โJangan mencintaiku, mungkin aku tak mencintaimu. Jangan tak mencintaiku, mungkin aku mencintaimu.Dampingi saja jalanku, Kekasih. Dan kita sama-sama menjalani hidup.โ (Sujiwo Tejo, Tembang Talijiwo).
Tembang Talijiwo karya Sujiwo Tejo ini tidak hadir sebagai kumpulan petuah yang menggurui, melainkan sebagai teman duduk yang mengajak pembacanya menikmati kopi, memandang senja, lalu berbincang tentang cinta, politik, kehilangan, dan kehidupan dengan cara yang sederhana sekaligus jenaka.
Kesan pertama saya ketika membaca buku ini adalah Sujiwo Tejo tidak pernah benar-benar bercerita. Ia sedang menembang. Ia menyanyikan kegelisahan manusia modern yang hidup di tengah hiruk-pikuk perebutan kebenaran, terutama di media sosial.
Pertanyaan remeh seperti "bubur ayam diaduk atau tidak?" pun dapat berubah menjadi perdebatan panjang yang membuat orang lupa kepada hal yang lebih penting, yaitu kemanusiaan dan ketulusan.
Melalui Tembang Talijiwo, Sujiwo Tejo seakan mengajak pembaca untuk menepi sejenak dari keramaian itu. Ia menawarkan sebuah pertemuan yang hangat. Ada kopi, ada senja, ada cakrawala yang mempertemukan langit dan Bumi, serta ada tembang-tembang tentang hidup yang mungkin selama ini terlupakan.
Tembang Talijiwo menghadirkan pandangan yang tidak biasa. "Jangan mencintaiku, mungkin aku tak mencintaimu. Jangan tak mencintaiku, mungkin aku mencintaimu."
Ada paradoks di sini. Perasaan manusia tidak selalu berjalan lurus, tidak selalu berbalas, dan tidak selalu dapat dipastikan. Cinta kadang hadir, kadang pergi, kadang tumbuh dalam diam tanpa pernah meminta pengakuan.
Namun, justru pada ketidakpastian itulah terdapat kedewasaan. Kalimat berikutnya menjadi inti dari semuanya. "Dampingi saja jalanku, Kekasih. Dan kita sama-sama menjalani hidup."
Ini bukan lagi soal siapa yang lebih mencintai atau siapa yang paling setia, melainkan tentang kesediaan untuk berjalan bersama. Ada penerimaan bahwa cinta bukan kontrak yang menjamin balasan, tetapi pilihan untuk hadir dan menemani.
Kutipan ini juga bisa dibaca sebagai kritik terhadap cara kita memandang cinta. Kita kerap menganggap cinta harus dibalas dengan kadar yang sama, harus memiliki status yang jelas, dan harus berujung pada kepemilikan. Padahal, hidup jauh lebih luas daripada sekadar memastikan perasaan seseorang kepada kita.
Ada perjalanan yang harus dijalani, ada mimpi yang harus dikejar, dan ada ruang bagi dua orang untuk tumbuh bersama tanpa harus saling mengikat secara berlebihan.
Di sisi lain, kutipan ini tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa arah. Ia justru mengajak untuk mencintai dengan lebih tenang yang tanpa memaksa, tanpa menuntut, dan tanpa kehilangan diri sendiri.
Jika cinta itu tumbuh, ia akan menemukan jalannya. Jika tidak, kebersamaan dan penghargaan terhadap perjalanan masing-masing tetaplah sesuatu yang berharga.
Tokoh utama dalam buku ini tetaplah Sastro dan Jendro, dua sosok khas yang sudah dikenal dalam seri Talijiwo. Namun, jangan berharap menemukan tokoh dengan identitas yang tetap. Hari ini mereka bisa menjadi suami dan istri, besok berubah menjadi orang tua dan anak, lalu menjadi dua orang asing yang bertemu di kereta menuju Bandung. Mereka adalah simbol. Mereka adalah kita semua.
Keliaran imajinasi menjadi syarat utama untuk menikmati buku ini. Sujiwo Tejo tidak menulis dengan alur yang lurus. Cerita-ceritanya sering absurd, melompat dari satu gagasan ke gagasan lain, tetapi justru di situlah daya tariknya. Ia memperlihatkan bahwa hidup memang tidak selalu logis. Ada banyak hal yang hanya bisa dipahami dengan rasa.
Tema-tema yang diangkat pun terasa sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia hari ini. Politik, polarisasi, isu sosial, percintaan, hingga fenomena viral dibahas dengan gaya yang santai. Hebatnya, Sujiwo Tejo mampu menunjukkan bahwa persoalan yang terlihat begitu besar sering kali memiliki sisi sederhana dan bahkan menggelikan.
