Saya sering mendengar kalimat ini, bahkan mungkin tanpa sadar pernah menganggapnya biasa: “Perempuan sekarang enak, bisa kerja.” Awalnya memang terdengar seperti pujian, bukti nyata kesetaraan gender sudah on track.
Tapi semakin saya pikirkan, ada sesuatu yang terasa janggal. Karena di balik “kebebasan” itu, ada beban lain yang diam-diam ikut datang dan sering kali tidak dibicarakan. Double burden atau peran ganda menjadi isu yang nyata.
Perempuan hari ini memang bisa bekerja, punya karier, bahkan mandiri secara finansial. Tapi apakah itu berarti beban lama benar-benar hilang? Atau justru bertambah saat urusan domestik juga masih dibebankan pada perempuan?
Dua Peran, Satu Tanggung Jawab
Saya melihat dan merasakan sendiri bagaimana perempuan sering berada di dua dunia sekaligus. Di luar rumah, dituntut profesional, produktif, dan kompeten. Di dalam rumah, tetap diharapkan mengurus semuanya dengan baik.
Masalahnya, dua peran ini sering kali tidak dibagi secara seimbang. Seolah-olah, bekerja adalah “tambahan” bagi perempuan, bukan bagian utama yang juga butuh energi dan waktu. Dan tanpa sadar, perempuan jadi memikul dua beban sekaligus.
Ekspektasi yang Tidak Pernah Benar-benar Hilang
Yang membuat saya heran, ekspektasi terhadap perempuan terasa tidak pernah benar-benar berkurang—hanya berubah bentuk. Dulu, perempuan diharapkan fokus di rumah. Sekarang, perempuan didorong untuk sukses di luar, tapi tetap tidak boleh “melupakan” rumah.
Saya sering melihat bagaimana perempuan yang sibuk bekerja masih ditanya, “Masak masih sempat?” atau “Rumahnya siapa yang urus?” Pertanyaan-pertanyaan ini terlihat sederhana, tapi menyimpan asumsi yang dalam soal tugas domestik.
Ketimpangan yang Dianggap Normal
Hal yang paling mengkhawatirkan adalah bagaimana kondisi ini sering dianggap normal oleh masyarakat. Perempuan yang lelah dianggap wajar. Perempuan yang harus membagi waktu dianggap biasa. Perempuan yang kewalahan sering kali justru disuruh “lebih kuat”.
Padahal, kalau dipikirkan lebih dalam, ini bukan soal kemampuan. Ini soal pembagian peran. Dan ketika pembagian itu tidak seimbang, yang terjadi bukan kekuatan tapi kelelahan yang terus dipendam.
Beban Mental yang Tidak Terlihat
Selain beban fisik, ada satu hal yang sering tidak terlihat: mental load. Perempuan tidak hanya melakukan pekerjaan rumah, tapi juga memikirkan semuanya. Mulai dari hal kecil seperti stok kebutuhan, jadwal harian, hingga hal-hal yang bahkan tidak disadari oleh orang lain.
Saya pun menyadari kalau lelah bukan hanya datang dari apa yang saya lakukan, tapi juga dari apa yang harus saya pikirkan setiap waktu. Dan itu jauh lebih berat.
Antara Pilihan dan Tekanan
Sering kali, perempuan dihadapkan pada pilihan yang sebenarnya bukan pilihan. Mau fokus karier, tapi merasa bersalah pada rumah. Mau fokus rumah, tapi merasa tertinggal secara personal. Seolah-olah, apa pun yang dipilih, selalu ada konsekuensi emosional.
Dan ini membuat saya bertanya: apakah ini benar-benar pilihan, atau hanya bentuk tekanan yang dibungkus dengan kata “kewajiban”? Sayangnya, perjuangan emansipasi belum berhasil menyingkirkan beban emosional ini.
Perubahan Harus Datang dari Kesadaran Bersama
Menurut saya, masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh perempuan. Karena ini bukan soal individu, tapi soal sistem dan pola pikir yang sudah lama terbentuk. Perlu ada kesadaran bahwa rumah adalah tanggung jawab bersama, bukan satu pihak.
Bahwa bekerja bukan “bantuan”, tapi bagian dari kehidupan perempuan itu sendiri. Dan bahwa kelelahan perempuan bukan sesuatu yang harus dianggap normal.
Belajar Mengatur Batas
Di sisi lain, saya juga mulai belajar untuk mengatur batas. Tidak semua hal harus saya lakukan sendiri. Tidak semua ekspektasi harus saya penuhi. Dan tidak semua peran harus dijalankan dengan sempurna.
Ini bukan hal yang mudah, karena ada rasa bersalah yang sering muncul. Tapi perlahan, saya mulai memahami kalau menjaga diri sendiri juga penting. “Kerja iya, urus rumah juga” mungkin terdengar seperti realita yang biasa, tapi jika terus dibiarkan malah bisa menjadi beban yang tidak adil.
Bagi saya, ini bukan soal siapa yang lebih kuat, tapi soal bagaimana peran bisa dibagi dengan seimbang. Karena pada akhirnya, perempuan tidak seharusnya terus-menerus membuktikan diri bisa melakukan semuanya. Kadang yang dibutuhkan bukan kemampuan lebih, tapi pembagian yang adil.
Baca Juga
-
Pergi Bukan Berarti Gagal: Memilih Diri Sendiri dari Jerat Toxic Relationship
-
Saat Perempuan Dipaksa Masuk Standar yang Sama: Cantik Versi Siapa?
-
Sering Canggung Saat Disayang? Ternyata 4 Zodiak Ini Memang Punya 'Alarm' Dingin!
-
Menulis dari Pengalaman: Rahasia Agar Tulisan Kolom Lebih Hidup dan Relate
-
Karier atau Keluarga? Dilema Klasik Perempuan yang Tidak Pernah Tuntas
Artikel Terkait
-
Pergi Bukan Berarti Gagal: Memilih Diri Sendiri dari Jerat Toxic Relationship
-
Saat Perempuan Dipaksa Masuk Standar yang Sama: Cantik Versi Siapa?
-
Kisah Haru Bunda Tiwi di Usia 53: Melahirkan Bayi Pertama Seberat 4,1 Kg
-
Menakar Kemandirian Ekonomi Perempuan RI
-
Lewat Kartini BISA Fest, Telkom Perkuat Peran Perempuan di Era Digital
Kolom
-
Kata Pejabat Sekolah Negeri Itu Gratis? Tapi Fakta di Lapangan Berkata Lain
-
Di Balik Sekolah yang Katanya Gratis, Ada Harga yang Tak Pernah Terlihat
-
Wariskan Kicauan Burung: Mengapa Berburu dengan Senapan Angin Merusak Desa?
-
Ketika Sekolah Gratis Hanya Wacana: Catatan Keprihatinan yang Belum Usai
-
Tugas Online, Biaya Offline: Realita Sekolah Gratis di Era Digital
Terkini
-
Syuting Serial Virgin River Season 8 Resmi Dimulai, Ini Bocoran Ceritanya
-
UI Green Marathon 2026: Saleh Husin Siap Taklukkan 42 KM demi Masa Depan Mahasiswa
-
5 Cleanser Kolagen Korea agar Wajah Tidak Kusam dan Tetap Elastis
-
Ada Mckenna Grace, Netflix Bagikan First Look Serial Scooby-Doo: Origins
-
Sedang Kehilangan Arah? Novel 'Rumah' Karya J.S. Khairen Akan Menemanimu