu relatif singkat dapat membuat pembaca kehilangan fokus. Beberapa misteri dan konflik juga terasa menggantung karena memang disiapkan untuk kelanjutan seri berikutnya.

Terlepas dari kekurangannya, Bungkam Suara adalah novel yang berani, cerdas, dan relevan. Ia menawarkan hiburan sekaligus refleksi sosial yang mendalam. Di balik humor, nama-nama absurd, dan dunia futuristiknya, tersimpan pertanyaan serius mengenai kekuasaan, informasi, dan kebebasan.

Novel ini bukan sekadar kisah tentang Timmy yang mencari kebenaran mengenai ayahnya. Ia adalah kisah tentang masyarakat yang berusaha membedakan antara fakta dan propaganda, antara kebebasan dan ilusi kebebasan.

Setelah menutup halaman terakhir, yang tersisa bukan hanya rasa penasaran terhadap kelanjutan cerita, tetapi juga kegelisahan tentang dunia nyata yang mungkin tidak terlalu berbeda dengan NKAL.

Identitas Buku

  • Judul: Bungkam Suara
  • Penulis: J.S. Khairen (Jombang Santani Khairen)
  • Penerbit: Grasindo (Gramedia Widiasarana Indonesia)
  • Cetakan: I, Januari 2023
  • Tanggal Terbit: 4 Januari 2023
  • Tebal: 366 Halaman
  • ISBN: 978-602-05-2981-3
  • Genre: Fiksi/Novel