Lintang Siltya Utami | Fathorrozi 🖊️
Ilustrasi makna kurban yang hilang sebab ketamakan dan ketidakadilan (Gemini AI)
Fathorrozi 🖊️

Setiap tahun umat Islam memperingati Iduladha sebagai salah satu momentum spiritual yang sarat makna. Hari raya ini bukan sekadar tradisi penyembelihan hewan kurban, bukan pula hanya perayaan yang identik dengan pembagian daging kepada masyarakat. Di balik itu semua tersimpan pelajaran besar tentang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan kepada Tuhan.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS, menjadi inti dari peringatan Iduladha. Nabi Ibrahim menghadapi ujian yang sangat berat ketika menerima perintah Allah SWT melalui mimpi untuk menyembelih putra yang sangat dicintainya. Sebagai seorang ayah, perintah tersebut tentu mengguncang batinnya. Di satu sisi ada cinta yang begitu besar kepada anaknya, di sisi lain ada kewajiban untuk menaati perintah Sang Pencipta.

Namun, Nabi Ibrahim memilih jalan ketaatan. Ia rela mengorbankan apa yang paling dicintainya demi menjalankan amanah Tuhan. Begitu pula Nabi Ismail yang menerima perintah itu dengan penuh keikhlasan. Ketika proses penyembelihan hendak dilakukan, Allah SWT menggantikan Ismail dengan seekor domba sebagai bukti bahwa yang dikehendaki bukanlah darah dan nyawa manusia, melainkan ketulusan iman dan kesediaan untuk berkorban.

Dari peristiwa itulah lahir pesan agung bahwa pengorbanan merupakan fondasi penting dalam kehidupan manusia. Tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan. Tidak ada amanah yang dapat dijalankan dengan baik tanpa kemampuan menahan hawa nafsu, kepentingan pribadi, dan keserakahan.

Makna Kurban yang Semakin Terlupakan

Sayangnya, nilai-nilai pengorbanan yang diajarkan Iduladha sering hanya berhenti pada seremoni tahunan. Banyak orang mampu membeli hewan kurban, tetapi belum tentu mampu mengorbankan ego, keserakahan, dan kepentingan pribadi.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, semangat kurban seharusnya menjadi cermin bagi para pemegang kekuasaan. Jabatan publik pada hakikatnya adalah amanah yang menuntut pengorbanan. Seorang pemimpin seharusnya rela mengorbankan kenyamanan pribadi demi kesejahteraan rakyat. Seorang pejabat seharusnya mengorbankan kepentingan kelompok demi kepentingan bangsa. Seorang penegak hukum seharusnya mengorbankan godaan materi demi tegaknya keadilan.

Namun kenyataan yang sering terlihat justru sebaliknya. Ketika rakyat diminta taat membayar pajak, mematuhi aturan, dan memenuhi berbagai kewajiban sebagai warga negara, sebagian elite justru terjebak dalam praktik penyalahgunaan kekuasaan. Amanah yang seharusnya dijaga berubah menjadi alat untuk memperkaya diri dan kelompoknya.

Di titik inilah makna kurban terasa seperti kehilangan ruhnya. Pengorbanan yang dahulu menjadi simbol kemuliaan perlahan berganti dengan ketamakan yang mengorbankan kepentingan rakyat.

Ketika Hukum Terasa Tajam ke Bawah dan Tumpul ke Atas

Kekecewaan masyarakat terhadap berbagai persoalan hukum bukanlah tanpa alasan. Di banyak kesempatan muncul kesan bahwa hukum berjalan tidak seimbang. Rakyat kecil sering kali merasakan kerasnya penegakan aturan, sementara mereka yang memiliki kekuasaan, jabatan, atau modal besar kerap dianggap lebih mudah mendapatkan perlakuan istimewa.

Persepsi inilah yang melahirkan ungkapan bahwa hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Benar atau tidaknya setiap kasus tentu harus dibuktikan secara objektif, namun kenyataan bahwa kepercayaan publik terhadap lembaga negara mengalami pasang surut adalah fakta yang tidak bisa diabaikan.

