Film Jepang punya kemampuan unik dalam hal mengangkat persoalan besar. ‘Renoir’ menjadi salah satu contoh film buatan sutradara sekaligus penulis naskah Chie Hayakawa yang diproduksi Loaded Films bersama Happinet Studios. Film ini menghadirkan kisah yang tampak tenang di permukaan, tapi menyimpan gejolak emosi luar biasa di dalamnya.
Film berdurasi kurang lebih 116 menit ini dibintangi Yui Suzuki sebagai Fuki Okita, Lily Franky sebagai Keiji Okita, Hikari Ishida sebagai Utako Okita, Yuumi Kawai, Ayumu Nakajima, Ryota Bando, dan Hana Hope. Setelah sukses dengan Film Plan 75, Chie Hayakawa kembali menghadirkan drama yang manusiawi lengkap dengan perenungan mendalam.
Setelah menjalani pemutaran perdana dunia di Festival Film Cannes 2025 pada 17 Mei 2025, Renoir melanjutkan perjalanan festivalnya dengan tampil di Toronto International Film Festival (TIFF) 2025 sebagai North American Premiere pada September 2025. Berkisah tentang apa? Kepoin, yuk!
Sinopsis Film Renoir
Berlatar Jepang pada akhir 1980-an, Film Renoir mengikuti kehidupan Fuki Okita, gadis berusia 11 tahun yang memiliki rasa ingin tahu sangat besar terhadap dunia di sekelilingnya. Berbeda dari anak-anak seusianya, Fuki Okita tertarik pada hal-hal yang sering dihindari orang dewasa: kematian, kesedihan, kehilangan, dan berbagai misteri kehidupan.
Di rumah, situasi keluarganya sedang berada di titik yang sulit. Ayahnya, Keiji, menderita kanker yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Sementara itu, ibunya, Utako, berusaha tetap kuat menghadapi tekanan emosional yang semakin berat dari hari ke hari. Di tengah kondisi tersebut, Fuki menjalani hidupnya dengan cara yang unik.
Fuki mengamati orang-orang dewasa di sekitarnya, memperhatikan perubahan sikap mereka, menangkap kebohongan-kebohongan kecil yang mereka sembunyikan, dan mencoba memahami sesuatu yang bahkan orang dewasa sendiri sering gagal jelaskan.
Terkadang Anak-Anak Lebih Memahami Hidup Ketimbang Orang Dewasa
Film Renoir nggak pernah menempatkan Fuki sebagai anak yang harus dilindungi dari kenyataan. Justru sebaliknya. Semakin lama film berjalan, semakin terlihat bahwa Fuki memahami jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan orang-orang di sekitarnya.
Banyak orang dewasa memiliki kebiasaan yang sama: menganggap anak-anak nggak mengerti apa-apa, kan?
Misalnya, ketika terjadi perceraian, anak dianggap terlalu kecil untuk memahami konflik orang tuanya. Saat ada anggota keluarga yang sakit parah, anak dianggap belum cukup dewasa untuk mengetahui kenyataan. Atau tatkala seseorang meninggal, anak sering dijauhkan dari pembicaraan mengenai kematian.
Niatnya mungkin baik. Orang dewasa ingin melindungi anak dari rasa sakit. Masalahnya, perlindungan semacam itu seringkali hanya membuat anak kehilangan informasi, bukan kehilangan kemampuan untuk merasakan.
Anak-anak mungkin nggak memahami istilah medis. Mereka mungkin belum mengerti konsep depresi, kanker stadium lanjut, atau krisis rumah tangga. Namun, mereka tetap bisa membaca suasana, melihat mata yang sembab karena menangis, mendengar nada suara yang berubah, bahkan merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan. Mereka tahu ada sesuatu yang salah. Persis seperti Fuki Okita.
Sepanjang film, Fuki lebih banyak mengamati daripada berbicara. Dari pengamatan itulah dia memahami berbagai hal yang berusaha disembunyikan orang dewasa. Dia mungkin nggak memiliki kosakata yang lengkap untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi, tapi dia menangkap emosinya.
