M. Reza Sulaiman | e. kusuma .n
ilustrasi belanja online (Pexels/Mikhail Nilov)
e. kusuma .n

Saya merasa hidup di era sekarang membuat kita sulit benar-benar lepas dari godaan belanja. Baru buka media sosial beberapa menit, sudah muncul video rekomendasi outfit lucu, skincare viral, sampai konten “must-have item” yang katanya wajib dibeli.

Belum selesai menonton satu video, muncul lagi konten lain yang membuat kita merasa, “Kayaknya aku butuh ini, deh”. Padahal sebelumnya, kita baik-baik saja tanpa barang itu dan memang belum membutuhkannya.

Media sosial seolah bertransformasi menjadi ruang yang bukan hanya tempat hiburan, melainkan juga tempat tren dan gaya hidup dibentuk. Semua terlihat menarik, estetik, dan menyenangkan hingga kita jadi lebih mudah tergoda membeli sesuatu hanya karena sedang viral.

Yang membuat semuanya makin “epik” adalah hadirnya paylater. Kalau dulu orang harus berpikir dua kali sebelum membeli barang mahal, sekarang semuanya terasa lebih ringan karena ada opsi “bayar nanti”.

Kombinasi media sosial, tren, dan paylater akhirnya menjadi paket kombo yang mendorong gaya hidup konsumtif tanpa terasa. Bahkan sekarang, tiga hal ini sudah dinormalisasi seolah lumrah saja menggunakannya.

Tren Cepat Berganti, Dompet Ikut Kewalahan

Salah satu hal yang saya sadari dari media sosial adalah tren bergerak sangat cepat. Hari ini orang ramai membeli sepatu tertentu, minggu depan berganti skincare viral, lalu muncul lagi tas, aksesori, atau gadget baru yang katanya sedang hype.

Masalahnya, banyak orang merasa harus terus mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan. Ada rasa takut tidak relevan kalau tidak punya barang yang sedang ramai dipakai orang lain. Padahal, tren di media sosial sering hanya bertahan sebentar.

Ironisnya, barang yang dibeli dengan semangat tinggi kadang akhirnya hanya dipakai beberapa kali sebelum tergantikan tren baru. Namun, karena proses membeli sekarang sangat mudah, orang tetap terus berbelanja tanpa banyak pertimbangan.

Di sinilah paylater terasa sangat menggoda. Ketika uang belum cukup, fitur cicilan membuat semua terasa mungkin. Kalimat seperti “cicilan ringan” sering membuat orang merasa aman saat checkout barang.

Paylater: Penolong atau Penjebak?

Menurut saya, paylater sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya buruk. Dalam kondisi tertentu, fitur ini memang membantu, terutama untuk kebutuhan mendesak. Namun, masalahnya muncul saat paylater lebih sering dipakai untuk memenuhi gaya hidup.

Karena prosesnya cepat dan praktis, orang jadi lebih impulsif saat belanja. Bahkan, kadang keputusan membeli dibuat bukan karena benar-benar perlu, tetapi karena takut kehabisan promo atau takut merasa tertinggal dari orang lain.

Yang berbahaya, cicilan kecil sering terlihat sepele. Puluhan ribu atau seratus ribuan terasa ringan saat dilihat satu per satu. Namun, saat tagihan mulai menumpuk dari berbagai transaksi, kondisi finansial bisa langsung terasa berat.

Saya rasa banyak generasi muda pernah ada di fase seperti ini. Awalnya merasa aman menggunakan paylater, lalu kaget sendiri ketika akhir bulan uang habis untuk membayar cicilan barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Paylater akhirnya bukan lagi sekadar alat pembayaran, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya konsumtif digital. Kalau sudah begini, bukankah paylater malah jadi jebakan finansial yang mematikan?

Media Sosial dan Validasi Gaya Hidup

Hal lain yang membuat budaya konsumtif makin kuat adalah kebutuhan validasi di media sosial. Tidak sedikit orang membeli sesuatu demi terlihat keren, estetik, atau “hidupnya teratur” di internet.

Kadang kita tidak sadar kalau media sosial membuat standar hidup terasa lebih tinggi. Melihat orang lain nongkrong di tempat mahal, memakai outfit baru, atau rutin membeli barang viral bisa memunculkan tekanan untuk ikut melakukan hal yang sama.

Akhirnya, belanja bukan lagi soal kebutuhan, melainkan soal citra diri. Lucunya, banyak orang rela berutang kecil-kecilan demi terlihat baik-baik saja di media sosial. Timeline terlihat rapi dan mewah, tetapi di balik itu ada daftar tagihan yang menunggu dibayar.

Fenomena ini menurut saya cukup ironis. Kita hidup di era ketika tampil bahagia kadang lebih diprioritaskan daripada benar-benar merasa tenang secara finansial.

Belajar Mengendalikan Diri di Tengah Godaan Digital

Menurut saya, tantangan terbesar generasi sekarang adalah mengendalikan keinginan. Karena, jujur saja, godaan konsumsi di era digital memang datang bertubi-tubi. Oleh karena itu, penting untuk mulai lebih sadar sebelum checkout barang.

Di sinilah kesadaran berperan lewat logika kebutuhan versus keinginan. Ingat, tidak semua barang harus dimiliki dan tidak semua yang viral harus dibeli. Alih-alih mengejar validasi dan mengikuti tren yang tidak ada habisnya, hidup tenang ternyata lebih menyenangkan.

Media sosial memang bisa menjadi tempat hiburan dan inspirasi. Paylater juga bisa membantu jika digunakan dengan bijak. Namun, ketika keduanya bertemu tanpa kontrol diri, hasilnya bisa menjadi gaya hidup konsumtif yang perlahan menguras finansial.

Pada akhirnya, kolaborasi media sosial, tren, dan paylater memang terasa “epik”. Dan kalau tidak hati-hati, yang terkuras bukan hanya uang, tetapi juga kemampuan untuk merasa cukup dengan apa yang sudah dimiliki.