Pemandangan yang kerap muncul setelah belanja bulanan adalah tumpukan kantong sampah kecil sebagai tempat membawa pulang sayuran yang dibeli dari pasar tradisional. Meskipun sebagian rumah tangga telah memanfaatkan plastik tersebut untuk dijadikan sebagai wadah sampah dapur, akan tetapi tentunya tetap menjadi bagian dari persoalan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan.
Berbagai pusat perbelanjaan modern telah membatasi penggunaan kantong plastik sekali pakai, namun dalam praktiknya penggunaan plastik sekali pakai di pasar tradisional sering kali dijumpai. Hampir setiap transaksi melibatkan beberapa lapis plastik demi alasan kepraktisan dan higenis.
Berdasarkan data sistem pengelolaan sampah nasional (SIPSN) menunjukkan bahwa plastik masih menjadi salah satu jenis sampah terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total timbunan nasional dengan total 38 juta ton per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengurangan sampah harus dimulai dari sumbernya.
Sudah saatnya masyarakat sadar untuk mempertimbangkan penggunaan food storage atau wadah penyimpanan makanan yang dapat digunakan berulang kali sebagai wadah penggant plastik saat belanja. Bukan sekedar wadah penyimpanan sayur, food storage dapat bertransformasi menjadi alat belanja yang membantu menghentikan aliran sampah di lapak pedagang pasar tradisional.
Selama ini, food storage identik dengan kotak penyimpanan makanan yang tersusun rapi di lemari dapur atau kulkas. Padahal, fungsi tersebut bisa diperluas.
Saat belanja di pasar tradisional, pembeli bisa membawa beberapa wadah kosong dengan ukuran yang berbeda untuk sayuran, bumbu dapur, daging, ikan, maupn bahan sayuran lainnya. Ketika transaksi berlangsung, pedagang cukup memasukkan barang langsung ke food storage tanpa menggunakan kantong plastik tambahan.
Langkah ini dinilai sederhana yang mampu memutus rantai penggunaan plastik sekali pakai. Jika satu keluarga berbelanja bulanan dan biasanya akan menerima 10 hingga 15 kantong plastik kecil dalam sekali belanja, maka dalam 1 tahun keluarga tersebut akan mengurangi puluhan kantong plastik yang berpotensi menjadi sampah di TPA.
Selain mengurangi sampah, penggunaan food storage juga menawarkan keuntungan dari sisi higienitas dan efisiensi. Kantong plastik tipis yang lazim digunakan di pasar sering kali mudah bocor, terutama untuk komoditas basah seperti ikan, ayam, atau daging.
Cairan yang keluar dapat mencemari bahan makanan lain selama perjalanan pulang. Tidak jarang pula pembeli harus mengganti wadah penyimpanan sesampainya di rumah karena plastik tersebut tidak ideal untuk penyimpanan jangka panjang.
Sebaliknya, food storage yang kokoh dan kedap udara mampu menjaga kualitas bahan makanan lebih baik. Sayuran tetap segar lebih lama, daging tersimpan lebih rapi, dan risiko kontaminasi silang dapat diminimalkan.
Pembeli juga tidak perlu lagi memindahkan isi plastik ke wadah lain setelah sampai di rumah. Proses menata kulkas menjadi lebih cepat, bersih, dan efisien.
Banyak food storage modern dirancang ringan, mudah ditumpuk, dan tersedia dalam berbagai ukuran. Sama seperti masyarakat yang kini mulai terbiasa membawa tas belanja kain, membawa wadah makanan saat berbelanja juga dapat menjadi kebiasaan baru yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Lebih dari itu, penggunaan food storage memiliki nilai edukasi sosial yang penting. Pada awalnya, pedagang mungkin merasa heran ketika pembeli datang dengan beberapa kotak penyimpanan makanan.
Namun, perubahan perilaku memang selalu diawali oleh segelintir orang yang berani memulai. Semakin sering praktik ini dilakukan, semakin terbentuk pula budaya baru di lingkungan pasar tradisional.
Persoalan sampah plastik tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan proses daur ulang. Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) bahkan menegaskan bahwa dunia tidak akan mampu keluar dari krisis polusi plastik hanya dengan mengandalkan daur ulang semata.
Sementara itu, Upaya paling efektif adalah mengurangi penggunaan plastik sekali pakai sejak awal sebelum menjadi sampah. Karena itu, membawa food storage saat berbelanja merupakan salah satu langkah konkret yang sejalan dengan prinsip tersebut.
Pada akhirnya, menekan sampah plastik tidak cukup hanya dengan membawa tote bag untuk menampung belanjaan. Kepedulian lingkungan perlu ditingkatkan ke level berikutnya, yakni dengan membawa wadah penyimpanan makanan sendiri untuk setiap bahan pangan yang dibeli.
Tidak ada alasan untuk merasa malu atau canggung membawa food storage ke pasar maupun swalayan. Justru dari kebiasaan kecil inilah perubahan besar dapat dimulai.
Membawa food storage saat belanja bukan tentang gaya hidup yang mempersulit diri, melainkan tentang keberanian mengambil tanggung jawab atas setiap lembar plastik yang berpotensi kita wariskan kepada bumi.
Tag
Artikel Terkait
Kolom
-
Karya Seni Tanpa Sampah, Begini Seniman Manfaatkan Limbah Jadi Media Seni
-
Saat MBG Tersendat, yang Ribut Bukan Siswa: Sebenarnya yang Lapar Siapa?
-
Perempuan dan Fast Fashion: Dilema Tampil Stylish dan Kepedulian Lingkungan
-
Krisis Otoritas Guru di Pendidikan Modern Dalam Drama 'Teach You a Lesson'
-
Less Waste Bukan Cuma Pilah Sampah, Pencegahan Hulu ke Hilir Masih Tabu?
Terkini
-
Cari Tablet Buat Kuliah? Ini 5 Rekomendasi Paling Worth It Mulai Rp2 Jutaan
-
Bikin Antusias, Film Korea HOPE Karya Na Hong Jin Konfirmasi Tanggal Rilis
-
5 HP Samsung Harga Rp3 Jutaan Terbaik 2026, Kamera Bagus dan Performa Andal
-
Sinopsis Paper Man, Drama Kriminal Netflix yang Angkat Dunia Pemalsuan Uang
-
Tayang 11 September, Film Live Action Look Back Ungkap Para Pemeran Utama