Lintang Siltya Utami | e. kusuma .n
Ilustrasi perempuan muda(Pexels/Nuzhet Flores)
e. kusuma .n

Saya pernah berpikir bahwa menjadi “cukup baik” itu tidak pernah benar-benar cukup. Selalu ada dorongan untuk menjadi lebih rapi, lebih pintar, lebih sabar, lebih cantik, lebih berhasil—pokoknya lebih dalam segala hal. 

Tanpa sadar, saya hidup dengan standar yang terus naik, bahkan sebelum sempat merasa puas dengan diri sendiri. Dari luar, semuanya terlihat baik-baik saja. Tapi di dalam, ada tekanan yang tidak pernah benar-benar hilang.

Tuntutan yang Datang dari Banyak Arah

Sejak kecil, saya terbiasa dengan ekspektasi. Menjadi anak perempuan yang “baik”, yang tahu diri, yang tidak merepotkan, yang berprestasi. Seiring bertambahnya usia, tuntutan itu tidak berkurang dan justru bertambah banyak. 

Saya seolah diharapkan berhasil dalam pendidikan, stabil dalam karier, tetap hangat dalam relasi, dan tetap menjaga penampilan. Lucunya, semua itu sering datang bersamaan. 

Saya seperti terjebak dalam ekspektasi seolah tidak ada ruang untuk gagal di salah satu aspek. Saat fokus pada pekerjaan, ada rasa bersalah karena kurang hadir untuk keluarga. 

Saat mencoba melambat dan memberi waktu untuk diri sendiri, muncul rasa takut tertinggal. Saya seperti terus berlari tanpa garis akhir yang jelas.

Standar yang Tak Terucap

Yang membuat semuanya terasa lebih berat adalah banyaknya standar yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tapi sangat terasa. Saya tahu kapan saya dianggap “kurang” meski tidak ada yang secara langsung mengatakannya. 

Cara orang memandang, membandingkan, atau bahkan sekadar bertanya, bisa menjadi pengingat bahwa ada ekspektasi yang belum terpenuhi. Dan celakanya, media sosial juga memperparah keadaan. 

Saya sering melihat perempuan lain dengan pencapaian luar biasa, dan hidup yang seimbang, penampilan on point. Meski saya tahu itu hanya sebagian kecil dari realita, tapi tetap saja sulit untuk tidak membandingkan. 

Saya pun mulai mempertanyakan diriku sendiri: kenapa saya belum sampai di sana? Apa yang kurang dari diri saya hingga tertinggal dari mereka? 

Perfeksionisme yang Melelahkan

Saya pernah mengira perfeksionisme adalah hal yang baik. Bukankah itu berarti saya berusaha memberikan yang terbaik dalam segala hal? 

Namun, semakin ke sini, saya sadar kalau keinginan untuk selalu sempurna justru membuat saya sulit bergerak. Saya jadi takut mencoba hal baru karena takut gagal dan menunda banyak hal karena merasa belum cukup siap.

Hal-hal kecil pun bisa terasa besar. Saya mengulang pekerjaan berkali-kali, memikirkan ulang keputusan sederhana, bahkan menyalahkan diri sendiri untuk kesalahan yang sebenarnya manusiawi. 

Alih-alih merasa bangga atas pencapaian yang sudah diraih, aku justru lebih sering fokus pada apa yang kurang. Semua jadi terasa belum cukup baik meski sudah berusaha. 

Takut Dinilai, Takut Mengecewakan

Ada ketakutan yang diam-diam terus mengikuti: takut dinilai dan takut mengecewakan. Saya ingin terlihat mampu, ingin diakui, ingin diterima. Tapi keinginan itu sering membuat saya menekan diri sendiri lebih keras dari yang seharusnya.

Saya jadi sulit berkata “tidak” karena takut dianggap kurang kompeten atau tidak peduli. Saya memaksakan diri tetap kuat, bahkan saat sebenarnya lelah. 

Tanpa sadar, saya jadi belajar menyembunyikan keraguan demi menjadi perempuan yang terlihat yakin dan tangguh. Padahal, semakin berusaha terlihat sempurna, semakin saya merasa jauh dari diri yang sebenarnya.

Belajar Berdamai dengan Ketidaksempurnaan

Butuh waktu lama sampai saya menyadari kalau menjadi sempurna bukanlah tujuan yang realistis. Saya mulai bertanya: untuk siapa sebenarnya semua ini? Apakah saya benar-benar ingin atau hanya berusaha memenuhi ekspektasi?

Pelan-pelan, saya mencoba mengubah cara pandang. Bahwa melakukan kesalahan bukan berarti gagal, beristirahat bukan berarti kalah, dantidak semua hal harus dikerjakan dengan sempurna untuk bisa dianggap berharga.

Saya belajar memberi ruang untuk diriku sendiri merasa lelah, tidak selalu tahu jawabannya, dan menjadi manusia yang utuh, bukan versi ideal yang dipaksakan.

Menjadi Cukup, Tanpa Harus Sempurna

Hari ini, saya masih terus berproses. Masih ada hari di mana saya kembali terjebak dalam standar yang terlalu tinggi. Tapi setidaknya, sekarang saya lebih sadar.

Saya mulai berani mengatakan sudah cukup meski belum sempurna. Saya ingin hidup dengan lebih jujur, bukan hanya terlihat baik di mata orang lain. 

Saya ingin merayakan hal-hal kecil yang dulu sering terabaikan. Dan yang paling penting, saya ingin berhenti mengukur nilai diri hanya dari seberapa dekat saya dengan kata “sempurna”.

Karena mungkin, menjadi perempuan bukan tentang mampu melakukan segalanya dengan sempurna. Tapi tentang berani menerima diri sendiri—dengan segala kurang dan lebihnya—tanpa terus-menerus merasa harus menjadi orang lain.