Menurutku, selepas nonton film ini, salah satu kesalahan terbesar yang sering dilakukan orang dewasa dalam kehidupan nyata. Kita terlalu sering menyamakan ketidaktahuan dengan ketidakmampuan memahami. Padahal keduanya berbeda.
Anak mungkin nggak tahu apa itu kanker, tapi dia tahu ayahnya semakin lemah. Anak memang belum mengerti arti perceraian, tapi tahu rumahnya nggak lagi terasa sama. Anak pun barangkali belum memahami konsep kematian secara filosofis, tapi tahu seseorang yang dicintainya nggak akan pulang lagi.
Justru karena belum memiliki bahasa yang cukup untuk menjelaskan perasaannya, banyak anak akhirnya memendam semuanya sendirian. Orang dewasa mengira mereka baik-baik saja karena mereka nggak bertanya. Padahal bisa jadi mereka hanya nggak tahu bagaimana cara bertanya.
Film Renoir menunjukkan betapa orang dewasa seringkali terlalu sibuk dengan penderitaannya sendiri hingga lupa melihat apa yang dirasakan anak-anak. Saat menghadapi penyakit, tekanan ekonomi, atau konflik keluarga, perhatian hanya tertuju pada masalah utama. Akibatnya, anak yang diam di sudut ruangan sering dianggap nggak terpengaruh.
Karena itulah aku melihat Film Renoir bukan sekadar film tentang anak yang menghadapi penyakit ayahnya. Film ini pengingat pada kita, bahwa anak-anak memiliki dunia batin yang jauh lebih kompleks ketimbang yang sering dibayangkan orang dewasa.
Baca Juga
-
Review The East Palace: Menelusuri Akar Teror yang Melampaui Kutukan
-
Mengapa Jadi Superhero di The WONDERfools Bukan Jawaban Permasalahan Hidup?
-
Lastri: Arwah Kembang Desa dan Perempuan yang Selalu Dikambinghitamkan
-
Makin Brutal, Film Evil Dead Burn Makin Kehilangan Jiwa Horornya?
-
Review Film Takkan Kubiarkan Kau Menangis: Hangat, Realistis, dan Bermakna
Artikel Terkait
-
Ogah Pakai AI, Animasi Garuda di Dadaku Gunakan Jasa 500 Animator Lokal Selama 3 Tahun
-
Review Film Masters of The Universe: Adaptasi Modern Franchise Legendaris!
-
Ulasan Film Colony: Sajikan Konsep Zombie Kolektif yang Segar dan Baru!
-
The Doll Malam Ini: Teror Boneka Ghawiah yang Ganggu Kehidupan Denny Sumargo dan Shandy Aulia
-
Knives Out: Daniel Craig Terjebak dalam 'Lubang Donat' Penuh Kebohongan, Malam Ini di Trans TV
Ulasan
-
Mengungkap Pesan Moral Kidung Natal: Perjalanan dari Kikir Menjadi Dermawan
-
Review Every Monday Mabel: Ketika Truk Sampah Jadi Hal Terbaik di Dunia
-
Teach You a Lesson: Drama Aksi Sekolah dengan Kritik Pedas Sistem Pendidikan
-
Membaca Ways to Live Forever: Bagaimana Anak Kecil Melihat Sebuah Kematian?
-
Review Evil Dead Burn: Teror Iblis Necronomicon di Rumah Danau Berdarah!
Terkini
-
4 Browcara Lokal Tahan Keringat untuk Alis Rapi Seharian di Cuaca Panas
-
Literasi Kelas Menengah: Saat Hobi Membaca Menjadi Sebuah Privilege
-
Mengapa Transportasi Umum Jadi Pilihan Terbaik untuk Mobilitas Sehari-hari di Jakarta
-
Awalnya Skeptis, Pengalaman Naik MRT dan LRT Ternyata Jauh Lebih Nyaman dari Dugaan
-
Kenapa Jadi Pepes di KRL Lebih Baik bagi Lingkungan