Hayuning Ratri Hapsari | e. kusuma .n
Ilustrasi dilema keuangan anak muda (Gemini AI)
e. kusuma .n

Kesadaran finansial di kalangan anak muda semakin meningkat, tapi ternyata penggunaan paylater masih tinggi. Padahal sudah melek finansial, mengapa paylater masih saja sulit ditinggalkan?

Dalam beberapa tahun terakhir, topik literasi keuangan semakin sering dibahas di media sosial. Konten tentang menabung, dana darurat, investasi, hingga cara mengatur anggaran bulanan mudah ditemukan di berbagai paltform.

Banyak anak muda mulai memahami pentingnya mengelola uang sejak dini. Istilah seperti financial glow up, soft saving, atau budgeting bahkan menjadi bagian dari tren yang cukup populer.

Namun, di sisi lain, layanan paylater juga masih menjadi pilihan banyak orang. Kemudahan membeli sekarang dan membayar nanti membuat fitur ini tetap diminati, meskipun kesadaran finansial terus meningkat.

Paylater Hadir karena Kemudahan

Tidak dimungkiri kalau alasan utama paylater begitu populer adalah kemudahan yang ditawarkannya. Dalam beberapa klik, kita bisa membeli barang, memesan tiket perjalanan, atau memenuhi kebutuhan tertentu tanpa harus langsung mengeluarkan uang.

Bagi sebagian orang, fasilitas ini terasa sangat membantu, terutama saat menghadapi kebutuhan mendesak. Sebagai alat keuangan, manfaat atau risiko paylater sangat bergantung pada cara seseorang menggunakannya.

Sadar Finansial Bukan Berarti Bebas dari Godaan

Meningkatnya literasi keuangan tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap godaan konsumtif. Apalagi media sosial setiap hari menampilkan promo, diskon besar, flash sale, hingga rekomendasi produk yang menarik.

Ditambah lagi, algoritma terus menampilkan barang sesuai minat pengguna hingga keinginan untuk berbelanja menjadi semakin besar. Dalam kondisi seperti ini, paylater sering kali menjadi jalan yang terasa paling praktis.

Menurut saya, di sinilah tantangan terbesar anak muda saat ini. Mereka memahami pentingnya mengelola keuangan, tapi juga hidup di era yang terus mendorong konsumsi yang impulsif.

Ada yang Menggunakan dengan Bijak

Meski sering mendapat stigma negatif, tidak semua penggunaan paylater dilakukan secara impulsif. Banyak dari kita menggunakan paylater secara bijak dan bertanggung jawab hingga bisa membantu menjaga fleksibilitas keuangan.

Jadi, bisa dikatakan kalau masalah sebenarnya bukan terletak pada keberadaan paylater, melainkan kebiasaan menggunakan fasilitas tersebut tanpa perencanaan. Saat cicilan mulai melebihi kemampuan bayar, manfaatnya berubah menjadi beban finansial.

Gaya Hidup dan Tekanan Sosial Masih Berpengaruh

Faktor lain yang membuat paylater tetap diminati adalah gaya hidup. Keinginan mengikuti tren, nongkrong di tempat viral, membeli gawai terbaru, atau tampil sesuai standar media sosial mendorong keputusan finansial yang kurang matang.

Tidak sedikit anak muda yang sebenarnya memahami risiko utang konsumtif, tapi tetap tergoda karena ingin merasa tidak tertinggal. Tekanan sosial seperti ini sering kali lebih kuat daripada pengetahuan literasi keuangan.

Kesadaran Finansial Perlu Diikuti Kebiasaan yang Sehat

Belajar tentang keuangan tentu merupakan langkah awal yang baik. Namun, kesadaran tersebut akan lebih bermakna jika diwujudkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Menyusun anggaran bulanan, membedakan kebutuhan dan keinginan, menyiapkan dana darurat, serta mempertimbangkan kemampuan sebelum menggunakan paylater adalah beberapa contoh sederhana yang bisa dilakukan.

Sebab tujuan utama literasi keuangan bukan membuat kita takut menggunakan semua fasilitas kredit, melainkan membantu mengambil keputusan yang lebih bijak sesuai kondisi masing-masing.

Bijak Menggunakan, Bukan Sekadar Menghindari

Fenomena melek finansial di tengah tingginya penggunaan paylater menunjukkan kalau perilaku keuangan tidak selalu sesederhana teori. Akses informasi yang lebih luas tentang cara mengelola uang terus berseberangan dengan budaya konsumsi digital.

Padahal, paylater bukan musuh yang harus dihindari sepenuhnya, tapi juga bukan solusi untuk memenuhi semua keinginan. Fasilitas ini mampu menjadi alat yang bermanfaat jika digunakan secara terencana.

Namun, paylater juga bisa berubah menjadi beban saat dipakai tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Di sinilah letak pentingnya kemampuan mengendalikan keputusan saat dihadapkan pada godaan konsumtif.

Sebab, kesehatan finansial tidak hanya dibangun dari seberapa banyak kita mengetahui teori, tapi juga dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.