Membuat pembaca berpikir, merasa tidak nyaman, lalu mempertanyakan sisi gelap manusia yang selama ini berusaha disembunyikan. Itulah kesan yang saya rasakan usai membaca Dosa di Hutan Terlarang yang merupakan buku kumpulan cerita pendek horror-thriller karya Ken Hanggara bersama sejumlah penulis lain yang diterbitkan oleh Basabasi.
Ketertarikan saya membaca buku ini bermula dari blurb di sampul belakang yang begitu menggoda rasa penasaran. Kalimat pembukanya sangat mengusik: seorang tokoh yang telah mengetahui di mana ia harus membuang mayat pacarnya. Hutan terlarang yang dikenal sebagai sarang begal dan siluman menjadi tempat paling tepat untuk menyembunyikan dosa.
Kalimat-kalimat sederhana itu langsung menciptakan atmosfer misterius yang membuat saya ingin segera membuka halaman demi halaman berikutnya.
Dosa di Hutan Terlarang berisi 17 cerita pendek dengan tema horor, thriller, misteri, dan supranatural. Sebagian besar cerita ditulis oleh Ken Hanggara, sementara sisanya merupakan karya para pemenang audisi Museum Anomali 2 dan beberapa nama lain seperti Edi AH Iyubenu, Yetti A.KA, serta Bamby Cahyadi.
Namun, jika pembaca mengharapkan kisah hantu yang menyeramkan dengan deskripsi wajah mengerikan, suara tawa memekakkan telinga, atau adegan jumpscare yang membuat bulu kuduk berdiri, mungkin buku ini tidak sepenuhnya memenuhi ekspektasi tersebut.
Saya sendiri termasuk pembaca yang tidak terlalu merasakan sensasi seram ketika membaca kumpulan cerpen ini. Bahkan, beberapa cerita justru terasa lebih dekat dengan thriller psikologis dibandingkan horor konvensional.
Yang menarik, horor dalam buku ini tidak lahir dari sosok gaib semata, melainkan dari manusia itu sendiri. Banyak tokoh yang memilih jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan, seperti membunuh orang yang dianggap sebagai sumber masalah, menyembunyikan kejahatan, atau membiarkan rasa dendam menguasai diri.
Dari sanalah teror bermula. Hantu-hantu yang muncul pun bukan sekadar makhluk menakutkan, tetapi kerapkali hadir sebagai konsekuensi dari dosa yang belum selesai.
Tema dosa menjadi benang merah yang mengikat hampir seluruh cerita. Dosa karena cinta yang posesif, dosa karena keserakahan, dosa karena pengkhianatan, hingga dosa karena ketidakmampuan menerima kenyataan. Para tokoh dalam buku ini seolah ingin melarikan diri dari kesalahan mereka, tetapi masa lalu terus mengejar dan menuntut pertanggungjawaban.
Di antara hal yang saya sukai dari buku ini adalah cara Ken Hanggara membangun atmosfer. Ia tidak terburu-buru menghadirkan kejutan. Ia membiarkan pembaca masuk perlahan ke dalam kehidupan para tokohnya, memahami konflik mereka, lalu menyaksikan bagaimana keputusan-keputusan kecil akhirnya berubah menjadi bencana besar.
Teror yang muncul bukan teror yang keras dan mengagetkan, tetapi pelan, dingin, dan meninggalkan jejak panjang di dalam pikiran.
Menariknya lagi, beberapa hantu dalam cerita ini terasa sangat manusiawi. Mereka masih memiliki emosi, dendam, kerinduan, bahkan aktivitas yang menyerupai manusia hidup. Hal itu membuat batas antara dunia manusia dan dunia arwah terasa tipis.
Pembaca tidak hanya diajak takut kepada makhluk gaib, tetapi juga diajak bertanya, apa yang sebenarnya terjadi setelah seseorang meninggal? Ke mana jiwa pergi? Apakah semua kesalahan dapat benar-benar berakhir bersama kematian?
