Sebagai bagian dari Gen Z, saya merasakan sendiri bahwa kini membuka aplikasi e-commerce seperti sudah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. Di sela-sela padatnya pekerjaan, sebelum tidur, ketika ada waktu luang, atau bahkan sekadar saat merasa bosan, tidak sedikit anak muda yang memilih scrolling aplikasi online shop. Entah sekadar untuk melihat-lihat produk dan memasukkannya ke keranjang atau melihat promo terbaru.
Di kesempatan lain, kadang kita awalnya hanya ingin membeli krim pelembap wajah. Namun, setelah aplikasi terbuka, keranjang belanja justru terisi produk make up, bodycare, hingga camilan yang sedang diskon. Dari sana, yang sebelumnya hanya sekadar melihat-lihat ataupun berniat membeli satu produk saja, perlahan berubah menjadi keinginan untuk belanja lebih dari yang dibutuhkan. Hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang asing bagi Gen Z yang sangat akrab dengan berbagai fitur belanja digital, termasuk paylater.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa cara kita mengambil keputusan saat berbelanja tampaknya sudah banyak berubah dibanding beberapa tahun lalu. Sebelum maraknya penggunaan aplikasi online shop untuk berbelanja, pada saat ingin membeli sesuatu orang biasanya perlu menunggu gajian tiba atau menabung lebih dulu. Mereka punya banyak waktu untuk berpikir apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau sekadar keinginan sesaat.
Sementara itu, situasi saat ini sudah banyak mengalami perubahan. Bukan hanya proses belanjanya yang bisa dilakukan secara praktis dari mana saja, tapi juga pembayarannya yang bisa ditunda. Keberadaan teknologi e-commerce dilengkapi dengan fitur paylater membuat proses berbelanja terasa semakin praktis.
Di era paylater, jeda waktu untuk mempertimbangkan apakah sesuatu merupakan kebutuhan atau sekadar keinginan seolah menghilang. Saat ada keinginan, seseorang tak perlu lagi menunggu tanggal gajian, barang bisa langsung dibeli sekarang, sementara urusan membayarnya dipikirkan belakangan.
Perubahan tersebut juga memengaruhi cara kita mengambil keputusan saat berbelanja. Belum lagi dengan adanya diskon, gratis ongkir, live shopping, hingga pengaruh iklan yang dilakukan para influencer serta algoritma yang seolah memahami diri kita. Beberapa aplikasi e-commerce kini juga sudah menyediakan fitur paylater dengan cicilan ringan dan bunga rendah.
Bagi sebagian anak muda, berbagai kemudahan tersebut memang terasa meringankan. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu perubahan yang sering kali luput disadari, yakni batas antara kebutuhan dan keinginan yang perlahan menjadi semakin kabur. Salah satu penyebabnya bisa jadi karena proses mengambil keputusan menjadi jauh lebih singkat.
Dulu, ketika seseorang harus menunggu gajian atau menabung terlebih dahulu, ada jeda waktu yang membuatnya bisa berpikir ulang. Tidak sedikit keinginan yang akhirnya hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Kini, jeda tersebut semakin pendek. Keinginan yang muncul hari ini bisa langsung diwujudkan saat itu juga tanpa perlu menunggu gajian, salah satunya melalui fitur paylater.
Lantas, apakah paylater memang selalu menjadi pilihan yang keliru?
Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan fitur ini. Paylater merupakan alat pembayaran yang bertujuan untuk memudahkan pengguna aplikasi. Namun, hal ini bisa menjadi masalah ketika penggunaannya tidak disertai dengan kesadaran akan dampak yang ditimbulkan ke depannya.
Karena bagaimanapun, utang tetaplah utang. Penundaan pembayaran tidak lantas membebaskan kita dari kewajiban untuk melunasinya. Artinya, ketika kita menggunakan paylater demi memenuhi keinginan sesaat hari ini, gaji bulan depan harus kita relakan untuk membayar kesenangan yang sudah berlalu.
Bagi orang yang memang sedang dalam situasi darurat dan terdesak, fitur paylater bisa digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhannya. Namun, untuk hal-hal yang bersifat keinginan dan bisa ditunda pembeliannya, mungkin sebelum benar-benar melakukan checkout kita perlu bertanya pada diri sendiri: "kalau tidak ada promo dan tidak ada paylater, apakah aku tetap akan membeli barang ini?"
Akhirnya, teknologi seperti e-commerce dan paylater memang hadir untuk memudahkan kita berbelanja di era sekarang ini. Namun, di saat yang sama, kita juga perlu menyadari bahwa setiap kemudahan selalu datang bersama konsekuensi. Semakin bijak kita membedakan kebutuhan dan keinginan, semakin kecil pula kemungkinan keputusan belanja hari ini menjadi beban di kemudian hari.
Baca Juga
-
Thriller hingga Romcom, 5 Rekomendasi Drama yang Dibintangi Kim Young Kwang
-
Room No. 7: Saat Persoalan Finansial Mengikis Moral dan Empati Seseorang
-
Bikin Senyum-Senyum Sendiri tapi Berujung Luka, Ini 5 Drakor Romantis yang Susah Banget Dilupain!
-
Review The Childe: Film Aksi Menegangkan dengan Akhir yang Tak Terduga
-
Ulasan Film Hear Me: Our Summer: Saat Cinta dan Ketulusan Tak Hanya Butuh Suara
Artikel Terkait
Kolom
-
Masalah Struktural Tidak Bisa Diselesaikan dengan Nasihat Individual
-
Di Balik Pahitnya Matcha, Ada Ancaman Gula Berlebih yang Bikin Tubuh Menjerit!
-
Wacana Blokir Medsos Anak: Solusi Aman atau Bikin Anak Makin Penasaran?
-
Saya Kira Saya Malas, Ternyata Otak Saya Disetel Ulang untuk Gagal Fokus
-
Sering Dianggap Remeh, Segini Mahalnya Biaya Menjadi Perempuan Setiap Bulan
Terkini
-
Manga Komedi-Romantis Hiragi-san's House of Vampires Dapat Adaptasi Anime
-
Love's Ambition: Akting Sedih Zhao Lu Si yang Patahkan Genre Romansa CEO
-
Nice to Eat You: Belajar Bahasa Lewat Kisah yang Unik
-
Sinopsis Kokkai, Drama Jepang Dibintangi Takahashi Fumiya dan Tanaka Min
-
Gaji Stagnan Harga Barang Naik, Masihkah Orek Tempe Worth It Jadi Penyelamat?