Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
ilustrasi belanja (Pexels/Polina Tankilevitch)
e. kusuma .n

Belakangan ini, gaya hidup zero waste semakin populer, terutama di kalangan anak muda. Media sosial juga dipenuhi konten tentang sustainable living, produk ramah lingkungan, hingga berbagai perlengkapan eco-friendly.

Sekilas, tren ini terlihat positif. Banyak orang mulai sadar kalau Bumi sedang menghadapi masalah sampah dan konsumsi berlebihan. Kesadaran untuk hidup lebih ramah lingkungan perlahan mulai tumbuh.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan yang cukup menarik: kalau seseorang terus membeli banyak produk eco-friendly dan terjebak budaya konsumsi baru, apakah itu masih bisa disebut zero waste?

Produk Ramah Lingkungan yang Jadi Tren

Di era media sosial, produk eco-friendly tidak hanya dijual sebagai barang fungsional, tapi juga sebagai bagian dari gaya hidup estetik. Semua terlihat menarik di timeline hingga banyak orang tertarik membeli demi mendukung gaya hidup ramah lingkungan.

Masalahnya, kadang orang membeli terlalu banyak barang atas nama sustainability. Sudah punya tumbler dan tote bag, membeli lagi karena model baru lebih lucu. Alat makan reusable terus bertambah karena mengikuti tren.

Menurut saya, di titik ini konsep zero waste mulai terasa bertabrakan dengan kebiasaan konsumtif. Niat awal mendukung konsep ramah lingkungan malah teralihkan dengan godaan barang estetik dan jadi impulsif.

Zero Waste yang Berubah Jadi Konsumsi Baru

Ironisnya, gaya hidup zero waste justru menghasilkan konsumsi berlebihan dengan label “ramah lingkungan”. Padahal inti dari zero waste sebenarnya sederhana: mengurangi sampah dan konsumsi yang tidak perlu.

Namun, konsep tersebut kadang berubah menjadi tren belanja baru. Orang merasa lebih “aman” untuk terus membeli karena barang yang dipilih dianggap eco-friendly. Akibatnya, konsumsi tetap berjalan, hanya saja kemasannya berlabel hijau.

Menurut saya, fenomena ini menunjukkan bahwa budaya konsumtif memang sangat kuat. Bahkan gerakan lingkungan pun bisa ikut masuk ke pola pasar dan tren media sosial.

Media Sosial dan Tekanan Gaya Hidup Sustainable

Diakui atau tidak, media sosial memang punya pengaruh besar terhadap fenomena ini. Konten sustainable lifestyle sekarang sering ditampilkan dengan visual yang sangat rapi dan menarik.

Kamar minimalis, produk reusable estetik, meja kerja bernuansa earth tone, hingga rutinitas hidup ramah lingkungan terlihat sangat sempurna di internet. Tanpa sadar, banyak orang jadi FOMO demi terlihat lebih sustainable.

Di titik inilah zero waste mulai bergeser menjadi bagian dari identitas lifestyle. Yang penting terlihat peduli lingkungan, meski sebenarnya masih sering belanja impulsif. Padahal menjaga lingkungan tidak harus mahal atau estetik.

Zero Waste Tidak Harus Mahal dan Estetik

Saya rasa penting untuk kembali memahami konsep awal bahwa hidup minim sampah sebenarnya tidak harus selalu identik dengan membeli banyak produk eco-friendly. Kadang langkah paling ramah lingkungan justru menahan diri.

Kita bisa melakukannya dengan memakai barang yang sudah dimiliki selama mungkin, menggunakan botol minum lama sampai benar-benar rusak, memakai tas yang sudah ada, memperbaiki barang lama, atau membeli seperlunya.

Menurut saya, konsep paling penting dari zero waste lebih pada belajar mengurangi kebiasaan konsumtif dan bukan menggantinya dengan konsumsi baru yang lebih estetik. Ingat, setiap barang yang diproduksi tetap menghasilkan limbah dalam prosesnya.

Belajar Mengurangi, Bukan Sekadar Mengganti

Pada akhirnya, zero waste bukan tentang mengganti semua barang menjadi versi eco-friendly sekaligus. Yang lebih penting justru belajar mengurangi konsumsi secara perlahan.

Karena lingkungan tidak hanya membutuhkan lebih banyak produk hijau, tapi juga orang yang bisa berkata “cukup” di tengah budaya belanja yang tidak ada habisnya. Yuk, berhenti merasa harus mengikuti semua gaya hidup estetik di media sosial!