Tren quiet luxury mulai bergeser menjadi quiet living. Apa yang membuat perempuan Gen Z kini lebih memilih hidup sederhana, tenang, dan bermakna dibanding mengejar kemewahan?
Beberapa tahun terakhir, istilah quiet luxury menjadi simbol gaya hidup yang banyak dibicarakan. Konsep ini identik dengan kemewahan yang tidak mencolok, memilih kualitas dibanding logo besar, dan tampil elegan tanpa menunjukkan status secara berlebihan.
Namun, di kalangan perempuan Gen Z, tren tersebut mulai mengalami pergeseran. Kini, yang dicari bukan lagi sekadar penampilan sederhana yang terlihat mahal, melainkan kehidupan yang benar-benar tenang, atau quiet living.
Perubahan ini menunjukkan kalau perempuan Gen Z mulai memaknai kesuksesan dengan cara yang berbeda. Hidup damai, cukup waktu luang, dan kesehatan mental dianggap lebih berharga daripada sekadar citra mewah di media sosial.
Tidak Lagi Mengejar Validasi Lewat Penampilan
Media sosial pernah mendorong banyak orang untuk selalu tampil sempurna. Mulai dari pakaian bermerek, kafe estetik, hingga liburan ke berbagai tempat menjadi standar yang seolah harus dipenuhi.
Namun, semakin banyak perempuan Gen Z yang mulai lelah dengan budaya tersebut. Mereka semakin sadar kalau kebahagiaan tidak selalu datang dari barang mahal atau gaya hidup yang terlihat mewah.
Sebaliknya, hidup sederhana justru terasa lebih ringan karena tidak dibebani kebutuhan untuk terus mendapat pengakuan dari orang lain. Quiet living pun hadir sebagai bentuk kebebasan dari tekanan untuk selalu terlihat "berhasil".
Memilih Ketenangan daripada Kesibukan
Selama ini, kesibukan sering dianggap sebagai tanda produktivitas. Padahal, jadwal yang penuh belum tentu membuat seseorang lebih bahagia. Apalagi bagi perempuan, tuntutan untuk selalu “hadir” sering kali malah menjadi tekanan.
Perempuan kini mulai memberi ruang untuk hidup yang lebih seimbang. Mereka tidak ragu menolak aktivitas yang menguras energi, membatasi penggunaan media sosial, atau menikmati waktu tanpa agenda khusus.
Terutama bagi perempuan Gen Z, aktivitas sederhana seperti membaca buku di rumah, memasak, berjalan santai, atau menikmati secangkir kopi tanpa terburu-buru bisa menjadi bentuk kemewahan yang sesungguhnya.
Prioritas Beralih pada Kesehatan Mental
Quiet living juga erat kaitannya dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental. Perempuan, terlebih Gen Z, semakin paham pentingnya menjaga keseimbangan emosi di tengah tekanan pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial.
Alih-alih terus mengejar pencapaian tanpa henti, mereka mulai belajar mengatakan "cukup". Tidak semua kesempatan harus diambil, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua target harus dicapai dalam waktu yang sama.
Pola pikir ini membantu mengurangi tekanan yang sering muncul akibat kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kini, kesehatan mental sudah menjadi prioritas dibanding pencapaian atau bahkan validasi sosial.
Konsumsi yang Lebih Sadar
Perubahan menuju quiet living juga terlihat dari cara perempuan Gen Z berbelanja. Mereka mulai mempertimbangkan fungsi, kualitas, dan kebutuhan sebelum membeli sesuatu daripada mengikuti tren yang cepat berganti.
Begitu pula dengan penggunaan uang, kini lebih diarahkan untuk pengalaman, tabungan, atau investasi jangka panjang. Gaya hidup ini bukan berarti anti kemewahan, tapi lebih mengutamakan keputusan berdasar kebutuhan pribadi.
Kesuksesan Punya Arti yang Berbeda
Salah satu perubahan terbesar yang dibawa quiet living adalah cara memandang kesuksesan. Jika dulu sukses identik dengan jabatan tinggi, barang mewah, atau kehidupan yang tampak sempurna di media sosial, kini definisinya menjadi lebih personal.
Bagi sebagian perempuan Gen Z, sukses berarti memiliki waktu istirahat yang cukup, pekerjaan yang tidak mengorbankan kesehatan mental, hubungan yang sehat, serta kemampuan menikmati hidup tanpa merasa tertinggal.
Pergeseran dari quiet luxury menuju quiet living juga menunjukkan kalau perempuan Gen Z semakin berani menentukan standar hidupnya sendiri. Tidak lagi mengejar kesan mewah demi validasi, tapi membangun kehidupan yang nyaman untuk dijalani.
Mungkin inilah bentuk kemewahan yang sesungguhnya: memiliki ketenangan, kebebasan menentukan prioritas, dan kesempatan menikmati hidup tanpa harus terus berlomba dengan ekspektasi sosial.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, tampaknya memilih hidup yang lebih tenang justru menjadi langkah yang terasa paling berani. Apakah kamu setuju dengan konsep ini?
Baca Juga
-
Tidur Sekasur tapi Rasanya Seperti Teman Sekamar? Kenali 5 Tanda Pernikahan Sedang Sekarat
-
Hubungan Sempurna di Medsos Cuma Ilusi? Ini Bukti Gen Z Mulai Sadar!
-
Skincare Routine ke Beauty Consumerism: Self-Care Dijadikan Alasan Belanja?
-
Single Life Bukan Kegagalan: Saat Perempuan Tak Lagi Takut Hidup Melajang
-
Menjadi Dewasa Tidak Sesederhana Itu: Realita Adulting Gen Z di Era Mahal
Artikel Terkait
-
Tak Sekadar Olahraga, Tren Komunitas Jadi Cara Baru Masyarakat Indonesia Jalani Hidup Sehat
-
Jesslyn Wijaya Masih Tak Bisa Dihubungi, Calon Suami Lapor ke Komnas Perempuan
-
Fenomena Fun Run: Gaya Hidup Sehat atau Sekadar Ajang Konten Media Sosial?
-
Soft Life Makin Populer: Saat Gen Z Lebih Pilih Hidup Tenang dan Seimbang
-
Bukan Sekadar Menang Trofi, Ini Cerita Atlet Muda Indonesia 'Guncang' Panggung Bulu Tangkis Asia Tenggara
Kolom
-
Kontroversi Uan Juicy Luicy: Mengapa Humor Misoginis Tak Boleh Dimaklumi
-
Memahami Privilege Blindness di Tengah Krisis dan Berita Buruk
-
Paranoia Kolonial di Tanah Suci: Membedah Politik Haji Pada Masa Penjajahan
-
Jalan Teknokratis Suahasil Nazara Menuju Kursi Menteri Keuangan
-
Karhutla Jadi Sorotan Dunia, Mengapa Respons Pemerintah Masih Santai?
Terkini
-
Ulasan Novel Mirai Karya Mamoru Hosoda: Belajar Memahami Arti Keluarga
-
Generasi Muda Harus Melek Tradisi: Bagaimana Topeng Blantek Tetap Eksis?
-
Drama Honour, Antara Reputasi Profesional dan Masa Lalu yang Belum Usai
-
Masjid Lawang Songo, Jejak Arsitektur Jawa yang Tetap Terjaga di Lirboyo
-
Review Film Practical Magic: The Book Of Magic, Nostalgia Sihir yang Indah!