Saya pertama kali mengenal istilah zero waste dari sebuah video pendek di media sosial. Seorang perempuan muda memperlihatkan dapurnya yang rapi, penuh toples kaca berisi bahan makanan tanpa kemasan plastik, sabun batang mahal berlabel organik, dan kain lap linen menggantung di atas wastafel dari kayu. Semuanya terlihat indah. Terlihat mahal. Dan terlihat sangat jauh dari dapur saya.
Saya tidak langsung menolak gagasan itu. Saya justru penasaran. Tapi semakin banyak saya melihat konten serupa, semakin saya menyadari ada sesuatu yang mengganjal: gerakan yang diklaim untuk semua orang ini tampil dengan estetika yang sangat spesifik milik satu kelas sosial tertentu.
Ini bukan tuduhan. Ini pengamatan.
Salah satu tantangan utama dalam menjalankan gaya hidup zero waste adalah biaya awal untuk membeli produk ramah lingkungan, seperti botol minum stainless atau tas belanja kain, yang bisa menjadi hambatan nyata bagi sebagian orang.
Botol stainless berkualitas baik dijual mulai dari seratus ribu hingga tiga ratus ribu rupiah. Sabun keramas batang organik bisa empat kali lipat harga sampo sachet yang biasa dibeli ibu di warung. Beeswax wrap pengganti plastik? Hampir tidak ada yang menjualnya di pasar tradisional.
Produk pengganti dalam gaya hidup zero waste versi media sosial rata-rata membutuhkan investasi awal yang tidak kecil. Itu baru soal uang. Belum soal waktu yang dibutuhkan untuk memilah sampah, membuat kompos, atau mencari toko yang menjual bahan curah tanpa kemasan.
Bagi ibu dari keluarga menengah ke atas di kota besar, semua itu mungkin terasa seperti pilihan gaya hidup yang menyenangkan. Tapi bagi ibu yang mengelola anggaran ketat di kampung atau di pinggiran kota, ini bukan soal pilihan. Ini soal prioritas yang jauh lebih mendesak.
Dilansir dari Wikipedia terkait gerakan zero waste ini, menunjukkan bahwa rumah tangga di kawasan urban lebih cenderung menerapkan prinsip zero waste jika mereka merasa memiliki kendali atas tindakan mereka dan mendapat dukungan sosial dari lingkungan sekitar.
Namun infrastruktur pemilahan dan daur ulang belum tersedia merata terutama di daerah rural, dan akses terhadap produk alternatif yang ramah lingkungan masih terbatas dan relatif mahal. Ini konfirmasi dari data: zero waste dalam bentuknya yang saat ini dipopulerkan memang lebih mudah diakses oleh mereka yang sudah punya cukup untuk memilih.
Yang ironis adalah, nenek dan ibu kita dulu sudah menjalani versi zero waste yang paling murni tanpa menyadarinya. Mereka menyimpan minyak jelantah untuk dijual kiloan. Mereka membungkus makanan dengan daun pisang. Mereka memakai kain lap dari baju lama yang sudah robek.
Mereka tidak membuang sisa nasi karena sisa nasi pun punya gunanya. Itu bukan tren. Itu adalah cara bertahan hidup yang sudah lama dipraktikkan oleh jutaan keluarga Indonesia kelas bawah tanpa perlu membeli satu pun produk berlabel "eco-friendly."
Masalahnya bukan pada gerakan zero wastenya sendiri. Nilai dasarnya benar dan mendesak. Pendekatan zero waste mampu mengurangi emisi karbon secara signifikan dan memberikan banyak manfaat untuk adaptasi terhadap perubahan iklim mulai dari pengurangan banjir hingga pengurangan habitat vektor penyakit. Masalahnya adalah pada cara gerakan ini dikomunikasikan dan divisualisasikan, yang terlalu sering datang dalam bingkai estetika kelas menengah yang tidak menyapa semua orang dengan setara.
Zero waste yang inklusif tidak dimulai dari membeli botol stainless baru. Ia dimulai dari menghabiskan makanan di piring, membawa kantong kain bekas ke pasar, memisahkan sampah dapur untuk dibuang ke bank sampah terdekat, dan tidak membeli sesuatu yang tidak benar-benar dibutuhkan. Langkah itu tidak butuh modal besar. Ia hanya butuh kesadaran. Dan justru di situlah, tanpa sadar, banyak ibu biasa di Indonesia sudah jauh lebih maju dari konten zero waste mana pun yang viral di media sosial.
Pertanyaan yang lebih penting bukan apakah zero waste itu realistis. Namun, siapa yang selama ini kita ajak bicara ketika mempromosikannya? Karena kalau jawabannya hanya ibu yang punya dapur estetik dan anggaran lebih, maka gerakan ini belum benar-benar menjadi gerakan. Ia baru menjadi tren.
Baca Juga
-
Saya Ibu Biasa dan Konten Momfluencer Membuat Saya Merasa Gagal, Mengapa?
-
Berhenti Merasa Nyaman dalam Ketidaktahuan: Mengapa Istri Wajib Tahu Keuangan Keluarga
-
Seni Bertahan Hidup dengan Gaji UMR yang Habis Sebelum Bulan Berganti
-
Idulfitri Jalur Zen: Strategi Ibu-Ibu Hadapi Pertanyaan "Mana Calon Menantunya?".
-
Stop Tambah Limbah Tekstil! Cara Cerdas Sulap Gamis Lama Jadi Outfit Baru
Artikel Terkait
-
Sentuhan Desain Italia dan Gaya Hidup Aktif Bertemu dalam Konsep Gerai Premium di Bekasi
-
Dari Kawasan Konservasi Jadi Destinasi Gaya Hidup, Ini Pesona Baru Danau Cihuni
-
Connect Community: Bergerak dari Kampus, Berdampak bagi Remaja Desa
-
Bukan Sekadar Olahraga, Footgolf Jadi Cara Baru Cari Sehat Sekaligus Bangun Relasi
-
Tumbler, Tote Bag, dan Realita: Apakah Gen Z Benar-benar Peduli Lingkungan?
Kolom
-
Less Waste More Future: Cara Bijak Kurangi Sampah Plastik dari Belanja Online
-
Checkout Dulu, Pikir Belakangan: Tren Paylater di Kalangan Generasi Muda
-
Paylater dan Normalisasi Utang Kecil-Kecil: Kebiasaan Baru Generasi Digital?
-
Sumatra Gelap Gulita, Harta Rp 110 Miliar Dirut PLN Jadi Sorotan Netizen
-
Kenapa Istirahat Laki-laki Dianggap Kebutuhan, Tapi Bagi Perempuan Itu Kemewahan?
Terkini
-
A Shop for Killers 2 Siap Tayang Juli, Jeong Ji An jadi CEO Baru Murthehelp
-
4 Rekomendasi HP Rp3 Jutaan Paling Worth It Terbaru 2026: Spek Kencang, Fitur Melimpah
-
Kuasai Box Office, Film Colony Raih 1 Juta Penonton setelah 4 Hari Tayang
-
Lagu Lawas Sherina Sukses Bikin Korban Toxic Relationship Mengamuk Kembali
-
Sinopsis Shadow Work, Film Misteri Jepang yang Dibintangi Riho Yoshioka