Sekar Anindyah Lamase | Oktavia Ningrum
Poster Film Perempuan Berkalung Sorban (Catchplay)
Oktavia Ningrum

Kemunculan film Perempuan Berkalung Sorban pernah memantik perdebatan panjang di Indonesia. Bukan semata karena kualitas sinematiknya, melainkan karena keberaniannya membuka sisi gelap patriarki dalam komunitas Muslim yang selama ini kerap disembunyikan di balik dalih tradisi, moralitas, dan tafsir agama.

Film karya Hanung Bramantyo ini terasa seperti tamparan keras bagi masyarakat yang terbiasa menganggap kritik terhadap budaya patriarkal sebagai serangan terhadap Islam itu sendiri.

Sejak awal, film ini memang tidak lahir sebagai tontonan netral. Hanung secara terbuka menyebut film tersebut sebagai semacam “utang” kepada perempuan setelah film Ayat-Ayat Cinta dituding memiliki bias yang memuliakan poligami dan menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. Karena itu, Perempuan Berkalung Sorban bergerak ke arah sebaliknya: ia menjadikan perempuan sebagai pusat penderitaan sekaligus perlawanan.

Tokoh Annisa menjadi simbol dari banyak perempuan yang hidup di lingkungan konservatif, dibatasi oleh tafsir agama yang sempit, dan dipaksa tunduk atas nama kesalehan. Ia tumbuh di pesantren yang menanamkan aturan berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Laki-laki bebas bermimpi dan menentukan masa depan, sementara perempuan diajarkan patuh, diam, dan menerima. Bahkan tubuh perempuan pun dianggap milik komunitas, bukan miliknya sendiri.

Yang membuat film ini begitu mengganggu sebagian orang adalah karena ia tidak menawarkan kompromi yang nyaman. Hampir semua tokoh laki-laki Muslim digambarkan problematis: otoriter, egois, atau menikmati privilese patriarki tanpa merasa bersalah.

Suami Annisa digambarkan kasar dan abusif. Ayahnya memaksakan pernikahan demi status sosial. Para tokoh agama tampil sebagai penjaga tradisi yang lebih sibuk mempertahankan kuasa dibanding memahami penderitaan perempuan.

Di titik inilah kritik bermunculan. Banyak pihak menuduh film ini terlalu hitam-putih dan tidak memberi ruang bagi gambaran laki-laki Muslim yang baik. Mereka menganggap Perempuan Berkalung Sorban seperti sedang menggiring opini bahwa Islam tidak memiliki solusi atas persoalan perempuan.

Namun sesungguhnya, kemarahan publik terhadap film ini justru memperlihatkan persoalan yang lebih besar. Masyarakat kita masih sulit membedakan antara kritik terhadap budaya patriarki dengan penghinaan terhadap agama. Padahal keduanya berbeda.

Film ini bukan sedang menyerang Islam sebagai ajaran, melainkan mengkritik praktik sosial yang tumbuh dalam masyarakat patriarkal dan sering berlindung di balik legitimasi agama. Persoalan utamanya bukan pada Islam, tetapi pada tafsir dan struktur sosial yang membuat perempuan kehilangan suara.

Menariknya, inspirasi novel karya Abidah El Khalieqy ini memang banyak dipengaruhi literatur feminis Muslim dan karya-karya seperti Perempuan di Titik Nol milik Nawal El Saadawi. Karena itu, narasi yang dibangun sangat kuat dalam menggambarkan bagaimana tubuh dan hidup perempuan dikontrol oleh sistem sosial yang maskulin.

Bahkan jalan keluar yang ditemukan Annisa bukan datang dari institusi agama yang menindasnya, melainkan dari kesadaran kritis dan keberanian untuk mempertanyakan tradisi.

Adegan paling simbolik tentu ketika Annisa melempar sorbannya ke tanah di akhir film. Sorban, yang selama ini identik dengan otoritas laki-laki dan simbol kehormatan religius, dijatuhkan begitu saja. Adegan ini bukan sekadar tindakan emosional, tetapi metafora perlawanan terhadap sistem yang menggunakan simbol agama untuk melanggengkan ketimpangan gender.

Tidak mengherankan bila banyak kelompok konservatif merasa tersinggung. Sebab film ini membongkar sesuatu yang selama ini dianggap tabu: bahwa kekerasan terhadap perempuan bisa tumbuh subur bahkan di lingkungan yang terlihat religius.

Yang menarik, kontroversi film ini juga memperlihatkan bagaimana masyarakat Indonesia sering lebih nyaman melihat perempuan sabar ketimbang perempuan melawan. Selama perempuan digambarkan saleh, patuh, dan menderita dalam diam, publik akan memujinya. Tetapi ketika perempuan mulai mempertanyakan struktur yang menindasnya, ia segera dianggap berbahaya.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa perubahan sosial selalu dimulai dari keberanian mempertanyakan hal-hal yang dianggap normal. Dulu poligami, kawin paksa, atau pembatasan pendidikan perempuan dianggap wajar. Hari ini banyak orang mulai menyadari bahwa tradisi tidak selalu identik dengan keadilan.

Karena itu, Perempuan Berkalung Sorban penting bukan karena ia sempurna, melainkan karena ia berani membuka percakapan yang selama ini ditutup rapat. Film ini memaksa publik melihat bahwa religiusitas tidak otomatis menghadirkan keadilan gender. Sebab agama bisa menjadi jalan pembebasan, tetapi juga dapat berubah menjadi alat penindasan ketika ditafsirkan tanpa empati.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa film ini masih terasa relevan hingga sekarang.