Hayuning Ratri Hapsari | Oktavia Ningrum
Cuplikan Scene All of Us Are Dead (IMDB)
Oktavia Ningrum

Bayangin, lagi asik menjalani masa-masa sekolah dan caper sama crush malah kena wabah zombie. All of Us Are Dead menjadi salah satu drama Korea bertema zombie yang cukup ramai dibicarakan sejak penayangannya di Netflix pada tahun 2022.

Diadaptasi dari webtoon populer Now at Our School karya Joo Dong-geun, drama ini berhasil mencuri perhatian global berkat perpaduan antara horor, survival, konflik remaja, dan kritik sosial yang terasa dekat dengan kehidupan nyata.

All of Us Are Dead sukses besar secara global. Drama ini tayang di lebih dari 190 negara melalui Netflix dan sempat menduduki peringkat pertama acara TV terpopuler selama berminggu-minggu. Kesuksesan tersebut juga didukung oleh meningkatnya popularitas drama Korea di dunia internasional.

Sinopsis All of Us Are Dead

Drama ini mengambil latar di SMA Hyosan, sebuah sekolah yang mendadak berubah menjadi neraka setelah wabah zombie menyebar dengan sangat cepat. Awalnya hari berjalan normal seperti biasa.

Para siswa datang ke sekolah, bercanda dengan teman-teman mereka, hingga menjalani drama remaja sehari-hari. Namun semuanya berubah ketika sebuah virus misterius mulai menginfeksi murid-murid sekolah dan mengubah mereka menjadi zombie ganas.

Menariknya, wabah ini ternyata bukan muncul begitu saja. Virus tersebut berasal dari eksperimen seorang guru biologi yang mencoba menciptakan “kekuatan” untuk melindungi anaknya dari perundungan. Alih-alih menjadi solusi, eksperimen itu justru berubah menjadi bencana besar yang menghancurkan seluruh kota.

Virus menyebar melalui darah dan luka gigitan, membuat siapa pun yang terinfeksi berubah menjadi zombie dalam waktu singkat.

Hal yang membuat All of Us Are Dead berbeda dari drama zombie biasa adalah fokusnya pada kehidupan remaja dan berbagai masalah sosial yang mereka hadapi. Penulis skenario Chun Sung-il memodifikasi cerita webtoon aslinya dengan memasukkan isu-isu seperti bullying, kekerasan seksual, kesenjangan sosial, hingga kehamilan remaja.

Karena itu, drama ini bukan sekadar tentang bertahan hidup dari zombie, tetapi juga tentang bagaimana tekanan sosial bisa menghancurkan manusia bahkan sebelum monster datang.

Di tengah kekacauan itu, hubungan antarkarakter menjadi kekuatan utama cerita. Lead couple Nam On-Jo dan Lee Cheong-san menghadirkan dinamika hubungan yang manis sekaligus menyedihkan. Persahabatan mereka yang perlahan berkembang menjadi cinta terasa natural dan menggemaskan. Cheong-san terutama menjadi karakter yang sangat mudah disukai karena keberanian dan ketulusannya melindungi orang-orang yang ia sayangi.

Kelebihan dan Kekurangan

Pasangan yang paling mencuri perhatian banyak penonton justru adalah Lee Soo-hyeok dan Choi Nam-ra. Chemistry keduanya terasa kuat sepanjang drama. Soo-hyeok yang populer dan atletis dipasangkan dengan Nam-ra yang dingin, cerdas, dan tertutup.

Interaksi mereka memberi warna emosional di tengah situasi penuh darah dan kekacauan. Aku berharap porsi cerita mereka lebih banyak karena visual dan chemistry keduanya benar-benar kuat.

Meski memiliki banyak sisi menarik, drama ini juga tidak lepas dari kekurangan. Sebagai drama zombie, beberapa bagian terasa kurang maksimal dalam membangun ketegangan dan menyusun penyelesaian konflik. Ada beberapa adegan yang terasa terlalu panjang atau keputusan karakter yang kadang tidak masuk akal. Selain itu, pengembangan cerita di beberapa bagian terasa tidak konsisten.

Anehnya, sumber ketegangan terbesar dalam drama ini justru bukan para zombie, melainkan karakter manusia bernama Yoon Gwi-nam. Diperankan dengan sangat intens, Gwi-nam adalah siswa pembully yang berubah menjadi setengah manusia setengah zombie.

Setiap kali ia muncul, suasana langsung berubah menjadi mencekam. Ia brutal, penuh dendam, dan hampir mustahil dibunuh. Kehadirannya membuat ancaman terasa jauh lebih personal dibanding gerombolan zombie biasa.

Drama ini juga cukup berhasil menggambarkan survivor’s guilt atau rasa bersalah yang dialami para penyintas. Anak-anak yang berhasil selamat harus melihat teman, guru, bahkan keluarga mereka berubah menjadi monster.

Dalam situasi seperti itu, mereka tetap berusaha mempertahankan sisi kemanusiaan mereka. Ada yang rela berkorban demi teman, ada yang akhirnya mengungkapkan perasaan cinta, dan ada pula yang memilih melindungi orang lain meski nyawanya sendiri terancam.

Visual zombie dalam drama ini juga patut diapresiasi. Gerakan para zombie terasa agresif, cepat, dan liar. Adegan pengejaran di lorong sekolah, tangga darurat, hingga ruang kelas berhasil menciptakan suasana yang intens.

All of Us Are Dead bukan drama zombie yang sempurna. Namun kombinasi antara horor, aksi, drama remaja, dan kritik sosial membuat serial ini tetap menarik untuk ditonton. Di balik darah dan kekacauan, drama ini sebenarnya berbicara tentang ketakutan, persahabatan, cinta, dan perjuangan manusia untuk tetap bertahan di tengah dunia yang runtuh.

Identitas Serial

  • Judul: All of Us Are Dead
  • Tanggal Rilis: 28 Januari 2022 
  • Platform Streaming: Tersedia di Netflix
  • Jumlah Episode: 12 Episode
  • Genre: Zombie Apocalypse, Horror, Coming-of-age, Thriller
  • Sutradara: Lee Jae-kyoo dan Kim Nam-su
  • Penulis Naskah: Chun Sung-il
  • Rumah Produksi: Film Monster & Kim Jong-hak Production

Pemeran Utama:

  • Park Ji-hu sebagai Nam On-jo
  • Yoon Chan-young sebagai Lee Cheong-san
  • Cho Yi-hyun sebagai Choi Nam-ra
  • Lomon sebagai Lee Su-hyeok
  • Yoo In-soo sebagai Yoon Gwi-nam
  • Lee Yoo-mi sebagai Lee Na-yeon