Video yang diunggah oleh Instagram @andreli_48 pada Rabu (6/5/2026) memperlihatkan sesuatu yang sebenarnya sudah terlalu sering terjadi pada setiap musim kelulusan. Mereka menggelar konvoi berlebihan yang justru kehilangan makna utama dari kelulusan itu sendiri. Jalan raya dipenuhi suara knalpot yang memekakkan telinga, klakson dibunyikan terus-menerus, dan kendaraan dipacu ugal-ugalan, sementara para siswa tampil dengan seragam yang dicorat-coret seolah itu menjadi simbol kebanggaan.
Padahal kalau dipikir lebih dalam, kelulusan itu bukan kemenangan untuk dirayakan dengan membuat orang lain terganggu. Kelulusan adalah tanda bahwa seseorang berhasil melewati proses belajar panjang dengan perjuangan orang tua, guru, dan dirinya sendiri. Ada keringat ayah yang bekerja dari pagi sampai malam demi uang sekolah. Ada ibu yang menahan kebutuhan pribadi supaya anaknya tetap bisa memakai seragam, membeli buku, dan berangkat sekolah setiap hari.
Maka ketika seragam dicorat-coret lalu dianggap lucu atau keren, hal itu seperti melupakan nilai perjuangan yang ada di balik pakaian tersebut. Perayaan seperti konvoi dan kebut-kebutan di jalan bukan lagi budaya yang layak dipertahankan. Selain membahayakan diri sendiri, tindakan seperti itu juga meresahkan masyarakat. Jalan umum bukan tempat untuk melampiaskan euforia tanpa batas.
Tidak semua orang menikmati kebisingan. Ada orang sakit yang terganggu, ada pengguna jalan lain yang takut, dan ada pengendara kecil yang bisa celaka karena ulah konvoi yang tidak tertib. Yang paling disayangkan, banyak siswa seolah merasa kelulusan harus identik dengan suara knalpot keras dan aksi coret-coret, padahal ada begitu banyak cara yang jauh lebih positif, berkelas, dan bermakna.
Misalnya dengan mengadakan tasyakuran sederhana di sekolah atau di rumah bersama teman-teman dan guru. Tidak perlu mewah, yang penting penuh rasa syukur. Bisa juga mengadakan doa bersama dan mengaji sebagai bentuk terima kasih karena telah diberi kelancaran menyelesaikan pendidikan. Kegiatan seperti ini justru lebih menenangkan hati dan punya nilai yang luhur.
Selain itu, siswa juga bisa merayakan kelulusan dengan makan bersama teman seangkatan. Duduk melingkar, saling bercerita tentang perjuangan selama sekolah, serta mengenang masa-masa sulit dan lucu bersama. Momen seperti itu justru akan lebih membekas dibanding sekadar berteriak di jalan. Kegiatan lain yang jauh lebih positif misalnya bakti sosial, berbagi makanan kepada warga sekitar, membersihkan lingkungan sekolah, menanam pohon, atau kunjungan ke panti asuhan. Bahkan dokumentasi foto bersama guru dan teman tanpa merusak seragam pun sebenarnya sudah cukup indah untuk dikenang.
Seragam sekolah tidak seharusnya dirusak karena masih punya nilai manfaat. Baju dan celana sekolah yang masih layak pakai akan jauh lebih berarti jika disumbangkan kepada adik kelas atau anak-anak yang membutuhkan. Hal ini terasa makin menyentuh ketika mengingat kabar yang baru-baru ini terjadi, yaitu seorang siswa SMK Negeri di Samarinda yang meninggal dunia setelah berbulan-bulan memakai sepatu kekecilan hingga kakinya mengalami penyakit serius.
Kejadian itu menyadarkan bahwa ada anak-anak yang bahkan kesulitan memiliki perlengkapan sekolah yang layak, sementara di tempat lain ada yang justru merusak seragamnya sendiri demi euforia sesaat. Di situlah pentingnya empati dan kesadaran sosial. Apa yang bagi sebagian siswa dianggap sekadar seragam bekas, bagi orang lain bisa menjadi barang yang sangat berharga. Tidak semua orang tua mampu membeli perlengkapan baru setiap tahun.
Kelulusan seharusnya menjadi simbol kedewasaan. Kalau seseorang benar-benar sudah siap melangkah ke fase hidup berikutnya, maka yang ditunjukkan mestinya adalah sikap yang lebih bijak, tertib, dan menghargai orang lain. Karena setelah lulus, dunia tidak akan menilai siapa yang paling keras suara knalpotnya, tetapi siapa yang paling memiliki akhlak, kepedulian, dan cara berpikir yang dewasa.
Baca Juga
-
OPPO Reno16 Pro 5G Hadir dengan Dimensity 8550 SUPER, Seberapa Menarik?
-
Yurizal, BPJS, dan Harga Sebuah Empati
-
Jutaan Buku Dihancurkan, AI Bertambah Pintar: Haruskah Kita Merayakannya?
-
Merdeka Bukan Sekadar Bebas: Menyelami Makna Kemerdekaan Lewat Novel Karya Putu Wijaya
-
5 HP Paling Hot Agustus 2026: Vivo, Honor, Google, Oppo, hingga Poco Siap Sikat Pasar!
Artikel Terkait
-
Belum Lunasi Duit Seragam Rp300 Ribu, 2 Siswa Panti Asuhan Diminta Angkat Kaki dari Sekolah
-
Di Balik Seragam Sekolah yang Sama, Ada Rasa dan Perjuangan Tak Setara
-
Nilai TKA Apakah Menentukan Kelulusan Siswa? Cek Penjelasan Lengkapnya
-
Tahun Ini Kemnaker Perluas Akses Pelatihan Vokasi dan Hapus Batasan Tahun Kelulusan
-
Ribuan Personel Siaga, Polda Metro Imbau Takbiran Tanpa Konvoi dan Arak-arakan
Kolom
-
Kontradiksi Era Digital: Mau Merdeka Finansial tapi Masih Pakai Paylater
-
Menjaga Tradisi, Menggerakkan Desa: Perjalanan Kang Edai di Kemiren
-
Kang Edai, Penjaga Adaptasi Perubahan Iklim dari Desa Kemiren
-
Pemerintah Bidik Pajak Kontrakan: Ancaman Baru bagi Hunian Terjangkau
-
Di Balik Narasi 'Kecerdasan Bukan dari Sekolah': Mengingatkan Kembali Tanggung Jawab Negara
Terkini
-
Bedah Makna Video Musik 'Masih Ada Cahaya': Saat Kegelapan Bertemu Harapan
-
Sering Diabaikan, 4 Kebiasaan Sepele Ini Bikin Laptop Cepat Rusak!
-
Trailer Utama Film Made in Abyss Part 1 Ungkap Lagu Tema dan Karakter Baru
-
Denyut Tradisi Bali dalam Bait-Bait 'Saiban' Karya Oka Rusmini
-
4 Acne Micellar Water Bebas Alkohol, Rawat Kulit Berjerawat Tanpa Iritasi