Hayuning Ratri Hapsari | Sukatman Sukatman
Ilustrasi situasi pertahanan militer di medan perang. (Pexels/Rik Schots)
Sukatman Sukatman

Dunia baru saja bernapas agak lega setelah melewati berbagai dinamika geopolitik yang melelahkan, tapi tampaknya ketenangan itu tidak akan bertahan lama. Belum lama ini, kabar mengejutkan datang dari Washington.

Donald Trump kembali melempar sinyal panas. Ia mengancam akan menyerang balik Iran jika negara tersebut berani macam-macam. Bagi sebagian orang, ini mungkin dianggap sebagai gertakan politik biasa khas Trump.

Namun, jika kita melihat rekam jejaknya, meremehkan ucapan pria berambut nyentrik ini adalah sebuah kekeliruan besar. Masalahnya, ketika dua kekuatan besar ini saling gertak, dampaknya tidak hanya berhenti di ruang sidang PBB. Riaknya bisa sampai ke dapur rumah kita di Indonesia.

Api di Timur Tengah, Asapnya Sampai ke Sini

Mengapa isu ini sangat penting untuk kita bahas? Jawabannya sederhana: dunia hari ini sudah saling terhubung tanpa sekat. Timur Tengah bukan lagi wilayah jauh yang hanya kita lihat di peta atau berita televisi. Wilayah tersebut adalah jantung pasokan energi dunia. Ketika Trump mulai menabuh genderang perang, pasar global langsung merespons dengan kecemasan yang tinggi.

Jika ancaman serangan itu benar-benar menjadi nyata, rantai pasokan minyak dunia dipastikan bakal tersendat. Efek domino dari ketegangan ini sangatlah nyata. Bagi masyarakat internasional, ketidakstabilan di Selat Hormuz—jalur urat nadi pengiriman minyak—bisa memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) secara global. Ketika harga minyak mentah melesat bak roket, negara-negara berkembang seperti Indonesia akan langsung terkena imbasnya. Pemerintah akan dihadapkan pada pilihan buah simalakama: menaikkan subsidi yang menguras APBN, atau menaikkan harga BBM domestik yang berujung pada naiknya harga beras, cabai, dan kebutuhan pokok lainnya. Jadi, jangan heran kalau ego para pemimpin di belahan bumi barat sana justru bikin dompet masyarakat lokal di sini makin cekak.

Déjà Vu Politik Mercusuar yang Usang

Melihat gaya komunikasi Trump, kita seperti diajak menonton film usang yang diputar berulang-ulang. Pendekatan cowboy diplomacy yang mengedepankan otot ketimbang otak ini seolah mengabaikan fakta bahwa perang tidak pernah menghasilkan pemenang sejati. Yang ada hanyalah pihak yang kalah dan pihak yang hancur lebur. Narasi ancaman serangan balik ini sering kali digunakan sebagai komoditas politik domestik demi menggalang simpati pemilih, sebuah strategi klasik untuk menunjukkan siapa yang paling kuat di panggung dunia.

Namun, di era modern ini, pamer kekuatan semacam itu rasanya sudah sangat tidak relevan. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita baru saja mencoba bangkit dari krisis ekonomi, menghadapi ancaman perubahan iklim, dan menyelesaikan berbagai konflik regional yang belum kunjung usai. Menambah bumbu konflik baru di Timur Tengah sama saja dengan menyiram bensin ke dalam api yang sedang membara. Pesan moral dari situasi ini sangat jelas: ego seorang pemimpin seharusnya tidak boleh menggadaikan kedamaian hidup miliaran manusia. Pemimpin yang hebat bukanlah mereka yang paling lihai melempar ancaman, melainkan mereka yang mampu menahan diri dan duduk bersama di meja perundingan untuk mencari jalan keluar terbaik.

Ruang Dialog yang Kian Menyempit

Kritik terbesar tentu kita layangkan pada minimnya ruang diplomasi yang tersisa ketika retorika agresif sudah telanjur dilempar ke publik. Saat sebuah negara memilih untuk menggunakan bahasa ancaman, negara lawan biasanya akan merespons dengan hal yang sama demi menjaga harga diri. Lingkaran setan saling gertak ini yang sering kali lepas kendali dan memicu konflik terbuka akibat salah kalkulasi.

Kita sebagai masyarakat sipil global tidak boleh tinggal diam dan sekadar menjadi penonton pasif. Opini publik yang kuat harus terus disuarakan untuk mendesak para pemimpin dunia agar kembali ke jalur hukum internasional. PBB dan komunitas internasional harus lebih bertaji, tidak boleh mlempem seperti kerupuk yang kena air ketika menghadapi negara-negara adidaya yang mulai bertingkah semaunya.

Menolak Menjadi Korban Ego Penguasa

Pada akhirnya, ancaman yang dilemparkan Trump bukan sekadar berita politik luar negeri yang bisa kita lewatkan begitu saja sambil lalu. Ini adalah peringatan dini bagi kita semua tentang betapa rapuhnya kedamaian global saat ini. Kita harus sadar bahwa kebijakan luar negeri yang agresif dari negara adidaya memiliki dampak yang sangat nyata terhadap stabilitas ekonomi di tingkat akar rumput, termasuk di warung-warung kelontong sebelah rumah kita.

Menjaga perdamaian dunia adalah tanggung jawab bersama, dan itu dimulai dari sikap kritis kita terhadap setiap narasi kekerasan yang diproduksi oleh para penguasa. Kita tentu berharap akal sehat masih menjadi pemenang di atas ego politik yang membubung tinggi.

Bagaimana menurut pandangan Anda? Apakah ancaman dari Donald Trump ini murni taktik politik semata, atau justru awal dari ketegangan baru yang mengerikan di Timur Tengah? Dan seberapa siap kita di Indonesia menghadapi dampak ekonominya jika konflik ini benar-benar pecah?

Yuk, bagikan analisis, opini, atau unek-unek Anda secara bijak di kolom komentar di bawah ini! Mari kita diskusikan bersama.