Ketika masyarakat melihat korupsi, penyalahgunaan wewenang, konflik kepentingan, atau kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada rakyat, maka luka sosial pun terbentuk. Luka itu tidak selalu terlihat, tetapi hidup dalam bentuk kekecewaan, ketidakpercayaan, dan rasa ketidakadilan yang terus mengendap.

Padahal, negara yang kuat bukan hanya dibangun oleh kekayaan alam atau pertumbuhan ekonomi, melainkan juga oleh kepercayaan rakyat kepada para pemimpinnya.

Belajar dari Keteladanan Para Pemimpin Bangsa

Sejarah bangsa Indonesia dan sejarah Islam memberikan banyak contoh tentang arti pengorbanan dalam kepemimpinan.

Rasulullah SAW hidup dalam kesederhanaan meskipun memiliki kedudukan yang sangat tinggi di tengah umatnya. Beliau lebih mengutamakan kepentingan masyarakat daripada kemewahan pribadi. Kepedulian terhadap kaum miskin dan kelompok yang lemah menjadi bagian dari karakter kepemimpinannya.

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga dikenal sebagai pemimpin yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai prioritas utama. Kepemimpinan baginya bukan sarana memperoleh kemuliaan pribadi, melainkan tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dalam sejarah Indonesia, kita mengenal KH. Hasyim Asy'ari yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan dan perjuangan bangsa. Kita juga mengenal Mohammad Hatta yang terkenal dengan gaya hidup sederhana serta integritasnya yang tinggi. Di tengah keterbatasan negara yang baru merdeka, beliau memilih hidup bersahaja daripada memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi.

Begitu pula B.J. Habibie yang meninggalkan kenyamanan karier internasional demi mengabdi kepada Indonesia. Pengorbanan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati selalu menuntut keberanian untuk mendahulukan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri.

Luka Rakyat di Tengah Perebutan Kepentingan

Hari ini, rakyat sering kali menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari berbagai kebijakan yang tidak berpihak pada keadilan sosial. Persoalan agraria, sengketa lahan, penggusuran, kerusakan lingkungan, hingga kesenjangan ekonomi menjadi contoh bagaimana pembangunan dapat memunculkan konflik ketika tidak dijalankan dengan prinsip keadilan.

Ketika masyarakat kehilangan tanah, rumah, atau sumber penghidupan mereka, sesungguhnya yang hilang bukan hanya aset material. Ada rasa aman yang hilang, ada harapan yang runtuh, dan ada kepercayaan yang terkikis.

Di sisi lain, ruang politik yang semestinya menjadi arena memperjuangkan kepentingan rakyat sering kali dipersepsikan sebagai arena perebutan kekuasaan. Legislatif, eksekutif, dan yudikatif idealnya bekerja sebagai pilar yang menjaga keseimbangan negara. Namun ketika kepentingan pribadi lebih dominan daripada kepentingan publik, maka amanah politik kehilangan maknanya.

Padahal setiap jabatan publik diawali dengan sumpah. Sumpah itu bukan sekadar formalitas administratif, melainkan janji moral yang mengikat seseorang di hadapan Tuhan, konstitusi, dan rakyat.

Refleksi Iduladha untuk Indonesia

Iduladha mengajarkan bahwa pengorbanan adalah syarat utama bagi terciptanya keadilan. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan sumber daya alam, dan tidak kekurangan aturan hukum. Yang sering kali kurang adalah keberanian untuk mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan bersama.

Momentum Iduladha seharusnya menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukan hak istimewa, melainkan amanah. Jabatan bukan sarana memperkaya diri, melainkan alat untuk melayani masyarakat. Hukum bukan instrumen untuk melindungi yang kuat, melainkan untuk memastikan keadilan bagi semua warga negara.

Pembagian daging kurban mengandung simbol solidaritas sosial. Di sana terdapat pesan bahwa kesejahteraan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Keadilan, kepedulian, dan kebersamaan harus menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

Akhirnya, pertanyaan terbesar yang layak kita renungkan pada Iduladha tahun ini bukanlah berapa banyak hewan yang dikurbankan, melainkan seberapa besar kesediaan kita untuk mengorbankan keserakahan demi keadilan. Sebab bangsa yang besar bukan dibangun oleh mereka yang pandai mengambil, melainkan oleh mereka yang rela berkorban untuk kepentingan rakyat dan masa depan bersama.