Media sosial mempertemukan kita dengan banyak sekali bentuk kehidupan yang sebelumnya mungkin tidak terbayangkan. Salah satunya datang dari influencer yang gemar mempertontonkan kekayaan.
Konten flexing hadir sebagai tontonan yang dikemas sedemikian rupa agar terlihat menarik dan layak diikuti. Lama-lama, kemewahan yang muncul berulang kali di feed dapat bergeser dari sesuatu yang istimewa menjadi sesuatu yang terasa wajar.
Punya ponsel terbaru, kendaraan baru, pakaian bermerek, atau rutin menghabiskan uang untuk gaya hidup tertentu mulai terlihat seperti bagian dari standar kehidupan yang ideal. Padahal, apa yang tampil di layar belum tentu menggambarkan kondisi yang sama bagi orang yang menontonnya.
Efeknya pun bisa lebih jauh dari sekadar rasa kagum atau iri. Ketika gaya hidup yang dipamerkan terus menjadi referensi, keinginan untuk memiliki barang serupa dapat ikut tumbuh. Dari sinilah isi feed media sosial bisa punya hubungan dengan isi dompet, di mana budaya flexing berpotensi membentuk selera konsumsi dan cara seseorang menentukan apa yang pantas dikejar.
Ketika Hidup Orang Lain Dijadikan Patokan
Menurut saya, menarik untuk dikulik bagaimana konten flexing perlahan mengubah ukuran “hidup enak” di kepala penonton. Feed dipenuhi mobil baru, ponsel terbaru, tas mahal, makan di restoran mewah, sampai liburan ke luar negeri. Semua ditampilkan seperti rutinitas biasa, bukan sesuatu yang membutuhkan kemampuan finansial tertentu.
Lama-lama muncul ilusi bahwa hidup memang seharusnya seperti itu. Standar kehidupan akhirnya dibentuk oleh apa yang paling sering muncul di layar, bukan oleh apa yang sebenarnya masuk akal bagi kondisi masing-masing.
Di sini, flexing punya efek yang cukup licin. Tidak ada yang secara langsung menyuruh penonton membeli barang tertentu. Namun, paparan berulang dapat membuat keinginan itu tumbuh sendiri.
Padahal, kita sedang membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan yang sudah dipilih, direkam, diedit, lalu diunggah. Kita melihat hasil akhirnya, bukan rekeningnya.
Dompet Dipaksa Mengikuti Gaya Hidup
Bahaya lain dari budaya flexing adalah jarak antara keinginan dan kemampuan finansial bisa semakin kabur. Orang melihat barang mahal berulang kali sampai muncul perasaan bahwa barang tersebut layak dimiliki. Masalahnya, kemampuan untuk membeli tentu tidak otomatis ikut naik hanya karena kita sering melihatnya di media sosial.
Di sinilah keputusan konsumsi mulai terasa tidak masuk akal. Barang yang tadinya tidak terpikirkan tiba-tiba masuk daftar kebutuhan hanya karena terus muncul di feed.
Kalau uang tersedia, membeli barang-barang mahal bukan masalah besar. Namun, tidak semua orang punya kondisi keuangan yang sama. Ada yang memilih cicilan, menggunakan paylater, atau memaksakan diri bekerja lebih keras demi membiayai gaya hidup yang sebenarnya tidak sanggup ditanggung.
Ketika Pamer Dianggap Bukti Kesuksesan
Lebih jauh lagi, flexing bisa membuat kesuksesan terlihat terlalu sederhana. Seolah-olah kesuksesan hidup bisa dibuktikan lewat apa yang dipamerkan di Instagram. Semakin mahal barangnya, semakin tinggi pula kesan kesuksesannya.
Akibatnya, ada risiko orang lebih sibuk mengejar tanda-tanda kesuksesan daripada membangun kehidupan yang memang sehat secara finansial. Uang yang seharusnya bisa disimpan atau dialihkan untuk kebutuhan jangka panjang justru habis untuk sesuatu yang memberikan kepuasan sesaat dan tepuk tangan di media sosial.
Yang lebih mengkhawatirkan, pola ini bisa ikut memengaruhi cara generasi muda memandang masa depan. Pekerjaan dianggap menarik karena terlihat bisa menghasilkan banyak uang.
Menjadi influencer atau YouTuber dibayangkan sebagai jalan cepat menuju kehidupan mewah. Padahal, yang mereka lihat baru hasil yang sudah dikemas untuk ditonton, bukan keseluruhan proses di baliknya.
Budaya flexing memperlihatkan betapa kuatnya media sosial dalam menentukan apa yang terlihat menarik, keren, bahkan layak dikejar. Kita memang bebas menikmati tontonan apa pun. Namun, jangan sampai apa yang awalnya hanya hiburan perlahan berubah menjadi kompas untuk menentukan arah hidup sendiri.
Baca Juga
-
Bos-bos Kecil di Negeri Besar: Potret Gagal Negara Membuka Lapangan Kerja
-
He Is Psychometric: Menyingkap Misteri Kejahatan dengan Kekuatan Psikometri
-
Influencer Pamer Kekayaan di Tengah Krisis, Masihkah Layak Jadi Tontonan?
-
Kerja Keras Tak Menjamin Naik Kelas, tapi Si Miskin Dianggap Kurang Berusaha
-
Rakyat Didorong Berwirausaha, Pungli Menghadang di Depan Mata
Artikel Terkait
-
Kepala BGN Ungkap Fakta Mengejutkan: Mayoritas Isu Medsos Digerakkan oleh Akun Bot!
-
Kolektor Pengetahuan yang Tak Pernah Belajar: Ironi di Balik Fitur 'Simpan'
-
Gaya Hidup Aesthetic ala Gen Z: Menikmati Keindahan atau Mengejar Standar?
-
Influencer Pamer Kekayaan di Tengah Krisis, Masihkah Layak Jadi Tontonan?
-
Ketika Estetika Membuat Barang Kehilangan Umur Pakainya
Kolom
-
Seni Mematikan Notifikasi: Saat Ketenangan Menjadi Kemewahan Baru bagi Gen Z
-
Jebakan Gaji Tinggi: Saat Korban Loker Palsu Dipaksa Jadi Sindikat Love Scamming
-
Dari Ngajar Jadi Tukang Endus: Ironi di Balik MBG
-
Bukan Buat Perang, Ini Alasan RI Butuh Kapal Induk
-
Slow Dating: Tak Mau Terburu-buru atau Menghindari Hubungan Intens di Awal?
Terkini
-
Asian Games 2026: 28 Tahun Menanti, Bulu Tangkis Indonesia Raih Emas Beregu
-
Review Ketok Mejik, Warisan Bengkel dan Palu Sakti
-
MediaTek C10 Max Bawa Performa AI 55 TOPS, Siap Jadi Penantang Snapdragon X
-
Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon
-
Sekiro: No Defeat Hadirkan Format Anime TV 8 Episode, Tayang Januari 2027