Hayuning Ratri Hapsari | Fauzah Hs
Nilai tukar rupiah pada Kamis, 4 Juni 2026. (Bidik layar Google)
Fauzah Hs

Layar monitor perdagangan valuta asing pada Kamis, 4 Juni 2026, menorehkan sejarah kelam baru yang membuat dada kita sesak. Nilai tukar Rupiah secara resmi menembus level psikologis paling mengkhawatirkan, yakni Rp18.031 per Dollar Amerika Serikat. Ambruknya mata uang Garuda ini memperpanjang tren negatif setelah hari sebelumnya ditutup melemah tajam ke level Rp17.940.

Level Rp18.000 ini merupakan sebuah peringatan yang menandakan bahwa tekanan ekonomi makro kita sudah berada di zona merah. Dampak berantainya jelas bukan main-main; mulai dari meroketnya harga barang impor, pembengkakan biaya produksi industri hulu, hingga ancaman nyata terhadap ambruknya daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian yang kian pekat.

Sobat Yoursay, di tengah situasi genting yang menguras kecemasan publik ini, respons yang datang dari otoritas keuangan kita justru terasa sangat kontras dari realitas lapangan. Sehari sebelum Rupiah menembus angka keramat tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di Kompleks Parlemen Jakarta dengan tegas membantah anggapan bahwa keoknya Rupiah disebabkan oleh kebijakan fiskal pemerintah yang berantakan.

Beliau berkilah bahwa kondisi fiskal Indonesia saat ini justru jauh lebih sehat dibandingkan tahun lalu, yang diklaim sebagai buah manis dari peningkatan penerimaan pajak hasil reformasi perpajakan. Pernyataan defensif ini tentu memicu dahi kita berkerut. Menampilkan rapor merah-hijau anggaran di saat mata uang nasional sedang sekarat terasa seperti seorang dokter yang memuji kebersihan ruang operasi sementara pasien di atas kasur sedang kehabisan darah.

Masyarakat hari ini tidak bisa lagi ditenangkan hanya dengan retorika "fiskal aman" atau "fundamental kuat." Sobat Yoursay, pelemahan Rupiah kali ini sudah tidak bisa lagi dikambinghitamkan semata-mata karena faktor eksternal atau keperkasaan sentimen komoditas global.

Faktanya, mata uang kita saat ini tidak hanya bertekuk lutut di hadapan Dollar AS, melainkan juga ikut keok dari mata uang regional yang lebih dekat, seperti Dollar Singapura dan Ringgit Malaysia. Fenomena ini menjadi indikator kuat bahwa ada masalah kepercayaan yang serius dari pasar terhadap arah tata kelola ekonomi domestik kita sendiri. Sayangnya, di tengah jatuhnya nilai tukar yang terjadi secara beruntun ini, publik justru disuguhi oleh absennya langkah mitigasi yang konkret dan taktis dari pemerintah.

Ketidakpuasan masyarakat yang telanjur menumpuk akhirnya meledak di ruang digital. Publik kini secara lantang menuntut pemerintah untuk segera merombak skala prioritas kerja mereka. Energi dan anggaran negara seharusnya dipusatkan sepenuhnya untuk menyelamatkan stabilitas moneter dan daya beli rakyat, ketimbang terus memaksakan program-program yang dinilai minim urgensi.

Di berbagai platform media sosial, netizen mulai menyuarakan desakan kritis untuk menghentikan atau mengevaluasi total berbagai proyek mercusuar yang dianggap menguras kantong APBN tanpa efek instan bagi penyelamatan ekonomi, seperti program Makan Bergizi Gratis hingga pembentukan ribuan Koperasi Desa Merah Putih.

Bahkan, saking masifnya rasa frustrasi yang dirasakan di tingkat akar rumput, beberapa kalangan netizen secara ekstrem mulai menyuarakan tuntutan agar presiden dan wakil presiden mundur dari kursi pemerintahan karena dianggap gagal menakhodai kapal besar Indonesia keluar dari badai ekonomi ini.

Gelombang kritik yang sangat tajam ini seharusnya dibaca oleh pemerintah sebagai sinyal peringatan dini bahwa public trust atau kepercayaan publik sedang sekarat. Ketika masyarakat melihat harga bahan pokok di pasar tradisional merangkak naik akibat pembengkakan biaya produksi manufaktur, sementara para pejabatnya masih sibuk mempromosikan agenda politik jangka pendek, jurang pemisah antara pemerintah dan rakyat akan semakin menganga lebar.

Mengembalikan kepercayaan pasar dan publik tidak akan bisa dicapai melalui bantahan-bantahan di media massa, melainkan melalui tindakan nyata yang memperlihatkan bahwa pemerintah tahu cara mengerem laju kejatuhan Rupiah.

Sobat Yoursay, kita tentu tidak menginginkan skenario terburuk terjadi pada perekonomian bangsa kita. Kritik keras yang dilayangkan oleh publik hari ini bukanlah bentuk kebencian untuk menjatuhkan, tapi jeritan bertahan hidup agar kita tidak terseret bersama-sama ke dalam jurang krisis yang lebih dalam.

Pemerintah harus berani menekan ego sektoralnya, menunda ambisi proyek-proyek besar yang tidak mendesak, dan mengalokasikan setiap Rupiah yang ada untuk memperkuat jaring pengaman sosial serta menstabilkan pasar keuangan domestik.

Sudah saatnya pemerintah berhenti bersikap defensif dengan tameng angka-angka statistik perpajakan. Sobat Yoursay, mari kita tunggu bersama, apakah pemerintah akan segera melahirkan kebijakan penyelamatan yang konkret dan berpihak pada nasib wong cilik, ataukah mereka akan tetap bertahan dengan narasi optimisme semu di tengah badai yang kian mengganas.