Saya pernah berada di fase di mana mengatakan “iya” terasa jauh lebih mudah daripada berkata “tidak”. Bukan karena selalu setuju, tapi karena saya takut mengecewakan.
Ada rasa ingin dianggap baik, pengertian, dan bisa diandalkan. Tanpa sadar, saya menempatkan kebutuhan orang lain di atas diri sendiri sampai lupa rasanya benar-benar mendengarkan apa yang saya butuhkan.
Di titik itulah saya mulai bertanya: ini bentuk kebaikan, atau justru cara halus untuk mengabaikan diri sendiri?
Terbiasa Menyenangkan Orang Lain
Sejak dulu, saya sering mendengar orang bilang kalau karena sikap saya “enak diajak apa saja”. Jarang menolak, jarang protes, dan selalu berusaha menyesuaikan diri, itu maksud mereka.
Awalnya terasa seperti kelebihan, tapi lama-lama saya jadi sulit mengenali keinginan sendiri. Bahkan untuk memilih tempat makan atau menentukan waktu istirahat, saya lebih sering mengikuti orang lain.
Dalam hati, saya merasa takut dianggap egois kalau terlalu memikirkan diri sendiri. Padahal, di balik semua itu, ada rasa lelah yang tidak pernah benar-benar selesai.
Ketika Self-Love Terasa Egois
Saat pertama kali mencoba lebih memprioritaskan diri sendiri, rasanya aneh. Saya mulai belajar menolak ajakan yang tidak saya inginkan, mengurangi hal-hal yang menguras energi, dan memberi waktu untuk diri sendiri.
Bukannya merasa lega, saya justru dihantui rasa bersalah. Ada suara kecil di kepala yang berkata: “Kamu berubah ya sekarang”, “Kamu jadi lebih cuek”, atau “Kamu egois”.
Suara-suara ini membuat saya jadi ragu. Saya pun mulai mempertanyakan: apakah self-love memang berarti harus mengecewakan orang lain?
Batasan yang Sering Disalahpahami
Saya baru menyadari bahwa selama ini aaya hampir tidak punya batasan yang jelas. Semua terasa boleh, semua terasa harus saya penuhi. Saat saya mencoba membuat batas, tidak semua orang bisa langsung mengerti.
Ada yang merasa saya menjauh, ada yang menganggap saya tidak lagi peduli. Padahal sebenarnya, saya hanya sedang mencoba menjaga diriku sendiri.
Menetapkan batas sering kali memang tidak nyaman untuk diri sendiri maupun orang lain. Tapi saya belajar kalau tidak semua orang akan memahami perubahan, dan itu tidak selalu berarti saya salah.
Antara Ingin Diterima dan Ingin Jujur
Salah satu hal tersulit adalah menerima kalau saya tidak bisa membuat semua orang senang. Selama ini, saya terlalu terbiasa mengukur diriku dari seberapa banyak orang yang nyaman dengan saya.
Padahal, semakin berusaha menyenangkan semua orang, semakin saya kehilangan kejujuran pada diri sendiri. Saya tertawa saat tidak benar-benar ingin, setuju saat sebenarnya ragu, hadir saat sebenarnya butuh waktu sendiri.
Saya berada di persimpangan: tetap menjadi versi yang disukai banyak orang, atau mulai menjadi versi yang jujur—meskipun tidak selalu diterima.
Belajar Mendengarkan Diri Sendiri
Proses ini tidak instan. Saya masih sering kembali ke pola lama, masih merasa tidak enak saat harus menolak, masih overthinking setelah membuat keputusan untuk diri sendiri.
Tapi perlahan, saya mulai belajar mendengarkan. Saya mulai bertanya pada diri sendiri sebelum menjawab orang lain: “saya benar-benar mau, atau hanya tidak enak menolak?”
Pertanyaan sederhana, tapi tidak selalu mudah dijawab. Saya juga mulai menyadari kebutuhan sendiri sama pentingnya dengan kebutuhan orang lain. Dan saya tidak harus selalu mengorbankan diri untuk dianggap baik.
Self-Love yang Tidak Berisik
Sekarang, saya memaknai self-love bukan sebagai sesuatu yang besar dan selalu terlihat. Bukan pula tentang selalu tampil percaya diri atau selalu bahagia.
Tapi tentang hal-hal kecil yang sering tidak terlihat: berani berkata “tidak”, memberi waktu untuk istirahat, dan menerima bahwa saya tidak harus sempurna di mata semua orang.
Self-love juga bukan berarti saya berhenti peduli. Saya tetap ingin hadir untuk orang-orang terdekat. Bedanya, sekarang saya mencoba melakukannya tanpa mengorbankan diri sendiri.
Menemukan Keseimbangan
Saya masih belajar mencari keseimbangan antara peduli pada orang lain dan menjaga diri sendiri. Kadang berhasil, kadang masih goyah. Tapi setidaknya, sekarang jadi lebih sadar kalau saya punya pilihan.
Karena pada akhirnya, menjadi perempuan di persimpangan self-love dan people pleasing bukan tentang memilih salah satu. Tapi belajar berjalan di tengah dengan lebih sadar, jujur, dan menghargai diri sendiri.
Baca Juga
-
Perempuan dan Gerakan Zero Waste: dari Dapur Rumah ke Perubahan Lingkungan
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
-
Thriving adalah Privilege, Surviving adalah Lifestye: Dilema Gen Z Menjalani Hidup Berkelanjutan
-
Ketika Tidak Ada Ruang Rapuh untuk Perempuan: Kuat Jadi Terasa Melelahkan
-
Tanggung Jawab Tak Terlihat: Beban Emosional Perempuan dalam Keluarga
Artikel Terkait
Kolom
-
Paylater: Utangnya Tak Seberapa, Bunganya Bikin Boncos!
-
Mas Nadiem dan Chromebook: Niatnya Digitalisasi, Kok Berujung 18 Tahun Bui?
-
Perempuan dan Gerakan Zero Waste: dari Dapur Rumah ke Perubahan Lingkungan
-
Eco-Friendly Mahal: Tantangan Anak Muda yang Ingin Peduli Lingkungan
-
Belanja Online Pakai Paylater: Menyelamatkan di Awal, Menegangkan di Akhir
Terkini
-
Ambil Peran Ganda, Lim Ji Yeon Berpeluang Bintangi Drakor Alike
-
Agensi Lee Yi Kyung Buka Suara soal Denda Pajak, Bantah Ada Penggelapan
-
5 Serum Niacinamide Tinggi untuk Kulit Wajah Lebih Cerah dan Sehat
-
Bikin Elus Dada, Ini Kenapa Min Jeong Woo Berubah Toxic di Perfect Crown
-
Sedang Cedera, Duo Aprilia Enggan Remehkan Kemampuan Marc Marquez