Saya pernah berada di fase ketika belanja terasa seperti hadiah paling masuk akal untuk diri sendiri. Setelah hari melelahkan, tugas menumpuk, atau masalah pribadi yang bikin pikiran penuh, membuka aplikasi belanja terasa seperti pelarian yang menenangkan.
Awalnya sederhana, hanya membeli camilan favorit, skincare, atau pakaian yang “sudah lama diincar”. Namun lama-lama, saya sadar kalau kebiasaan itu datang hampir setiap kali suasana hati sedang buruk.
Saya mulai menggunakan kata “healing” untuk membenarkan semuanya. Kalimat seperti “aku pantas beli ini” atau “sesekali nggak apa-apa” menjadi pembelaan yang terus saya ulang. Padahal kenyataannya, saya belum butuh-butuh amat.
Saya hanya merasakan ada kepuasan sesaat ketika paket datang. Sayangnya, rasa senang itu cepat hilang dan dalih self-reward berganti rasa bersalah saat melihat saldo rekening berkurang.
Self-reward sendiri sebenarnya tidak salah, karena menghargai diri sendiri itu penting. Namun saya mulai bertanya-tanya: apakah semua bentuk self-reward harus selalu mengeluarkan uang?
Healing atau Pelarian Emosi?
Saya pernah merasa kalau belanja membuat hidup lebih ringan. Saat memilih barang, memasukkannya ke keranjang, lalu menunggu paket datang, ada rasa senang yang sulit dijelaskan.
Aktivitas itu memberi distraksi dari stres yang sedang dirasakan. Namun semakin saya pikirkan, belanja sering kali bukan solusi, melainkan pelarian sementara sebab masalah saya tidak benar-benar selesai.
Pikiran tetap penuh, kecemasan tetap ada. Bedanya hanya saya punya barang baru dan pengeluaran tambahan. Saya pun sadar kalau kebiasaan ini cukup berbahaya karena datang secara halus.
Tidak terasa seperti tindakan besar, tapi jika dilakukan terus-menerus, dampaknya nyata. Diskon kecil, voucher belanja, gratis ongkir, flash sale, dan paylater membuat saya merasa pengeluaran itu “murah”.
Padahal saat dijumlahkan di akhir bulan, nominalnya cukup membuat panik. Ironisnya, saya pernah merasa stres karena kondisi finansial, lalu mencoba menghilangkan stres itu dengan kembali belanja. Siklusnya terus berulang tanpa sadar.
Menurut saya, inilah yang banyak terjadi pada generasi sekarang. Kita hidup di era ketika semua hal bisa dibeli dengan cepat. Aplikasi belanja selalu ada di genggaman hingga mudah checkout barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Media Sosial dan Tekanan Gaya Hidup
Saya juga menyadari jika media sosial punya pengaruh besar terhadap kebiasaan konsumtif. Hampir setiap hari kita melihat konten “racun” belanja hingga gaya hidup estetik yang tampak menyenangkan.
Tanpa sadar, saya sering membandingkan hidup sendiri dengan apa yang terlihat di layar. Ada dorongan untuk terus mengikuti tren dan membeli sesuatu bukan karena benar-benar suka agar tidak merasa tertinggal.
Rasanya seperti ada tekanan tidak tertulis kalau hidup yang bahagia adalah hidup yang penuh barang baru. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Banyak konten di medsos hanya menunjukkan sisi menyenangkan dari belanja, tanpa memperlihatkan dampak finansialnya.
Ingat, tidak semua orang punya kondisi ekonomi yang sama. Namun, medsos sering membuat konsumsi terlihat seperti kebutuhan wajib hingga kita kadang memaksakan diri demi memenuhi standar gaya hidup tertentu.
Belajar Membedakan Kebutuhan dan Keinginan
Terkadang, membedakan kebutuhan dan keinginan bisa cukup sulit. Semua terasa penting ketika emosi sedang tidak stabil. Barang kecil pun terasa seperti “penyelamat” suasana hati.
Namun, sekarang saya mulai belajar untuk menahan diri sebelum membeli sesuatu. Saya mencoba bertanya pada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar butuh ini, atau hanya sedang ingin merasa lebih baik?”
Saya juga mulai mencari bentuk healing lain yang tidak selalu menguras uang. Misalnya berjalan sore, mendengarkan musik, menulis jurnal, memasak makanan favorit di rumah, atau sekadar tidur lebih awal.
Memang tidak selalu memberi rasa senang instan seperti belanja, tapi setidaknya tidak meninggalkan penyesalan finansial setelahnya. Bagi saya, self-care tidak harus mahal. Sebab kadang istirahat lebih baik dibanding barang baru.
Menikmati Hidup Tanpa Harus Boros
Saya tidak mengatakan kalau belanja adalah hal buruk. Membeli sesuatu untuk diri sendiri sesekali tentu wajar. Saya juga masih melakukannya, kok. Hanya saja saya mulai belajar mendefinisikan ulang makna healing.
Healing seharusnya membuat hidup lebih tenang, bukan malah menambah beban finansial. Karena pada akhirnya, stres akibat uang yang habis sering kali jauh lebih lama dibanding rasa senang saat checkout barang.
Saya percaya banyak orang pernah ada di fase ini: merasa sedih lalu belanja, merasa lelah lalu checkout, merasa kosong lalu mencari kebahagiaan lewat paket yang datang ke rumah.
Namun semakin dewasa, saya mulai memahami jika kebahagiaan tidak selalu harus dibeli. Kadang, hidup yang sederhana tapi finansial tetap aman justru terasa jauh lebih menenangkan.
Baca Juga
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Jeda dari Media Sosial: Kita Tetap Baik-baik Saja Tanpa Update Setiap Hari
-
Fenomena Information Overload: Terlalu Banyak Informasi, Terlalu Minim Jeda
-
Tidak Selalu Harus Hadir: Mengapa Memberi Ruang dalam Relasi Itu Penting?
-
Rekonstruksi Mindset: Jeda Itu Ruang Istirahat, Bukan Tempat Cari Jawaban
Artikel Terkait
Kolom
-
Digital Detox Bukan Cuma Tren: Kita Perlu Jeda dari Kebisingan Media Sosial
-
Di Balik Putusan MK soal Gibran, Rakyat Cuma Penonton dalam Konflik Elite
-
Memutus Lingkaran Setan Pungli: Negara Bukan Tempat yang Layanannya Ditentukan Isi Dompet
-
Jerat "Child Grooming" Makin Berbahaya, Orang Tua Harus Menyelamatkan Anak
-
Dilema Sandwich Generation: Ketika Memilih Diri Sendiri Terasa Sangat Egois
Terkini
-
I Need Space: Belajar Mengelola Emosi Lewat Petualangan di Luar Angkasa
-
Perkuat Jejaring Pers, Forum Wartawan Kebangsaan Bentuk Koordinator di DIY
-
Petani di Tengah Perubahan Iklim: Mengapa Kemitraan Inklusif Menjadi Penting?
-
Comeback dengan Lagu Stay, Yuqi i-dle Yakin Hari Esok Pasti Akan Lebih Baik
-
Ratusan Ton Karbon untuk Satu Film: Saatnya Industri Sinema Bergerak Lebih Hijau