Saya pernah merasa senang hanya karena satu hal sederhana: notifikasi dari media sosial bertambah. Like naik, komentar masuk, story dilihat banyak orang. Rasanya seperti ada pengakuan kecil yang diam-diam saya tunggu.
Awalnya saya menganggap itu wajar. Siapa sih yang tidak suka diapresiasi? Tapi lama-lama saya mulai bertanya: apakah ini masih sekadar kebutuhan sosial atau sudah berubah jadi ketergantungan yang tidak saya sadari?
Ketika “Dilihat” Terasa Lebih Penting dari “Menjadi”
Dulu, saya mengunggah sesuatu ke medsos karena ingin berbagi. Sekarang, tanpa sadar, saya mulai memikirkan bagaimana unggahan itu akan diterima. Apakah ini cukup menarik? Apakah orang akan suka? Apakah ini akan mendapat banyak respons?
Perlahan, fokus saya bergeser. Bukan lagi tentang apa yang saya rasakan, tapi tentang bagaimana orang lain melihatnya. Saya mulai lebih sibuk membangun citra, daripada benar-benar menjadi diri sendiri.
Angka yang Diam-diam Mengontrol Perasaan
Saya tidak pernah menyangka sebelumnya kalau angka bisa memengaruhi emosi saya sedalam ini. Saat respons tinggi, saya merasa senang, percaya diri, bahkan sedikit bangga. Tapi saat sepi, saya mulai mempertanyakan banyak hal.
Apakah unggahan saya tidak menarik atau tidak cukup “worth it” untuk diperhatikan? Padahal secara logika, saya tahu angka itu bukan ukuran nilai diri. Tapi tetap saja, rasanya nyata hingga saya sadar kalau validasi eksternal bisa sangat adiktif.
Membandingkan Diri dengan Versi Terbaik Orang Lain
Sudah jadi rahasia umum kalau media sosial penuh dengan highlight. Semua orang menampilkan versi terbaik dari hidup mereka. Masalahnya, saya sering membandingkan kondisi itu dengan versi paling biasa dari diri saya. Saya melihat pencapaian orang lain, hubungan mereka, dan gaya hidup mereka hingga tanpa sadar merasa tertinggal.
Dari situ, keinginan untuk mendapatkan validasi semakin besar. Seolah-olah, jika saya juga terlihat “baik”, saya akan merasa cukup. Padahal, perasaan cukup itu tidak pernah benar-benar datang dari luar. Membandingkan diri dengan versi terbaik orang lain yang memang sengaja ditampilkan hanya semakin membuat saya kehilangan kepercayaan diri.
Validasi Itu Manusiawi, Tapi Bisa Menjebak
Saya tidak ingin menyangkal bahwa kebutuhan akan validasi adalah hal yang manusiawi. Kita semua ingin dihargai, diakui, dan diterima. Namun, masalah muncul saat validasi itu menjadi satu-satunya sumber rasa percaya diri.
Saya seolah hanya akan merasa baik jika orang lain bilang saya baik. Saya hanya merasa cukup jika orang lain menganggap saya cukup. Di titik itu, saya seperti kehilangan kendali karena nilai saya ditentukan oleh sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa saya kontrol.
Pelan-pelan Belajar Lepas dari Ketergantungan
Saya tidak langsung bisa berhenti, tapi saya mulai mencoba lebih sadar. Saya bertanya sebelum memposting: apakah saya benar-benar ingin berbagi atau hanya ingin dilihat? Saya juga mulai membatasi ekspektasi. Tidak semua hal harus mendapat respons besar.
Dan yang paling penting, saya mulai mencari rasa cukup dari hal-hal yang lebih nyata. Hubungan yang tulus, pencapaian kecil, dan waktu untuk diri sendiri. Memang tidak mudah, tapi terasa lebih jujur dan pastinya perasaan saya lebih ringan.
Membangun Nilai Diri dari Dalam
Salah satu hal yang paling sulit adalah belajar menghargai diri sendiri tanpa menunggu pengakuan dari luar. Saya pun mulai mencoba fokus pada proses, bukan reaksi. Pada apa yang saya lakukan, bukan bagaimana orang menilainya.
Saya belajar menerima tidak semua orang harus menyukai saya. Andai ada yang menunjukkan respons negatif, saya belajar menerima kalau kondisi itu tidak mengurangi nilai saya sebagai individu.
Dari kesadaran dan perubahan pola pikir ini, pelan-pelan saya mulai merasa lebih stabil. Tidak terlalu naik saat dipuji dan tidak terlalu jatuh saat diabaikan. Bahkan saya sudah tidak terlalu fokus pada validasi orang atas unggahan yang saya bagikan.
Validasi Sosial: Antara Butuh dan Bergantung
Berburu validasi di media sosial bukan sesuatu yang sepenuhnya salah. Kita semua butuh merasa dihargai, tapi penting untuk tahu batasnya. Karena ketika kebutuhan itu berubah menjadi ketergantungan, kita bisa kehilangan arah.
Pada akhirnya kita mulai hidup untuk dilihat, bukan untuk dijalani. Saya akui, kadang saya masih tergoda. Validasi dari luar mungkin terasa menyenangkan dan bisa saja menjadi “candu” yang membuat kita terjebak.
Hanya saja sekarang saya lebih sadar kalau validasi dari luar tidak akan pernah cukup jika saya tidak bisa memberi validasi untuk diri sendiri. Kini saya telah belajar melihat lebih dalam tentang perbedaan antara sekadar butuh dan benar-benar bergantung.
Baca Juga
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Ketika Cinta Tak Lagi Ingin Pulang
-
Stop Oversharing! Ini 7 Hal dalam Hidup yang Sebaiknya Kamu Simpan Sendiri
-
Tren Menulis Artikel Pakai AI: Bantu Produktivitas atau Hambat Kreativitas?
-
Memahami Trauma Loop Ibu: Apakah Bisa Berdampak pada Pola Asuh Anak?
Artikel Terkait
Kolom
-
Bansos Bukan Barang Gratis: Ada Amanah yang Harus Dijaga
-
Kuliah Makin Mahal, tapi Kenapa Gaji Fresh Graduate Tetap Segitu-gitu Aja?
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
Terkini
-
GPU dan Motherboard AMD Bakal Naik Harga, Apakah Ryzen Ikut Terdampak?
-
Badai Datang, Rumah Terancam: Perjuangan Tikus Kecil di The Outermost Mouse
-
Animals Tayang 9 Oktober di Netflix, Ben Affleck Terjebak Kasus Penculikan
-
Gak Bikin Iritasi! 5 Invisible Acne Patch yang Aman untuk Kulit Sensitif
-
Wake Me Up When September Ends