M. Reza Sulaiman | Fathorrozi 🖊️
Tangkapan layar dari video berjudul POV: Ngejambret Guru Honorer (Instagram/jookopamungkas)
Fathorrozi 🖊️

Beberapa hari lalu saya melihat sebuah video di media sosial Instagram milik @jookopamungkas berjudul “POV: Ngejabret Guru Honorer”. Sekilas video itu terlihat seperti konten biasa yang sering lewat di beranda media sosial. Ada unsur drama, alur cerita, bahkan di bagian akhir ada sentuhan emosional yang sengaja dibuat menyentuh hati penonton. Tetapi entah kenapa, setelah video itu selesai saya tonton, yang tertinggal bukan rasa hiburan, melainkan rasa sesak.

Dalam video tersebut terlihat seorang guru honorer laki-laki berbaju putih sedang berjalan sambil membawa tas di depan sebuah toko. Tiba-tiba datang dua penjambret menggunakan sepeda motor lalu merampas tas yang dibawa bapak guru itu. Ia sempat mengejar, tetapi jelas tidak mampu menyusul motor para pelaku.

Adegan kemudian berpindah ke tempat sepi. Dua penjambret itu membuka isi tas hasil jambretannya. Mereka menemukan dompet dan sebuah handphone. Saat dompet dibuka, isinya kosong. Tidak ada uang sama sekali. Lalu ketika handphone dinyalakan, muncul chat WhatsApp berisi pemberitahuan dari pihak sekolah bahwa gaji guru honorer belum bisa dibayarkan dan akan dirapel selama tiga bulan.

Di titik itu suasana video langsung berubah. Dua penjambret tadi mendadak terdiam dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka akhirnya kembali menemui sang guru honorer, mengembalikan tas beserta isinya, bahkan memberikan sedikit uang kepada guru tersebut sebelum pergi sambil menjabat tangannya.

Konten serupa juga diunggah akun Instagram @lowongancpnsid, hanya dengan pemeran utama guru perempuan. Pesannya tetap sama: bahwa kehidupan guru honorer hari ini digambarkan begitu memprihatinkan sampai-sampai penjambret pun merasa iba.

Memang ini hanya video konten. Tetapi justru karena terasa dekat dengan kenyataan, video ini menjadi sangat miris. Seolah-olah hidup penjambret lebih mapan daripada guru honorer. Seolah pencopet lebih punya kepastian ekonomi dibanding orang yang setiap hari mendidik anak-anak bangsa di ruang kelas.

Saya membayangkan, bagaimana kalau pemerintah ikut menonton video ini? Apa yang mereka rasakan? Apakah mereka akan menganggapnya sekadar konten media sosial biasa? Atau justru sadar bahwa cerita seperti ini sebenarnya tidak jauh dari kenyataan yang dialami banyak guru honorer di Indonesia?

Dan yang membuat saya semakin resah adalah munculnya kabar mengenai penataan guru non-ASN mulai tahun 2027. Dalam Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026 tentang Penugasan Guru Non-ASN pada Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah Tahun 2026, tertulis bahwa:

“Penugasan Guru non-ASN dilaksanakan sampai dengan tanggal 31 Desember 2026.”

Kalimat itu sederhana, tetapi dampaknya membuat banyak guru honorer cemas. Jadi, guru honorer hanya diberi waktu mengajar sampai akhir Desember 2026. Setelah itu bagaimana? Nasib mereka akan dibawa ke mana?

Memang belakangan ini pemerintah melalui Kemendikdasmen meluruskan bahwa isu “guru honorer dipecat massal” adalah misinformasi. Pemerintah menyebut kebijakan ini merupakan bagian dari penataan tenaga pendidik dan implementasi Undang-Undang ASN. Namun di lapangan, keresahan tetap nyata. Sebab sampai hari ini banyak guru honorer masih hidup dalam ketidakpastian.

Saya pribadi merasa sedih melihat kondisi ini. Guru honorer seperti dianaktirikan. Mereka mengajar bertahun-tahun, hadir paling pagi, pulang paling sore, menghadapi murid, administrasi, tekanan sekolah, bahkan tuntutan orang tua siswa. Tetapi penghargaan yang diterima sering jauh dari kata layak.

Di sisi lain, belakangan masyarakat melihat adanya perhatian besar pemerintah terhadap program MBG (Makan Bergizi Gratis) beserta tenaga pendukungnya seperti ahli gizi dan pegawai terkait lainnya. Saya tidak keberatan dengan itu. Semua pekerjaan memang penting. Tetapi yang membuat hati terasa ganjil adalah ketika guru honorer justru masih harus memperjuangkan gaji, status, bahkan sekadar kepastian masa depan.

Bukankah guru adalah fondasi lahirnya generasi bangsa? Bukankah dari tangan guru lahir dokter, pejabat, tentara, menteri, bahkan presiden? Tetapi kenapa nasib guru honorer justru sering seperti orang yang dilupakan?

Video “POV: Ngejabret Guru Honorer” mungkin hanya sebuah konten singkat berdurasi beberapa menit. Namun bagi saya, video itu seperti sindiran keras terhadap keadaan sosial hari ini. Sampai-sampai penjambret dalam cerita digambarkan masih memiliki rasa iba kepada guru honorer, sementara negara yang seharusnya hadir melindungi mereka justru belum mampu memberi rasa tenang sepenuhnya.

Yang dibutuhkan guru honorer sebenarnya sederhana: yaitu keadilan, kepastian, dan penghargaan yang manusiawi. Itu saja, tidak lebih.