Ada sebuah sekat tak kasatmata yang kerap membentang di koridor-koridor kampus kita. Sebuah sekat yang dibangun dari material kuno bernama feodalisme akademik. Di satu sisi, ada dosen yang diposisikan atau memosisikan diri sebagai resi di puncak menara gading: tak tersentuh, selalu benar, dan berjarak. Di sisi lain, ada mahasiswa yang memandang sang dosen dengan kombinasi rasa hormat yang berlebihan dan ketakutan. Hubungan ini mekanis, transaksional, dan dingin.
Padahal, esensi dari pendidikan tinggi adalah dialog, bukan monolog kekuasaan. Sudah saatnya kita memecah tembok batas feodal ini. Mengapa? Karena di era disrupsi informasi saat ini, dosen bukan lagi satu-satunya mata air pengetahuan. Menjaga gengsi dan jaim (jaga image) di hadapan mahasiswa bukan lagi bentuk wibawa, melainkan tanda ketertinggalan zaman.
Mitos "Jatuh Harga Diri" yang Keliru
Ketakutan terbesar dari sebagian pengajar tua dan sayangnya, beberapa pengajar muda yang ketularan virus feodal adalah kehilangan wibawa jika terlalu akrab dengan mahasiswa. Ada anggapan keliru bahwa bergaul rapat dengan anak didik akan meruntuhkan harga diri dan membuat mahasiswa "ngelunjak".
Ini adalah logika yang cacat. Wibawa seorang pendidik tidak dibangun dari jarak sosiologis atau ekspresi wajah yang ditekuk runcing di ruang kelas. Wibawa sejati lahir dari kedalaman ilmu, integritas moral, dan empati. Ketika seorang dosen memilih untuk menyapa mahasiswa terlebih dahulu di kantin, mengobrol tentang tren musik terhangat, atau sekadar menanyakan kabar, harga diri mereka tidak sedang merosot. Sebaliknya, mereka sedang membangun jembatan emosional yang kokoh.
Ketika ruang kelas menjelma menjadi ruang yang intimidatif, mahasiswa akan memilih aman: diam, mengangguk, dan menyerap informasi secara pasif. Kritik mati, daya nalar tumpul. Dengan meruntuhkan tembok gengsi ini, dosen sebenarnya sedang membuka pintu gerbang bagi kebebasan berpikir yang sesungguhnya.
Lapangan dan Lapangan Olahraga: Panggung Kesetaraan
Bagaimana cara paling efektif meruntuhkan tembok feodal ini? Jawabannya ada di luar ruang kelas. Ruang kelas formal sering kali mengunci peran kita dalam struktur yang kaku: dosen di depan mimbar, mahasiswa duduk rapi di kursi. Namun, ketika interaksi bergeser ke forum non-formal seperti lapangan olahraga atau kegiatan praktikum, dinamika itu berubah total.
Bayangkan sebuah sore di mana seorang dosen ikut berkeringat dalam pertandingan futsal, badminton, atau basket bersama mahasiswanya. Di dalam lapangan, tidak ada gelar profesor atau doktor; yang ada hanyalah rekan satu tim yang saling mengoper bola atau lawan tanding yang saling menghormati. Saat dosen melakukan blunder dalam permainan dan menertawakan dirinya sendiri, saat itulah mahasiswa melihat sisi manusiawi dari sang pengajar. Olahraga meluruhkan formalitas dan menyisakan sportivitas serta kebersamaan.
Begitu pula dalam kegiatan praktikum di lapangan. Ketika seorang dosen pembimbing rela turun langsung ke lumpur, menembus hutan, atau berdiri di bawah terik matahari demi mengamati objek penelitian bersama mahasiswa, kehadiran itu bernilai seribu kata. Bagi mahasiswa, itu bukan sekadar kewajiban kerja seorang dosen, melainkan sebuah apresiasi tertinggi. Kehadiran fisik dosen di medan yang sulit menunjukkan bahwa mereka tidak sedang menyuruh dari balik meja yang nyaman, melainkan sedang menuntun dan berjalan bersama. Itu adalah bentuk validasi bahwa kerja keras mahasiswa di lapangan diakui dan dihargai.
Rekaman Momen: Makna di Balik Selembar Foto Bersama
Di era digital ini, cara kita mendokumentasikan kedekatan juga telah bergeser. Kita sering melihat unggahan di media sosial: foto bersama antara mahasiswa dengan dosen pembimbing akademik atau dosen wali mereka setelah sesi bimbingan yang melelahkan, atau di sela-sela waktu santai.
