Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi gaya hidup zero waste (Pexels/SHVETS production)
e. kusuma .n

Sekarang ini saya sering melihat gaya hidup zero waste semakin ramai di media sosial, terutama di kalangan anak muda. Semua hal seolah harus serba eco-friendly, mulai dari membawa tumbler sendiri, memakai tote bag, hingga tren thrifting. 

Jujur saja, awalnya saya merasa gaya hidup ini keren. Ada kesan sadar lingkungan, hidup lebih sehat, dan terlihat lebih “mindful”. Namun, semakin sering melihat konten zero waste di TikTok dan Instagram, saya mulai sadar ada hal lain yang ikut muncul: FOMO.

Tren zero waste pun memunculkan pertanyaan di kepala saya, apakah semua orang benar-benar menjalani ini karena peduli lingkungan? Atau jangan-jangan hanya takut terlihat tidak ikut tren sosial yang sedang populer?

Zero Waste: Semakin Populer di Kalangan Gen Z

Saya merasa Gen Z memang punya kesadaran lingkungan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Banyak anak muda sekarang mulai peduli soal sampah plastik, fast fashion, dan perubahan iklim.

Sekarang membawa tumbler sudah jadi kebiasaan umum. Belanja pakai tote bag dianggap keren. Thrifting jadi bagian dari gaya hidup.

Media sosial juga membuat isu lingkungan lebih mudah dibahas dan dipahami. Konten edukasi tentang sampah atau hidup minim limbah sering viral dan membuat banyak orang mulai tertarik mencoba.

Namun di sisi lain, media sosial juga membuat gaya hidup zero waste berubah menjadi bagian dari identitas visual dan tren lifestyle. Lama-lama, "pelaku" tren ini jadi terkesan hanya mengejar pencitraan sosial. 

Ketika Peduli Lingkungan Mulai Jadi “Image”

Jujur saja, kadang saya merasa gaya hidup zero waste di media sosial terlihat terlalu estetik. Semua terlihat rapi: tumbler lucu, alat makan reusable, produk eco-friendly, outfit thrift yang stylish, sampai kamar minimalis bernuansa earth tone.

Akhirnya tanpa sadar, zero waste bukan lagi cuma isu lingkungan, tapi juga soal image dan estetika hidup. Dan di titik itu, FOMO mulai muncul.

Kalau tidak punya tumbler estetik rasanya kurang keren. Kalau masih pakai plastik sekali pakai jadi merasa bersalah. Kalau belum hidup sustainable seperti influencer lain, muncul rasa tertinggal.

Padahal menurut saya, peduli lingkungan seharusnya bukan perlombaan sosial, apalagi malah mengarah pada aktivitas belanja konsumtif. 

FOMO Membuat Orang Konsumtif dengan Cara Baru

Yang menurut saya cukup ironis, kadang gaya hidup zero waste justru membuat orang membeli lebih banyak barang. Karena ingin terlihat sustainable, akhirnya membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.

Dan lucunya, semua itu dilakukan atas nama hidup ramah lingkungan. Di situ saya mulai sadar kalau budaya konsumtif bisa muncul dalam bentuk baru yang lebih “hijau”.

Alih-alih mengurangi konsumsi, beberapa orang justru terus membeli produk secara impulsif demi memenuhi standar gaya hidup zero waste versi media sosial.

Tekanan Sosial di Era Media Sosial

Generasi sekarang memang hidup dengan tekanan sosial yang cukup besar, termasuk dalam urusan gaya hidup. Dulu orang mungkin berlomba soal barang mewah atau fashion branded. 

Sekarang, bahkan gaya hidup sederhana dan ramah lingkungan pun bisa berubah jadi tren yang punya standar tertentu. Akhirnya muncul kebutuhan untuk terlihat: lebih mindful, lebih sustainable, lebih sadar lingkungan dibanding orang lain.

Padahal tidak semua orang punya kondisi yang sama. Ada yang memang mampu membeli produk eco-friendly mahal, tapi ada yang masih fokus memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Dan ini tidak seharusnya jadi alasan untuk saling menghakimi.

Antara Kesadaran dan Tren Sosial

Saya percaya banyak anak muda memang benar-benar peduli lingkungan. Namun, saya juga merasa tidak sedikit yang ikut gaya hidup zero waste karena pengaruh tren dan lingkungan sosial.

Sebenarnya itu tidak selalu buruk. Kadang tren memang bisa menjadi pintu awal untuk perubahan positif. Orang mungkin mulai karena ikut-ikutan, tapi lama-lama jadi lebih sadar tentang lingkungan.

Masalahnya muncul ketika fokus utama bukan lagi soal menjaga bumi, tapi demi terlihat paling “green” di media sosial.

Peduli Lingkungan Tidak Perlu Jadi Kompetisi

Bagi saya, gaya hidup zero waste tetap punya nilai positif yang penting untuk didukung. Di tengah masalah lingkungan yang semakin nyata, kesadaran untuk hidup lebih bertanggung jawab adalah hal baik.

Namun, menurut saya, penting juga untuk jujur pada diri sendiri sebelum menjadi tim zero waste garis keras. Apakah kita benar-benar peduli lingkungan, atau hanya takut ketinggalan tren?

Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan soal siapa yang paling "hijau" di media sosial. Kadang perubahan kecil yang dilakukan dengan tulus jauh lebih berarti daripada sekadar mengikuti tren demi validasi sosial.