Saya tumbuh dengan cerita emansipasi tentang bagaimana perempuan kini punya akses pendidikan, peluang kerja, dan kebebasan untuk menentukan hidupnya sendiri. Di atas kertas, semuanya terlihat maju.
Semua perempuan kini bisa sekolah setinggi mungkin, bekerja berbagai bidang, bahkan menyuarakan pendapat tanpa harus sembunyi-sembunyi. Kesetaraan seolah sudah tercapai persis seperti yang selama ini diperjuangkan.
Namun, semakin dewasa, saya mulai merasa emansipasi yang kita rayakan sering kali belum benar-benar utuh. Ada ruang-ruang di mana saya tetap harus membuktikan diri lebih keras.
Kesempatan Ada, Tapi Tidak Selalu Setara
Saya tidak menyangkal kalau pintu kesempatan kini lebih terbuka. Saya bisa masuk ke dunia kerja, duduk di ruang rapat, dan terlibat dalam pengambilan keputusan.
Hanya saja kehadiran saya sering kali masih dipandang sebagai “tambahan”, bukan sebagai sesuatu yang setara. Saya pernah merasa harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk dianggap serius.
Ide yang saya sampaikan kadang baru dihargai ketika diulang oleh orang lain. Pendapat saya perlu lebih banyak validasi seolah tidak cukup kuat berdiri sendiri.
Di momen-momen seperti itu, saya sadar kalau akses saja tidak cukup. Ada hal lain yang masih harus diperjuangkan: pengakuan.
Beban Ganda yang Masih Nyata
Di luar pekerjaan, ada peran lain yang tetap melekat. Saya tetap diharapkan hadir untuk keluarga, menjaga hubungan, dan memenuhi ekspektasi domestik.
Tidak ada yang salah dengan itu, tapi masalahnya beban ini jarang benar-benar dibagi secara adil. Saya sering melihat bagaimana perempuan dituntut untuk sukses di luar rumah, tapi juga tetap sempurna di dalam rumah.
Jika salah satu tidak terpenuhi, yang disorot biasanya kekurangannya, bukan usahanya. Saya jadi merasa seperti sedang menjalani dua pekerjaan sekaligus—yang satu diakui, yang satu lagi sering dianggap “sudah seharusnya”.
Harus Kuat, Tapi Tidak Boleh Terlalu Kuat
Ada paradoks yang sering saya rasakan. Saya didorong untuk menjadi perempuan yang mandiri, percaya diri, dan berani. Tapi di saat yang sama, saya juga diingatkan untuk tidak “terlalu” dalam semua itu.
Saat bersikap tegas, saya dianggap keras. Saat terlihat ambisius, saya dinilai berlebihan. Seolah-olah ada batas tak tertulis tentang seberapa jauh saya boleh berkembang.
Saya pu jadi terus menyesuaikan diri dan mencari titik aman yang sebenarnya tidak pernah jelas. Tanpa sadar hal itu membuat saya kembali harus membuktikan kalau saya “cukup”, tapi tidak “terlalu”.
Validasi yang Masih Dicari
Meski tahu nilai diri tidak seharusnya ditentukan orang lain, tapi saya tidak bisa sepenuhnya lepas dari kebutuhan akan validasi. Terutama di lingkungan yang masih melihat perempuan dengan standar berbeda.
Saya ingin diakui karena kemampuan yang saya miliki, bukan karena saya “berhasil sebagai perempuan”. Saya ingin dihargai karena kontribusi, bukan karena dianggap melampaui ekspektasi yang rendah.
Tapi realitanya, saya masih sering berada di posisi di mana saya harus menunjukkan lebih banyak, menjelaskan lebih panjang, dan membuktikan lebih sering. Dan kondisi ini melelahkan mental.
Emansipasi yang Belum Selesai
Semua ini membuat saya bertanya: apakah emansipasi yang kita rayakan selama ini sudah benar-benar selesai? Atau justru baru setengah jalan?
