Di era digital sekarang, fitur paylater seolah jadi pahlawan buat yang ingin belanja tapi belum gajian. Iklannya ada di mana-mana, menjanjikan kemudahan "beli sekarang, bayar nanti". Tapi di balik itu, ada jebakan bunga dan denda yang siap bikin dompet kita boncos kalau tidak hati-hati.
Saya pribadi sih tidak pernah menggunakan paylater untuk membayar sesuatu. Saya tahu sistemnya yang pakai bunga pasti bikin rugi di akhir. Ujung-ujungnya, saya bisa membayar dua kali lipat dari harga asli.
Bukan berarti saya antiteknologi atau antikemudahan. Menurut saya, fitur seperti ini mungkin membantu dalam kondisi darurat tertentu. Namun, yang sering saya lihat justru banyak orang memakai paylater untuk kebutuhan yang sebenarnya bisa ditunda, seperti barang wishlist, skincare, pakaian, atau sekadar ikut tren. Padahal, rasa puas karena membeli sesuatu biasanya hanya sebentar, sedangkan tagihan bisa mengikuti berbulan-bulan.
Jadi, kalau saya ingin sesuatu tapi belum ada uang, lebih baik saya ganti untuk beli yang lebih murah atau sabar sedikit buat menabung duluan. Hidup tenang tanpa utang itu jauh lebih nikmat. Rasanya juga lebih puas ketika membeli sesuatu dari hasil menunggu dan mengumpulkan uang sendiri.
Gara-Gara Pinjamkan Email buat Utang Orang Lain
Keteguhan saya ini makin kuat gara-gara kejadian yang menimpa adik sepupu saya. Jadi ceritanya, adik saya ini cerita ke saya, kalau temannya meminjam email pribadinya untuk daftar di sebuah aplikasi paylater. Janjinya sih, nanti bakal dibayar pas gajian.
Uang yang dipinjam sebenarnya tidak besar, cuma sekitar Rp200.000. Saat itu juga langsung saya tegur adik saya. Kok mau-maunya kasih email pribadi buat bayar utang orang, sekalipun sudah janji mau bayar.
Ya kalau dibayar, kalau enggak? Kan sistem paylater ini bunganya bakal nambah terus. Kalau temannya lari, adik saya yang juga kan yang kebingungan harus menanggung tagihan yang membengkak itu.
Menurut saya, hal seperti ini sering diremehkan karena nominal awalnya terlihat kecil. Orang mungkin berpikir, "Ah cuma dua ratus ribu." Padahal, masalah utamanya bukan cuma jumlah uangnya, tapi risiko ketika identitas atau data pribadi dipakai orang lain.
Jatuh Tempo yang Jadi Malapetaka
Ternyata kekhawatiran saya benar terjadi. Pas jatuh tempo, temannya adik saya ini sebenarnya betulan kasih uangnya. Tapi masalah muncul saat adik saya mau bayar di aplikasi. Ternyata, pilihan pembayarannya lewat dompet digital yang ditawarkan tidak ada yang dipunyai adik saya saat itu.
Mungkin karena waktu itu dia belum punya m-banking, dia jadi bingung sendiri. Dia langsung panik. Ditambah lagi, adik saya ini sedang lembur terus di tempat kerja, jadi belum sempat ke bank.
Bayangkan saja, tagihan yang tadinya hanya Rp200.000—yang harusnya bisa dibayar tanpa paylater karena lewat dua minggu dari jatuh tempo, nominalnya "menebal" jadi Rp623.000. Naik 300% hanya dalam waktu singkat!
Saya ingat waktu itu adik saya benar-benar kepikiran. Mungkin buat sebagian orang nominal segitu tidak besar, tapi rasa takut karena punya tanggungan dan dikejar tenggat itu ternyata bikin beban mental juga. Apalagi utang tersebut sebenarnya bukan dipakai dirinya sendiri.
