Saya pernah merasa bangga saat bisa bilang, “Hari ini sibuk banget.” Rasanya seperti sebuah pencapaian, seolah kesibukan adalah bukti kalau saya produktif dan dibutuhkan. Tapi semakin lama, saya mulai mempertanyakan: sibuk untuk apa, kalau hasilnya tidak sebanding?
Saya bekerja lebih dari jam kerja, membawa pekerjaan ke rumah, bahkan tetap memikirkan tugas di luar jam kantor. Tapi ketika melihat gaji yang saya terima, ada jeda hening yang sulit dijelaskan.
Di situlah saya mulai sadar: mungkin saya sedang menjalani realita yang sama dengan banyak orang—overworked tapi underpaid. Kerja keras dan loyalitas seolah tidak sejalan dengan apresiasi. Dan sayangnya, kondisi ini malah mulai dinormalisasi.
Kerja Keras yang Dianggap Kewajiban
Di lingkungan saya, kerja keras bukan lagi pilihan, tapi standar. Datang tepat waktu saja tidak cukup. Pulang sesuai jam kerja kadang malah dianggap kurang berdedikasi. Bahkan lembur menjadi hal biasa sebagai bentuk loyalitas.
Saya akui, ada kebanggaan tersendiri saat bisa bekerja overtime seperti mengikuti “budaya” kantor. Saya ingin terlihat komit, ingin dihargai. Tapi lama-lama saya bertanya: apakah kerja keras ini benar-benar dihargai atau hanya dianggap sebagai kewajiban yang harus dilakukan?
Gaji Stagnan, Tuntutan Bertambah
Namun, yang paling terasa bukan hanya beban kerja yang meningkat, tapi juga ketidakseimbangan dengan kompensasi. Tugas bertambah, tanggung jawab meluas, ekspektasi makin tinggi. Tapi gaji? Tidak banyak berubah.
Saya mulai merasa seperti berlari di tempat. Mengeluarkan energi lebih, tapi tidak benar-benar bergerak maju. Dan yang a lebih rumit, kondisi ini sering dianggap normal seolah memang sudah sewajarnya begitu.
Takut Berhenti, Takut Kehilangan
Salah satu alasan saya bertahan cukup lama dalam kondisi ini adalah rasa takut tidak punya pekerjaan, takut tidak mendapatkan kesempatan yang sama di tempat lain, hingga takut dianggap tidak tahan banting.
Akhirnya, saya memilih bertahan dan menyesuaikan diri. Menganggap lelah sebagai bagian dari proses terjun di dunia kerja. Padahal, di dalam hati, saya tahu ada yang tidak sehat dari pola ini.
Produktif Tapi Tidak Sejahtera
Ironisnya, saya merasa produktif. Banyak hal yang saya kerjakan, banyak target yang tercapai. Tapi di sisi lain, saya tertampak realita di mana saya tidak merasa sejahtera. Waktu istirahat berkurang, energi terkuras, dan keseimbangan hidup mulai hilang.
Saya bekerja terus, tapi tidak benar-benar menikmati hasilnya. Di titik itu, saya mulai sadar kalau produktivitas tanpa kesejahteraan bukan sesuatu yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Budaya yang Diam-diam Membenarkan
Semakin saya perhatikan ke sekitar, ternyata fenomena ini bukan hanya terjadi pada saya. Banyak orang terdekat saya juga mengalami hal yang sama. Hanya saja mereka jarang membicarakannya secara terbuka.
Justru sering muncul narasi seperti, “Namanya juga kerja,” atau “Nanti juga terbiasa.” Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, tapi sebenarnya memperkuat budaya yang membenarkan ketimpangan. Dan tanpa sadar, kita ikut melanggengkan.
Apakah Semua Ini Layak Dipertahankan?
Saya mulai mempertanyakan banyak hal. Bukan hanya soal gaji, tapi juga soal nilai diri. Apakah waktu dan tenaga saya benar-benar dihargai? Apakah saya bekerja di tempat yang memberi ruang untuk berkembang, atau hanya dimanfaatkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak selalu punya jawaban instan. Tapi setidaknya sudah menjadi langkah awal untuk lebih sadar. Saya mulai belajar kalau meminta kejelasan, negosiasi, atau bahkan mencari peluang lain bukan berarti tidak loyal. Itu bagian dari menghargai diri sendiri.
Tidak Semua yang Dinormalisasi Itu Benar
Overworked tapi underpaid mungkin sudah terlalu sering terjadi sampai terasa biasa. Tapi bukan berarti itu harus diterima begitu saja. Kita mungkin masih dalam proses, masih belajar menyeimbangkan antara kebutuhan, keberanian, dan realita.
Tapi satu hal yang perlu kita pegang sekarang: kerja keras memang penting, tapi bukan berarti harus dibayar dengan lelah yang tidak sebanding. Karena pada akhirnya, kita bukan hanya butuh pekerjaan. Kita juga butuh hidup yang layak dijalani.
Baca Juga
-
Lika-liku Keuangan Anak Muda Zaman Now: Cuma Mau Hidup Hemat Tanpa Merasa Tertekan
-
Quiet Quitting atau Self-Respect? Cara Gen Z Memandang Dunia Kerja Modern
-
Overthinking di Era Informasi Digital: Semua Mendesak, Gamang Prioritas?
-
Perempuan Harus Mandiri, tapi Tetap Dihakimi: Realita yang Sering Terjadi
-
Validasi di Media Sosial: Kebutuhan atau Ketergantungan yang Tak Disadari?
Artikel Terkait
Kolom
-
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
-
Kebiasaan Scrolling Media Sosial: Mengapa Anak Muda Jadi Mudah Insecure?
-
Scroll LinkedIn Terus, Kenapa Malah Jadi Insecure?
-
Menyoal Urgensi Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat, Apa Sebenarnya Prioritas Pendidikan Kita?
-
Batasan Pertemanan Lawan Jenis: Masih Relevankah di Tengah Era Kebebasan Saat Ini?
Terkini
-
Park Ji Hyun Jadi Idol K-Pop di Film Wild Sing, Intip Detail Karakternya
-
Kalau Jelek Gak Boleh Marah? Maaf Sal Priadi, Saya Tidak Setuju
-
Mortal Kombat II: Kembalinya Scorpion dengan Dendam yang Lebih Kuat!
-
iPhone Versi Android? Honor 600 Pro Viral karena Iklan di Depan Apple Store
-
Bukan Sekadar Isekai: Mengapa Mushoku Tensei Dianggap Pelopor Genre Modern?