Siapa sih di antara Generasi Z yang sama sekali nggak pernah nongkrong di kafe estetik?
Kalau pun ada, mungkin jumlahnya tidak banyak. Apalagi dengan kondisi ketika kafe-kafe estetik semakin menjamur di berbagai daerah. Mulai dari di tengah kota hingga di area pegunungan. Hampir setiap minggu selalu muncul tempat baru.
Nongkrong kini bukan lagi sekadar makan atau minum, tetapi juga tempat bekerja, mengambil foto-foto estetik, dan membuat konten. Mayoritas pengunjungnya adalah Generasi Z. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menganggap nongkrong seperti kebutuhan. Mereka datang dengan berbagai alasan—mulai dari mencari suasana baru, mengerjakan tugas, hingga sekadar ingin bersantai sejenak. Semua itu seolah sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.
Sebagai Generasi Z juga, saya pun sebenarnya cukup terpengaruh dengan tren tersebut, meski hanya sesekali saja melakukannya. Sebab bagi saya, meski pulang membawa dokumentasi sesuai yang diharapkan, nongkrong di kafe tetap terasa lebih menguras dompet. Dari situlah kemudian, saya bertanya pada diri sendiri: di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti seperti ini, apakah nongkrong di kafe estetik masih worth it untuk dilakukan?
Saat ini, kita berada di era ketika nongkrong bukan lagi sekadar nongkrong. Jika dulu nongkrong identik dengan ngobrol sederhana, kini harus ada unsur estetika di dalamnya. Anak-anak muda memilih tempat berbincang yang instagramable, rela datang jauh-jauh demi ke tempat yang lagi viral, membeli menu-menu mahal hanya sekadar “biar tahu rasanya”. Nongkrong yang seharusnya menjadi tempat mengobrol santai dengan teman berubah menjadi ajang validasi sosial.
Sementara itu, di balik suasana hangat dan senyum lebar mereka di kamera, ada saldo yang diam-diam terkuras. Ada sebagian yang diam-diam menghitung isi dompet, sebagian lagi sibuk meratap sebab saldo mulai sekarat. Namun, gaya hidup seolah tetap harus dipenuhi. Bahkan ada yang rela mengambil pinjaman demi memenuhi standar media sosial. Dan tanpa sadar, nongkrong sudah bukan lagi tentang menikmati waktu bersama, tetapi juga tentang mempertahankan citra.
Media sosial memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap standar hidup Generasi Z hari ini. Algoritma mendukung konten-konten tren estetika begitu cepat viral. Keinginan untuk mencoba muncul tanpa sadar. Dan jika tidak mengikuti tren yang sedang viral, mereka akan merasa tertinggal.
Saya bukanlah orang yang anti dengan tren ini, bahkan saya pun beberapa kali singgah di kafe-kafe estetik Kediri. Namun, hari ini kita sedang menghadapi kondisi ekonomi yang mengkhawatirkan. Harga berbagai kebutuhan mengalami kenaikan. Sementara banyak orang yang bekerja mati-matian tanpa tambahan penghasilan.
Nongkrong bukan aktivitas yang salah. Kafe estetik pun bisa menjadi tempat melepas penat dan mencari hiburan. Tetapi dengan kondisi rupiah kita hari ini, saya rasa kita perlu berpikir ulang soal prioritas. Kita boleh nongkrong, tetapi jangan sampai itu menjadi gaya hidup yang terus dipaksakan demi validasi sosial.
Tak bisa dipungkiri bahwa hari ini masih banyak anak muda yang sebenarnya sedang berusaha bertahan dengan kondisi finansial mereka masing-masing. Ada yang masih mengandalkan uang saku bulanan, ada yang gajinya pas-pasan, bahkan ada yang diam-diam merasa cemas setiap kali melihat pengeluaran semakin membengkak. Namun karena tren dan lingkungan sosial, banyak orang akhirnya tetap memaksakan diri agar tidak terlihat tertinggal.
Jadi jika harus menjawab pertanyaan “worth it atau tidak?”, maka jawabannya kembali pada pilihan dan kondisi masing-masing. Bagi saya pribadi, sesekali nongkrong di kafe itu tetap boleh dilakukan dan terasa menyenangkan. Namun di tengah kondisi ekonomi hari ini, menikmati hidup tidak selalu harus dilakukan dengan mengikuti semua tren yang sedang viral. Kadang, hidup sederhana tanpa memaksakan diri justru terasa lebih menenangkan dibanding terus mengejar gaya hidup yang sebenarnya tidak benar-benar kita butuhkan.
Baca Juga
-
Penuh Plot Twist! Ini 5 Rekomendasi Drama Korea yang Cocok Ditonton Setelah The Scarecrow
-
Ketika Keresahan Masyarakat Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Nggak Pakai Dolar"
-
Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?
-
Glow Up atau Tekanan Sosial? Saat Perempuan Dipaksa Selalu Terlihat Sempurna
-
Tayang Episode 5 dan 6, Gold Land Semakin Menampakkan Sisi Gelap Manusia
Artikel Terkait
-
Dipaksa, Bukan Dipilih: Realita Gaya Hidup Sederhana Anak Muda Hari Ini
-
Paylater dan Gaya Hidup Gen Z: Solusi Praktis atau Jebakan Finansial?
-
Tidak Lagi Ingin Awet Muda, Tren Kecantikan Beralih Jadi Menua dengan Sehat
-
Gaya Stylish tapi Tetap Nyaman? Ini Tips Memilih Busana Anak ala Fashion Stylist Doley Tobing
-
Permintaan Emas Batangan di Indonesia Melonjak 47%, Warga Ogah Lirik Saham?
Kolom
-
Kenapa Baca Banyak Buku Tidak Otomatis Membuat Seseorang Pandai Menulis?
-
Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
-
Budaya Belanja Generasi Sekarang: Antara Self-Reward dan Self-Destruction
-
Dipaksa, Bukan Dipilih: Realita Gaya Hidup Sederhana Anak Muda Hari Ini
-
Menilik Program MBG terhadap Tumpukan Sampah Sisa Makanan
Terkini
-
Belajar dari The Story of My Life: Menyerah Tak Akan Mengubah Keadaan
-
BMW Rilis Vision K18 Concept Bike, Padukan Luxury Bagger dan Nuansa Aviasi
-
Sinopsis Kartavya, Film Kriminal India Terbaru Saif Ali Khan di Netflix
-
Kenapa Orang Rela Antre demi AP x Swatch? Fenomena FOMO dan Budaya Luxury
-
Gamers Tidak Selalu Gagal: Perspektif Baru dari Dear Parents