Beruntung, saya punya m-banking yang ada pada pilihan pembayaran di aplikasinya, jadi saya bantu bayarkan lewat m-banking saya. Untungnya juga, temannya mengerti dan mau mengganti denda yang lewat tenggat tadi. Tapi kalau temannya tidak mau tahu, sudah pasti adik saya yang pusing tujuh keliling.
Sabar Itu Gratis, Bunga Itu Mahal
Dari peristiwa itu, saya ingatkan lagi ke adik saya: jangan pernah lagi mau jadi tempat buat bayarin utang orang lain, apalagi pakai data pribadi kita, sekalipun itu teman sendiri. Akhirnya, dia pun mengerti dan sudah kapok. Karena yang saya lihat, adik saya ini pada saat itu jadi gelisah sendiri, seperti ada beban ya karena utang itu tadi.
Saya juga belajar, ternyata yang susah itu bukan cuma pas cari uangnya, tapi pas uangnya sudah ada tapi tagihannya malah membengkak berkali-kali lipat gara-gara kendala teknis dan denda.
Apa salahnya sih nunggu dan sabar dulu sampai uang terkumpul? Hal-hal ribet seperti inilah yang buat saya malas pakai paylater. Lebih baik beli sesuai kemampuan daripada memaksakan diri tapi akhirnya bikin boncos di belakang.
Buat saya, tenang saat tidur karena tidak punya cicilan atau tagihan jauh lebih berharga daripada rasa senang sesaat karena bisa membeli sesuatu lebih cepat. Kadang, menunda bukan berarti tidak mampu. Bisa jadi itu bentuk kita menjaga diri supaya tidak terjebak masalah keuangan di kemudian hari.
Baca Juga
-
Ironi di Sungai Mahakam: Batu Bara Melaju, Rumah Warga Layu
-
Pensiun Aparat Diulur, Loker Sipil Berumur
-
"Bukan Pendapatan Baru, Tapi Kenapa Dipajaki Tinggi? Menggugat Keadilan di Balik Aturan JHT
-
Kopdes Merah Putih: Niat Mulia Memutus Rantai Tengkulak atau Proyek Ambisius yang Terburu-buru?
-
Yang Datang Setelah Menggosipkan Orang
Artikel Terkait
-
Utang Indonesia Hampir Rp 10 Ribu Triliun, Purbaya: Masih Aman, Harusnya Anda Puji Kita
-
Nunggak Utang Rp 3 Juta, Pria di Cilincing Ditusuk Debt Collector di Tengah Jalan
-
Belanja Online Pakai Paylater: Menyelamatkan di Awal, Menegangkan di Akhir
-
Paylater: Penyelamat saat Terdesak atau Jalan Pintas Menuju Utang?
-
Bijak Menggunakan Paylater: Kunci Kemudahan Hidup atau Jebakan Konsumtif?
Kolom
-
Menabung di Zaman Edan: Antara Pilihan Hidup dan Tuntutan Perut
-
Melihat Bukan Lagi Berarti Percaya: Mengapa Era Deepfake Adalah Ancaman Nyata bagi Realitas Kita
-
Bukan Sekadar Sepak Bola: Alasan Gen Z Tak Mau Ketinggalan Nobar Piala Dunia
-
Sekolah Rakyat: Solusi Kemiskinan atau Sekadar Program Jangka Pendek?
-
Dapur Fiktif Makan Bergizi Gratis: Ke Mana Perginya Anggaran Raksasa Negara?
Terkini
-
Review Film How to Make a Killing: Ambisi Mematikan Pewaris yang Kaya Raya
-
Cepat Move-on, Ariana Grande Diisukan Dekat dengan Mantannya Ricky Alvarez
-
Ulasan Daughters of the Sun and Moon, Angkat Kisah Kelam Imigran Tionghoa
-
4 Capsule Cream Vitamin C yang Bikin Kulit Auto Cerah dan Glowing
-
Jika FIFA Bertindak Tegas, Kuota AFC di Piala Dunia Bisa Berkurang Gegara Tim-Tim Arab!