Saya merasa kita sudah sampai pada tahap di mana perempuan diberi kesempatan untuk masuk, tapi belum sepenuhnya diberi ruang untuk berdiri setara. Kita didorong untuk maju, tapi masih dibebani oleh ekspektasi lama yang tidak ikut berubah.
Ini bukan berarti tidak ada kemajuan. Tapi jelas, masih ada pekerjaan yang belum selesai. Perempuan di era modern masih harus terus bertahan di tengah tantangan baru pasca era emansipasi.
Menemukan Cara untuk Tetap Bertahan
Di tengah semua itu, saya belajar untuk tetap berjalan. Saya tidak ingin berhenti hanya karena harus membuktikan diri lebih sering, tapi juga tidak ingin terus-menerus mengorbankan diri demi pengakuan.
Saya pun mulai memilih "pertempuran". Tidak semua hal harus dijawab, tidak semua penilaian harus diluruskan. Saya ingin fokus pada hal-hal yang benar-benar berarti dan penting.
Dan yang paling utama, saya ingin mengingat kalau keberadaan saya tidak perlu selalu dibuktikan. Saya ada, saya mampu, dan itu sudah cukup, meski tidak semua orang melihatnya dengan cara yang sama.
Melangkah Lebih Jauh dari Sekadar Bertahan
Hari ini, saya tidak hanya ingin bertahan dalam sistem yang belum sepenuhnya adil. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan itu meski dalam cara yang kecil.
Dengan tetap bersuara, tetap hadir, dan tetap memilih jalan yang diyakini, saya berharap ruang itu perlahan bisa menjadi lebih setara. Bukan hanya untuk saya pribadi, tapi juga untuk perempuan-perempuan lain yang sedang berjalan di jalan yang sama.
Karena emansipasi seharusnya bukan hanya tentang membuka pintu. Tapi tentang memastikan siapa pun yang masuk bisa berdiri tanpa harus terus-menerus membuktikan bahwa mereka layak berada di sana.
Baca Juga
-
Overworked tapi Underpaid: Realita Dunia Kerja yang Diam-diam Dinormalisasi
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
-
Overthinking di Era Informasi Digital: Semua Mendesak, Gamang Prioritas?
-
Perempuan Harus Mandiri, tapi Tetap Dihakimi: Realita yang Sering Terjadi
Artikel Terkait
-
Beda Pendidikan Ahmad Dhani dan Maia Estianty yang Sedang Jadi Omongan
-
Menyoal Urgensi Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat, Apa Sebenarnya Prioritas Pendidikan Kita?
-
Tren Sujud Freestyle Berujung Petaka: Alarm Keras Dunia Pendidikan
-
Waka DPR Soroti Darurat Kekerasan Seksual di Pendidikan: Harus Ada Efek Jera dan Sanksi Berat!
-
Revitalisasi 71.744 Sekolah Tahun 2026, Mendikdasmen Siapkan Dana Rp14 Triliun
Kolom
-
Saat Rupiah Melemah, Apakah Side Hustle Jadi Jawaban Keresahan Finansial?
-
Sekolah Mengajarkan Etika, tapi Mengapa Banyak Kejahatan Lahir di Dalamnya?
-
Di Balik Megahnya Dapur MBG, Ada Sekolah yang Dilupakan Negara
-
Dosa Lingkungan di Balik Label 'Ramah Bumi' yang Estetik
-
Gentrifikasi Piring: Saat Makan Murah Menjadi Barang Mewah
Terkini
-
Lee Byung Hun Dikonfirmasi Bintangi Film Aksi Bela Diri Berjudul Nambeol
-
Tampil 13 Agustus, Musikal Frozen Korea Rilis Jajaran Pemain Utama
-
5 Rekomendasi HP dengan Chipset Dimensity Terbaik 2026: Performa Kencang, Baterai Anti Boros
-
The Bride Who Burned The Empire: Kisah Pemberontakan Seorang Putri
-
Tak Semua Cinta Bisa Diselamatkan: Tragedi Nara dan Jindo dalam Eye Shadow