Ada satu nasihat yang sangat sering diulang di dunia kepenulisan. Yang kerap kali dianggap sesuatu yang kebenarannya mutlak dan justru melupakan esensi terpentingnya.
"Kalau mau jadi penulis, baca buku yang banyak."
Nasihat itu memang tidak salah. Masalahnya, banyak orang memahami kalimat tersebut secara keliru. Mereka mengira semakin banyak membaca buku, otomatis kemampuan menulis mereka juga akan meningkat dengan sendirinya.
Padahal kenyataannya, membaca dan menulis adalah dua keterampilan yang berbeda.
Seseorang bisa menjadi pembaca yang sangat baik, tetapi tetap kesulitan menulis. Sebaliknya, ada orang yang tidak membaca terlalu banyak buku akademis, tetapi mampu menulis dengan kuat karena terbiasa melatih pikirannya lewat tulisan.
Karena itu, membaca buku memang penting, tetapi tidak cukup. Menulis tetap harus dilatih dengan menulis.
Masalah terbesar banyak calon penulis hari ini adalah terlalu lama menjadi “konsumen” tulisan tanpa pernah benar-benar mulai menciptakan tulisan sendiri. Mereka sibuk mengoleksi buku, menyimpan kutipan, menonton konten tentang teknik menulis, tetapi takut duduk dan menghadapi halaman kosong.
Padahal kemampuan menulis bukan dibentuk oleh teori semata, melainkan oleh repetisi.
Sama seperti orang yang membaca banyak buku tentang berenang tidak otomatis bisa berenang, seseorang yang membaca ratusan novel juga tidak otomatis mampu menulis novel yang baik. Ia mungkin memahami cerita, mengenali gaya bahasa, atau memiliki wawasan luas, tetapi otot menulisnya belum terlatih.
Karena menulis bukan hanya soal pengetahuan. Menulis adalah keterampilan teknis sekaligus keterampilan berpikir.
Dalam proses menulis, seseorang harus belajar menyusun ide, mengatur alur, memilih diksi, membangun ritme kalimat, menjaga fokus pembahasan, hingga memahami emosi pembaca. Semua itu tidak bisa dikuasai hanya dengan membaca pasif.
Ia harus dipraktikkan.
Namun bukan berarti membaca tidak penting. Justru membaca memiliki fungsi yang sangat besar dalam membentuk kualitas tulisan.
Membaca memperluas kosakata. Membaca memperkaya perspektif. Membaca membuat seseorang mengenal berbagai gaya penulisan, cara berpikir, sudut pandang, dan struktur argumentasi. Orang yang jarang membaca biasanya menulis dengan ide yang sempit dan pola kalimat yang berulang.
Tulisan tanpa bacaan sering terasa kosong.
Sebaliknya, membaca tanpa latihan menulis sering berakhir menjadi pengetahuan yang hanya mengendap di kepala tanpa pernah berubah menjadi karya.
Karena itu, membaca dan menulis sebenarnya bukan hubungan sebab-akibat langsung, melainkan hubungan saling melengkapi. Membaca mengisi “bahan bakar,” sementara menulis melatih bagaimana bahan bakar itu diolah menjadi sesuatu yang utuh.
Sayangnya, banyak orang terjebak pada ilusi produktivitas literasi. Mereka merasa sudah “dekat” dengan dunia kepenulisan hanya karena membaca banyak buku. Ada rasa puas setelah menyelesaikan bacaan, seolah kemampuan menulis ikut naik secara otomatis. Padahal ketika diminta menulis satu halaman saja, mereka tetap bingung memulai.
Ini terjadi karena otak terbiasa menerima ide, bukan memproduksi ide.
Menulis sendiri sering kali terasa menyakitkan di awal. Saat membaca, kita menikmati hasil akhir pemikiran orang lain yang sudah rapi. Tetapi ketika menulis, kita harus berhadapan dengan kekacauan pikiran sendiri. Kalimat terasa jelek, ide terasa berantakan, dan tulisan sering tidak sesuai ekspektasi.
Namun justru proses itulah yang membentuk kemampuan menulis.
Tidak ada penulis hebat yang lahir hanya dari membaca. Semua penulis besar melewati fase tulisan buruk, tulisan ditolak, tulisan berantakan, bahkan tulisan yang mungkin memalukan jika dibaca ulang hari ini.
Karena kualitas tulisan tumbuh dari jam terbang.
Ironisnya, media sosial sekarang kadang memperkuat kesalahpahaman ini. Banyak konten motivasi literasi terlalu menekankan baca buku sebanyak mungkin tanpa diimbangi dorongan untuk mulai menulis secara konsisten.
Akibatnya, orang sibuk mengejar jumlah buku bacaan, tetapi tidak pernah membangun disiplin menulis.
Padahal menulis itu mirip olahraga. Membaca teori fitness tidak akan membentuk otot kalau tubuh tidak pernah bergerak.
Maka nasihat yang lebih tepat adalah:
Bacalah untuk memperkaya pikiran, lalu menulislah untuk melatih kemampuan.
Mulailah dari tulisan sederhana. Catatan harian, opini pendek, ulasan buku, atau sekadar menuangkan keresahan pribadi. Tidak perlu langsung sempurna. Karena dalam dunia menulis, kemampuan tidak lahir dari menunggu siap, tetapi dari keberanian untuk terus mencoba.
Pada akhirnya, membaca memang membuka wawasan. Tetapi hanya menulis yang bisa membentuk seorang penulis.
Baca Juga
-
Boyfriend on Demand: Kala AI Terasa Lebih Nyata daripada Manusia
-
Kritik Tajam di Film Gowok: Tradisi yang Terlalu Lama Disembunyikan
-
Empower Yourself: Pengingat Bahwa Hidup Dimulai dari Cara Kita Berpikir
-
Krisis Lapangan Kerja Formal: Biang Kerok di Balik UMR Masuk Benefit!
-
Manajemen Hati Agar Tak Mudah Iri: Pelajaran di Buku Hujan Duit Dari Langit
Artikel Terkait
Kolom
-
Dilema Finansial Perempuan: Gaji Tak Seberapa, Ekspektasi Setinggi Langit
-
Budaya Belanja Generasi Sekarang: Antara Self-Reward dan Self-Destruction
-
Dipaksa, Bukan Dipilih: Realita Gaya Hidup Sederhana Anak Muda Hari Ini
-
Menilik Program MBG terhadap Tumpukan Sampah Sisa Makanan
-
Menghindari Perangkap Thucydides: Alarm Xi Jinping untuk Trump
Terkini
-
Boyfriend on Demand: Kala AI Terasa Lebih Nyata daripada Manusia
-
No Place to Be Single, Alasan Kota Kecil Selalu Cocok untuk Film Romantis
-
Sisa 1 Hari Lagi, Marapthon Siapkan Konser Closing Besar di Istora Senayan
-
Horor Absurd Nih! Film Dukun Magang tentang Mahasiswa dan Kuntilanak Hitam
-
Petir Cup 2026 Usai, Semangat Menendang Masih Menggelegar