Meski demikian, saya juga merasakan beberapa kekurangan. Karena berbentuk kumpulan cerpen dengan banyak penulis, kualitas cerita terasa naik turun. Ada cerita yang begitu kuat dan membekas, tetapi ada pula yang terasa terburu-buru, terutama pada bagian akhir. Konflik yang menarik terkadang diselesaikan terlalu cepat sehingga meninggalkan kesan kurang mendalam.
Selain itu, bagi pembaca yang menyukai horor klasik, buku ini mungkin tidak terlalu menyeramkan. Saya sendiri tidak sampai merasa merinding atau takut. Namun, justru di situlah keunikannya. Buku ini lebih banyak menghadirkan rasa tidak nyaman terhadap sifat manusia daripada rasa takut terhadap makhluk gaib.
Memasuki bagian pertengahan hingga akhir, beberapa cerita bahkan berubah menjadi cukup brutal. Deskripsi mengenai pembunuhan dan kekerasan disajikan dengan cukup eksplisit sehingga memberikan nuansa gore yang lebih kuat dibandingkan unsur hantunya sendiri.
Bagi sebagian pembaca, ini mungkin menjadi daya tarik tersendiri, tetapi bagi yang tidak terbiasa, beberapa adegan bisa terasa cukup mengganggu.
Dalam konteks zaman sekarang, buku Dosa di Hutan Terlarang terasa sangat relevan. Kita hidup di era ketika banyak orang ingin menyelesaikan masalah secara instan, menghalalkan berbagai cara demi kepentingan pribadi, dan sering mengabaikan konsekuensi dari perbuatannya.
Buku ini seolah mengingatkan bahwa setiap tindakan memiliki harga yang harus dibayar. Dosa mungkin dapat disembunyikan dari manusia, tetapi tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan dan nurani.
Akhirnya, Dosa di Hutan Terlarang bukanlah buku horor yang membuat saya sulit tidur. Akan tetapi, buku ini berhasil membuat saya berpikir tentang sisi gelap manusia, tentang rasa bersalah yang terus menghantui, dan tentang kenyataan bahwa terkadang manusia jauh lebih menyeramkan daripada hantu itu sendiri.
Identitas Buku
- Judul: Dosa di Hutan Terlarang
- Penulis: Ken Hanggara, dkk.
- Penerbit: Basabasi
- Cetakan: I, Desember 2018
- Tebal: 196 Halaman
- ISBN: 978-602-578-360-9
- Genre: Fiksi/Cerpen
Baca Juga
-
Kisah Cinta, Kutu Buku, dan Petualangan Surealis: Review Jagat Rajawali Karya Eko Darmoko
-
Honor Pad X10 Mini Mengandalkan Layar 90 Hz, Bodi Metal, dan Baterai untuk Aktivitas Seharian
-
Tecno Spark 50S 5G Resmi Meluncur, Ponsel Terjangkau dengan Fitur FreeLink yang Menarik
-
Huawei FreeClip 2 Dual Color Rilis: TWS Unik dengan Desain Jepit Telinga dan Baterai Awet
-
Dompet Ayah Sepatu Ibu: Novel yang Membuat Saya Lebih Menghargai Perjuangan Orang Tua
Artikel Terkait
Ulasan
-
Dari Jurnal Hilang, Berakhir dengan Jatuh Hati: Dilema di Novel Obliviate
-
Mengambil Pelajaran tentang Bahaya Perang Opini di Novel Bungkam Suara
-
Novel Tanah Para Bandit: Ketika Penegak Hukum Justru Terlibat Kejahatan
-
Langkah Awal Memahami Pasar Modal: Belajar Investasi Bersama New BIONS
-
Webtoon Ayah, Aku Tidak Mau Menikah: Ketika Salah Paham Jadi Komedi Terbaik
Terkini
-
Keanu Reeves Kembali ke Semesta John Wick Lewat Prekuel Animasi Terbaru
-
Sisi Gelap Tren Renting Generation: Hemat di Awal, Boncos di Akhir?
-
Fenomena Chat saat Butuh: Teman atau Sekadar Tempat Mencari Bantuan?
-
Komedi Negara Hukum: Mengapa Urusan Ijazah Selalu Berakhir Jadi Lelucon?
-
Tren Budaya Lokal di Tangan Gen Z: Merawat Tradisi atau Cuma Demi Konten?