Hari Raya Idul Adha selalu membawa suasana yang khas. Dari malam sebelumnya, suara takbir terdengar bersahut-sahutan. Pagi harinya jalanan ramai, masjid penuh, lalu orang-orang mulai sibuk memotong hewan kurban sambil bercanda dan bekerja bersama. Anak-anak kecil berlarian, ibu-ibu menyiapkan bumbu, sementara aroma sate perlahan memenuhi udara. Rasanya hangat. Dekat. Seolah-olah ada sesuatu yang selalu berhasil mengingatkan manusia bahwa hidup nggak melulu soal diri sendiri.
Namun semakin dewasa, aku merasa Idul Adha punya makna yang jauh lebih besar dibanding sekadar pembagian daging atau ritual tahunan semata.
Hari ini kita hidup di zaman yang serba cepat. Semua orang berlomba mengejar sesuatu. Ada yang mengejar uang, validasi, popularitas, jabatan, bahkan pengakuan dari orang lain yang sebenarnya nggak terlalu peduli juga pada hidup kita. Media sosial membuat banyak orang sibuk menunjukkan pencapaian terbaiknya. Timeline dipenuhi foto bahagia, pencapaian karir, liburan mewah, hubungan yang terlihat sempurna, sampai standar hidup yang makin lama makin bikin orang gampang merasa kurang.
Di tengah dunia seperti itu, makna berkurban terasa makin penting. Karena berkurban berarti rela melepaskan sesuatu demi hal yang lebih besar nilainya. Dan jujur saja, itu nggak mudah. Sebagai manusia yang hidup di zaman sekarang, aku terlalu terbiasa menggenggam banyak hal sampai lupa caranya ikhlas. Padahal hidup nggak selalu soal memiliki, tapi juga tentang merelakan dan menerima nggak semua hal bisa dipertahankan.
Kurban yang Tak Berwujud Sapi atau Kambing
Menurutku, kurban hari ini nggak cuma bicara tentang sapi atau kambing. Maknanya jauh lebih luas dari itu.
Misalnya, ada ayah yang bekerja sampai tubuhnya nyaris nggak punya waktu istirahat demi memastikan anaknya tetap sekolah dengan layak. Ibu yang berkali-kali menunda membeli sesuatu untuk dirinya sendiri karena kebutuhan rumah lebih penting. Anak sulung yang rela memendam mimpinya demi membantu ekonomi keluarga. Bahkan seseorang yang memilih tetap bertahan hidup meski setiap hari sedang berperang dengan pikirannya sendiri, menurutku itu juga bentuk kurban dalam bentuk pengorbanan yang besar.
Menurutku, 'kurban' juga sangat dekat dengan kemampuan manusia untuk menahan ego. Ini mungkin salah satu bentuk pengorbanan paling sulit di zaman sekarang. Banyak orang pengen selalu menang, didengar, dianggap paling benar. Akibatnya, sedikit-sedikit bertengkar, saling serang dan menjatuhkan. Media sosial bahkan kadang seperti arena adu ego yang nggak ada habisnya. Padahal nggak semua hal harus dimenangkan.
Kadang kita perlu belajar mengalah demi ketenangan. Belajar diam demi menjaga hati orang lain. Belajar meminta maaf meski gengsi terasa besar. Sebab kalau dipikir-pikir, manusia sering lebih mudah menyembelih hewan kurban dibanding menyembelih egonya sendiri.
Melepaskan Sisi Buruk dan Menghidupkan Empati
Selain itu, menurutku berkurban di zaman sekarang juga bisa berarti berani melepaskan hal-hal yang selama ini diam-diam merusak diri sendiri. Melepaskan toxic relationship, rasa iri, kebiasaan membandingkan hidup, dendam yang terus dipelihara, atau obsesi untuk selalu terlihat sempurna di depan orang lain. Begitulah, memang yang paling perlu dikorbankan ialah sisi buruk dalam diri kita sendiri. Dan itu jauh lebih sulit dibanding apa pun. Sebab melawan diri sendiri selalu jadi peperangan paling rumit.
Namun dari semua makna yang ada, hal paling indah dari kurban menurutku tetap soal berbagi. Ada rasa hangat ketika melihat orang-orang bisa makan bersama, saling membantu, dan menikmati rezeki tanpa memandang status sosial. Untuk sesaat, sekat-sekat hidup terasa menghilang. Semua orang duduk di posisi yang sama sebagai manusia.
Dan di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar diri sendiri, mungkin menjadi manusia yang masih punya empati adalah bentuk kurban paling indah hari ini.
Baca Juga
-
Review Laut Bercerita: Ketika Luka Sejarah Menolak Tenggelam dalam Ingatan
-
Review Lingsir Wengi: Tembang Jawa, Mitos, dan Teror di Motel Tua Malioboro
-
Review Pirunduk: Budaya Banjar Jangan Cuma Jadi Hiasan Horor Lokal di Layar
-
Review Film Siti Si Vampir: Satir Kelas Sosial yang Kurang Menggigit?
-
Review Paralyzed by Hope: The Maria Bamford Story, Tawa dan Luka Mental
Artikel Terkait
-
Masakan Jadi Sedap, Ini 5 Tips Mengolah Daging Kambing agar Tidak Bau Prengus
-
Bukan Uang Pribadi, MUI Sarankan Dana Kurban 1.098 Sapi Prabowo Diaudit
-
Banyak Masyarakat Masih Mampu Berkurban, Golkar Sebut Ekonomi Indonesia Masih Oke
-
Potret Pelaksanaan Shalat Idul Adha di Berbagai Daerah
-
Iduladha di Era Digital: Antara Ibadah Tulus atau Sekadar Pamer Status?
Kolom
-
Tantangan Finansial Gen Z: Gaji Buat Hidup, Tagihan, Healing, dan Tabungan
-
Anggaran MBG Membengkak, Apakah Semua Anak Benar-Benar Membutuhkannya?
-
Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri
-
Kota Pelajar untuk Perantau, 32 Ribu Anak Malang Justru Tidak Sekolah
-
Mitos Self-Reward Liburan: Healing Tidak Selalu Menyelesaikan Masalah Hidup
Terkini
-
Review Film All of You: Ketika Sains Ikut Campur dalam Urusan Cinta
-
Review Serial Lupin Part 3: Sebuah Aksi Menawan Assane Diop yang Penuh Trik
-
Review The Best Thing: Kisah Romantis Dokter TCM dan Manajer Hotel
-
SMK Nusantara Pertahankan Gelar, MAN 1 Kabupaten Sukabumi Raih Juara Putri AXIS Nation Cup 2026
-
Gagal Dapatkan Dean Zandbergen, PSSI Incar Striker Keturunan Islandia!