Bagi sebagian pengamat konvensional, ini mungkin dianggap remeh atau sekadar pencitraan gen-Z. Namun jika ditelaah lebih dalam, tindakan mengabadikan momen kebersamaan ini memiliki makna psikologis yang mendalam. Foto bersama dosen pembimbing bukan sekadar pamer piksel di Instagram. Itu adalah simbol dari runtuhnya kecemasan.
Bagi seorang mahasiswa, bimbingan akademik sering kali memicu kecemasan tinggi (academic anxiety). Ketika dosen pembimbing dengan senyum lebar mau diajak berswafoto (selfie) atau berfoto bersama, itu adalah sinyal psikologis bahwa "Hubungan kita aman. Saya memercayaimu, dan kamu bisa mengandalkan saya." Foto tersebut menjadi bukti artefak bahwa proses transfer ilmu tidak harus dilewati dengan ketegangan yang menyiksa, melainkan bisa dirayakan dengan kehangatan.
Menuju Ekosistem Akademik yang Humanis
Memecah tembok feodal bukan berarti menghilangkan batas etika. Mahasiswa tetap harus tahu sopan santun, menghormati waktu dosen, dan menggunakan bahasa yang patut dalam berkomunikasi. Namun, penghormatan itu harus lahir dari rasa kagum dan respek, bukan dari rasa takut ditindas secara nilai atau dipersulit dalam birokrasi skripsi.
Kampus modern seharusnya berfungsi sebagai sebuah co-working space bagi ide-ide besar, bukan kerajaan kecil tempat para feodal akademik mempertahankan takhtanya. Ketika dosen tidak lagi gengsi bergaul, ketika ruang non-formal dioptimalkan, dan ketika apresiasi diberikan secara tulus di lapangan, maka kualitas pendidikan kita akan melesat.
Mari kita ubah wajah pendidikan tinggi kita. Dosen yang hebat bukan lagi mereka yang ditakuti saat berjalan di koridor, melainkan mereka yang kehadirannya selalu dinantikan baik untuk mendebat teori di ruang seminar, berbagi taktik di lapangan futsal, maupun untuk sekadar diajak tersenyum bersama di depan kamera ponsel mahasiswa. Karena pada akhirnya, mendidik adalah proses memanusiawasi manusia, dan itu hanya bisa dimulai ketika kita berani menanggalkan jubah keangkuhan kita sendiri.
Baca Juga
-
Daging Empuk hingga Ceker Lumer: Mengintip Menu Andalan di Sate Padang Doni
-
Kopitiam Murni 99, Spot Kuliner 24 Jam di Jambi dengan Cita Rasa Autentik
-
Spot Nongkrong Paling Estetik di Jambi, Serasa Berada di Film Hong Kong Era 80-an!
-
Dongkrak Kunjungan Wisata, FE Watersport Sensasi Baru di Danau Singkarak
-
Merangkai Harapan dari Manik-Manik: Cerita Hangat dari Anak-Anak Legok Jambi
Artikel Terkait
-
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Diuntit Alat Pelacak, Netizen Malah Soroti Mobil Fortuner Mewah
-
Hanya Kirim PDF Tanpa Balasan, Polres Jakpus Jelaskan Soal Aksi BEM UI Tak Ajukan Izin Resmi
-
Jangan Adu Rakyat vs Rakyat, TB Hasanuddin Tegaskan Komcad Tak Boleh Hadapi Demo Mahasiswa
-
Tiyo Ardianto Respons Viral Aksi Penolakan di UGM, Singgung Kondisi Mahasiswa 'Terpaksa' Demo
-
Turun Aksi di Jogja, Cholil ERK Tegaskan Gerakan Masyarakat Jangan Mengempis
Kolom
-
Di Balik Ramainya Nobar Piala Dunia, Ada Ruang untuk Bersosialisasi
-
Kesepian di Era Media Sosial: Koneksi Makin Luas, Kedekatan Makin Langka
-
Registrasi Ulang Pelat Kendaraan: Pelayanan Publik atau Beban Administratif?
-
Barang Diskon Belum Tentu Murah: Mengapa Kita Mudah Terkecoh Label Promo?
-
Bukan Hanya Diskon, Belanja saat Lapar Juga Bisa Membuat Kita Jadi Impulsif
Terkini
-
Membongkar Perempuan di Titik Nol: Kisah Nyata yang Lebih Ngilu dari Fiksi
-
Tecno Camon 50 vs Camon 50 Pro 5G: Duel HP Tecno Terbaru 2026, Pilih Mana?
-
Reborn Rookie dan Formula Lama yang Masih Ampuh Memikat Penonton
-
PSSI Lanjutkan Naturalisasi Timnas Indonesia, Pemain Ini Diprediksi Datang!
-
Beroeng Sorah: Tempat Pulang dari Penat di Tengah Persawahan Kalisat Jember