Mengutip dari Suara.com, militer Israel telah menangkap beberapa jurnalis Indonesia ketika melakukan misi kemanusiaan di wilayah perairan internasional. Tindakan pelanggaran HAM ini mendapatkan atensi dari masyarakat di segala penjuru tanah air.
Penahanan jurnalis tersebut dikecam oleh pemerintah dan warganet dengan harapan mereka bisa segera dibebaskan. Jurnalis yang ditangkap oleh Israel di antaranya berasal dari sebagian besar media massa arus utama.
Israel sering kali memicu konflik dengan negara yang tidak bersalah. Sikap pemerintahnya seperti anak kecil yang kurang perhatian. Sekalinya mendapat perhatian, mereka bertindak keterlaluan pada negara lain, termasuk salah satunya Indonesia. Meskipun banyak sekali problematik, Israel akan baik-baik saja karena presiden Negeri Paman Sam tentu berada di garis terdepan yang selalu menjadi pahlawan. Bahkan, dampaknya tidak akan begitu terasa terlebih lagi ketidakadilan masih berjalan serampangan.
Tidak hanya di negara kita yang mengalami krisis penegakan hukum, sampai saat ini negara lain di dunia juga merasakan hal yang sama. Kendati demikian, hari ini kita perlu membuka mata bahwa jurnalis tanah air sedang dirampas haknya.
Tindakan militer Israel merupakan bentuk pelanggaran HAM yang tidak hanya menimpa Palestina, melainkan juga merambah ke negara-negara lain yang tidak ikut campur tangan dalam peperangan. Oleh sebab itu, pemerintah dan jajaran militer Israel harus mendapat hukuman berat.
Secara tidak sadar, sebagai masyarakat bahkan negara kita sendiri telah dirugikan karena aksi keji militer Israel, seperti tindakan membombardir Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang mana sebenarnya dana pembangunan tersebut berasal dari donasi masyarakat melalui penggalangan bantuan.
Kemudian mereka telah melukai prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL di Lebanon, belasan pejabat senior pemerintah menjadi sasaran mata-mata Israel, hingga melakukan propaganda yang mampu memunculkan polarisasi.
Setelah militer Israel merugikan banyak pihak, Indonesia justru tanpa ragu bergabung dengan Board of Peace untuk mendorong solusi dua negara. Lantas, apakah masih perlu memiliki rasa kemanusiaan kepada militer-militer mereka yang berperilaku jahanam? Nyatanya, negara kita masih memberi belas kasihan untuk mereka mendirikan tanah Israel ketika semua aspek telah merugi di saat negara kita memberi bantuan untuk Palestina. Entah bagaimana solusi dua negara itu muncul di tengah semua kerugian dilahap dan dimuntahkan sendiri.
Menciptakan perdamaian dengan solusi dua negara tidak begitu efektif. Bayangkan, kita memberi jalan Israel untuk meraih kebahagiaan ketika negara dan warga sipil kita di waktu yang sama dirugikan oleh mereka dalam berbagai aspek. Hal ini diibaratkan seperti tikus dan padi. Tikus mendapatkan keuntungan, sementara padi dirugikan karena mengalami kerusakan.
Di sisi lain, pemerintah mungkin terpaksa memutuskan solusi dua negara karena pada dasarnya memang sulit sekali menyelamatkan Palestina dari kekejaman zionis. Terlebih lagi, Dewan Perserikatan Bangsa-Bangsa juga hanya mampu mengecam, memberi sanksi, dan memang tidak ada tindakan lebih lanjut. Harapannya, bergabung dengan Board of Peace bisa menyuarakan dukungan terhadap Palestina jauh lebih baik.
Indonesia sebaiknya mendukung penuh pendirian tanah Palestina dan bersikap acuh tak acuh pada Israel. Sikap tegas ini bukan berarti Indonesia buta terhadap realitas diplomasi, melainkan sebuah bentuk proteksi terhadap harga diri bangsa yang terus-menerus diinjak oleh arogansi militer Israel.
Menaruh harapan pada solusi dua negara di tengah ketidakadilan yang berjalan serampangan hanya akan memperpanjang kerugian yang dialami oleh Indonesia.
Sudah saatnya Indonesia berhenti menjadi 'padi' yang pasrah dirusak. Diplomasi kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan ketegasan hukum internasional agar tidak ada lagi hak-hak jurnalis, prajurit, dan warga sipil kita yang dirampas secara sepihak di masa depan.
Baca Juga
-
Sukses Tanpa Gelar: Bahaya Romantisasi Kemiskinan di Balik Mahalnya UKT
-
Jangan Tunggu Nanti, Ini Trik Jitu Mengatur Waktu Belajar US, TKA, dan UTBK Sejak Dini
-
Epik! Kolaborasi Yura Yunita, Feby Putri, dan Idgitaf Tembus 3 Besar Tren Musik YouTube
-
Matinya Era RPUL: Kenapa Hafalan Nama Pejabat Sudah Tidak Relevan Lagi?
-
Jangan Salahkan Attitude! Ini Alasan Logis Kenapa Gen Z Susah Cari Kerja
Artikel Terkait
Kolom
-
Privilege dalam Pengasuhan: Mengapa Ibu Berduit Dianggap Lebih Siap?
-
Karya Pakai Jiwa Kalah Cepat dengan AI yang Tak Punya Nyawa
-
Fatimah Az-Zahra, Wajah Baru Aktivisme Berbasis Bukti Akademik
-
Beban Perubahan di Pundak Mahasiswa: Sampai Kapan Rakyat Menitipkan Harapan?
-
Merdeka dari People Pleasing: Mengapa Gen Z Harus Mulai Belajar Berkata 'Tidak'
Terkini
-
Bye Ketombe! 5 Pilihan Shampoo Bar Ramah Lingkungan yang Bikin Rambut Segar
-
Jika Aku Mereka: Melihat Dunia dari Sudut Pandang Penyandang Disabilitas
-
The Dragon Republic: Dari Pejuang Menjadi Bidak dalam Permainan Kekuasaan
-
The Man Who Didn't Like Animals: Ketika Si Pembenci Hewan Berubah Hati
-
Ketika Energi Hijau Mengusik Ruang Hidup Warga