Sobat Yoursay, pernahkah kalian mendengar kalimat, "kamu beli, aku beli"?
Meskipun tidak semua, saya rasa banyak orang yang familiar dengan istilah tersebut. Di sekitar kita, sering terlihat orang-orang yang membeli sesuatu bukan karena benar-benar merasa butuh, tetapi karena melihat orang terdekatnya memiliki benda itu. Contoh sederhananya, saat melihat teman membeli tumbler lucu kita ikut beli, saat teman checkout baju-baju yang lagi tren kita ikut checkout, saat teman memakai parfum yang wanginya enak kita jadi ikut penasaran ingin beli, hingga saat ada orang lain melakukan photobox estetik, kita juga ikut-ikutan melakukan hal yang sama.
Lantas apakah hal itu salah?
Tentu tidak. Karena bagaimanapun juga, kita harus mengakui bahwa orang terdekat memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pola konsumsi kita sehari-hari. Rekomendasi mereka terasa jauh lebih meyakinkan daripada iklan media sosial. Dan tanpa kita sadari, lingkungan sosial perlahan membentuk standar gaya hidup.
Budaya "saling meracuni" kini seakan sudah bukan hal asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Akibatnya, konsumerisme semakin dinormalisasi. Banyak orang yang membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena dorongan sosial.
Hal yang mendukung situasi itu pun semakin banyak muncul seiring waktu. Mulai diskon sekian persen, promo grand opening, flash sale tanggal kembar, hingga promo buy one get one. Sehingga kalimat-kalimat seperti: "Gas, checkout bareng,", "Cobain ini, yuk,", atau "Ayo beli ini, lagi ada promo," sudah jadi kalimat yang akrab terdengar di telinga. Tanpa sadar, pengeluaran kita bertambah. Kebocoran finansial semakin sering terjadi.
Fenomena seperti ini menunjukkan bahwa konsumerisme kini tidak lahir hanya karena kebutuhan pribadi. Tetapi juga karena ada pengaruh eksternal yang membuat seseorang merasa "ingin ikut memiliki" sesuatu yang dimiliki orang sekitar. Banyak dari mereka takut dianggap ketinggalan tren, kurang update, atau tidak nyambung dengan circle pertemanannya jika tidak mengikuti hal yang sedang ramai.
Kehadiran media sosial juga membuat fenomena ini semakin kuat. Berbagai konten "racun-meracuni" berseliweran memenuhi timeline. Namun, menariknya, hari ini pengaruh konsumerisme tidak hanya datang dari influencer besar, tetapi juga dari teman, saudara, dan orang-orang terdekat kita sendiri. Karena berasal dari orang yang dikenal, rekomendasi tersebut terasa lebih meyakinkan dan sulit diabaikan.
Meski demikian, bukan berarti orang-orang terdekat sengaja membuat kita menjadi konsumtif. Sebagian besar dari mereka mungkin hanya ingin berbagi hal yang disukai atau memberi rekomendasi tanpa niat buruk. Persoalannya terletak pada bagaimana kita mengontrol diri di tengah dorongan sosial yang terus muncul.
Jika terus dibiarkan, kebiasaan membeli karena ikut-ikutan dapat menjadi masalah finansial yang cukup serius. Sedikit demi sedikit uang habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Ironisnya, banyak barang yang akhirnya hanya dipakai sesaat lalu terlupakan begitu saja. Di titik ini, seseorang mulai kesulitan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Lantas apa yang harus kita lakukan?
Menurut saya pribadi, ada batasan penting yang perlu benar-benar kita terapkan agar hal ini tidak menjadi kebiasaan. Kita boleh mengikuti tren, asalkan jangan sampai memaksakan diri bahkan berutang demi hal tersebut. Di sisi lain, kita perlu mengingat juga bahwa tidak semua tren harus diikuti, tidak semua rekomendasi harus dicoba. Sebab setiap orang memiliki kondisi finansial yang berbeda. Itulah mengapa, kita perlu memahami batasan finansial kita sendiri. Karena hal-hal yang terasa ringan dan mudah bagi orang lain, belum tentu aman untuk kondisi keuangan kita hari ini. Apalagi di tengah situasi ekonomi hari ini yang membuat banyak orang harus lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan.
Selain itu, ketika pengaruh sosial sudah semakin kuat, kemampuan mengontrol diri pun menjadi salah satu bentuk kesadaran finansial yang paling penting. Sebab terkadang, yang membuat seseorang boros bukan kebutuhan hidupnya, melainkan keinginan untuk “ikut memiliki” seperti orang-orang di sekitarnya.
Baca Juga
-
In This Economy, Apakah Nongkrong di Kafe Estetik Masih Worth It?
-
Penuh Plot Twist! Ini 5 Rekomendasi Drama Korea yang Cocok Ditonton Setelah The Scarecrow
-
Ketika Keresahan Masyarakat Terasa Disederhanakan dalam Kalimat "Nggak Pakai Dolar"
-
Dapur, Sumur, dan Kasur: Benarkah Peran Perempuan Hanya Sebatas Itu?
-
Glow Up atau Tekanan Sosial? Saat Perempuan Dipaksa Selalu Terlihat Sempurna
Artikel Terkait
-
In This Economy, Apakah Nongkrong di Kafe Estetik Masih Worth It?
-
Tidak Lagi Ingin Awet Muda, Tren Kecantikan Beralih Jadi Menua dengan Sehat
-
Gaya Stylish tapi Tetap Nyaman? Ini Tips Memilih Busana Anak ala Fashion Stylist Doley Tobing
-
Permintaan Emas Batangan di Indonesia Melonjak 47%, Warga Ogah Lirik Saham?
-
Tren Estetika Bergeser ke Non-Invasif, Teknologi Pengencangan Kulit Korea Mulai Populer di Indonesia
Kolom
-
Strategi Diskon dan Flash Sale: Solusi Bisnis atau Jebakan Konsumerisme?
-
Koperasi Desa Merah Putih, Apakah dapat Mengancam Ekonomi UMKM?
-
Tren Less Waste di Media Sosial: Konten Estetik vs Aksi Nyata, Menang Siapa?
-
Ironi Petani Bertangan Keras dan Anggaran Modifikasi Mobil Dinas
-
Perempuan dan Pentingnya Budaya Literasi: Bekal Melek di Era Digital!
Terkini
-
Lebih Sadis dan Kocak dari Final Destination, The Monkey Bikin Ketagihan!
-
Saat SMA Hyosan Menjadi Kuburan Hidup dalam All of Us Are Dead
-
Drama yang Bikin Susah Move On: Snowdrop dan Luka yang Ditinggalkannya
-
Mencicipi Rendang dan Ikan Bakar Juara di Rumah Makan Ganto Sori Kuala Tungkal
-
Dilan 1990: Novel Romantis yang Manis Sekaligus Problematis