Buku ini seolah menggiring kita kepada pertanyaan, mengapa kita begitu mudah tersulut emosi? Mengapa kita merasa harus selalu benar? Dan mengapa kita lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada memahami orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab secara gamblang. Sebaliknya, Sujiwo Tejo membiarkan pembaca menemukannya sendiri melalui perbincangan Sastro dan Jendro yang kadang nyeleneh, kadang romantis, dan kadang begitu menusuk.
Kutipan-kutipan yang puitis menjadi salah satu kekuatan terbesar buku Tembang Talijiwo. Tentang cinta, misalnya, Sujiwo Tejo tidak memandangnya secara hitam-putih. Ia menerima cinta sebagai sesuatu yang penuh kemungkinan dan ketidakpastian.
Bahkan ketika berbicara tentang mantan kekasih, ia tidak mengajak pembaca larut dalam kesedihan. Ada satu gagasan yang sangat saya sukai, bahwa mantan boleh menjadi air mata, tetapi jangan sampai menjadi tangisan. Sebab hidup harus terus berjalan, dan kenangan sebaiknya menjadi pelajaran, bukan penjara.
Di sisi lain, buku ini juga sangat kental dengan nuansa pewayangan dan kejawen. Simbol-simbol Jawa hadir hampir di setiap bagian. Bagi pembaca yang akrab dengan dunia tersebut, ini menjadi kenikmatan tersendiri. Namun bagi pembaca yang baru mengenalnya, beberapa bagian mungkin terasa sulit dipahami.
Relevansi buku ini dengan zaman sekarang terasa begitu kuat. Kita hidup di era ketika semua orang berlomba menjadi yang paling benar. Media sosial sering kali menjadi arena pertarungan opini yang melelahkan. Dalam situasi seperti itu, Tembang Talijiwo hadir sebagai pengingat bahwa hidup bukan hanya tentang menang dan kalah dalam argumen.
Kelebihan utama buku ini adalah gaya bertutur Sujiwo Tejo yang khas; jenaka, puitis, filosofis, dan penuh sindiran sosial. Ia mampu mengemas isu-isu berat menjadi ringan tanpa kehilangan kedalaman makna. Kutipan-kutipannya indah dan mudah diingat, sementara ilustrasi-ilustrasi yang disisipkan menambah nyawa pada buku ini.
Ini adalah sebuah karya yang istimewa. Ia bukan buku yang selesai dibaca dalam satu malam lalu dilupakan. Namun, ia adalah buku yang akan terus mengajak pembacanya kembali, menemukan makna baru, dan mungkin menyadari bahwa di tengah dunia yang gaduh, kita hanya perlu kembali pada satu hal, yaitu menjadi manusia yang lebih tulus. Itu saja.
Identitas Buku
- Judul: Tembang Talijiwo
- Penulis: Sujiwo Tejo
- Penerbit: DIVA Press
- Cetakan: I, 2020
- Tebal: 264 Halaman
- ISBN: 978-602-391-912-3
- Genre: Sastra/Novel
Baca Juga
-
Lenovo Yoga Slim Ultra 7 FIFA World Cup 26 Edition:Laptop AI Premium dengan Aura Sang Juara
-
Honor 600 Smart 5G: HP Baru dengan Snapdragon 4 Gen 4 Pertama di Dunia
-
Adam Ma'rifat: Mabuk Ketuhanan dalam Labirin Imajinasi Danarto
-
Samsung Galaxy M47 5G Coming Soon: Snapdragon Baru, Kamera OIS, dan Baterai Jumbo
-
Redmi K90 Ultra Resmi Buka Pre-Order: HP Snapdragon 8 Elite dan Kipas Pendingin Aktif
Artikel Terkait
Ulasan
-
Saat Semua Cara Tak Berhasil, "Tuhan, Akhirnya Aku Menyerah" Jawabannya
-
Menelusuri Kehidupan Sosial Batavia di Buku Jean Gelman Taylor
-
Review Supergirl: Petualangan Kosmik yang Lebih Liar dari Semesta DC Baru
-
Review Your Fault: London, Kisah Menarik tentang Ego Remaja dan Kedewasaan
-
Adam Ma'rifat: Mabuk Ketuhanan dalam Labirin Imajinasi Danarto
Terkini
-
Mau Tampil Classy? Ini 4 OOTD Earthy Chic ala Yoona SNSD yang Menawan
-
Guru Selalu Dibilang Pahlawan, Tapi Tidak Dijadikan Prioritas Anggaran
-
Viral Kamari Sky Anak yang Super Anteng, Benarkah Rahasianya Karena Bebas Gula?
-
Wandance Live Action Tayang 27 November 2026, JO &TEAM Jadi Pemeran Utama
-
Tayang 3 Agustus, Drakor My Bias, My Boss Rilis Jajaran Pemain Utama