Saya sering kali takjub sekaligus geleng-geleng kepala setiap kali berselancar di media sosial. Di sana, ruang siber kita penuh sesak oleh anak muda yang mendadak jadi pakar segala bidang.
Mereka bisa menulis utas panjang di platform X (Twitter) dengan diksi yang membakar semangat, menyusun argumen yang mempreteli logika lawan bicara di kolom komentar TikTok, atau membuat takarir (caption) Instagram yang puitis sekaligus filosofis. Pokoknya, kalau urusan adu argumen lewat jempol, mereka adalah singa yang siap menerkam siapa saja.
Namun, keajaiban siber itu tiba-tiba berubah menjadi kepedihan massal ketika mereka masuk ke ruang kelas atau laboratorium kampus. Begitu dosen memberikan tugas mandiri berupa artikel ilmiah, esai argumentatif baku, atau draf jurnal, singa-singa media sosial ini tiba-tiba mengecil menjadi seukuran anak kucing yang mengeong kesusahan. Jempol yang tadinya lincah menari di atas layar ponsel langsung membeku di depan papan ketik laptop. Mereka tiba-tiba muntah, kaku, dan menderita sindrom kehabisan kata-kata.
Jurang Pemisah Antara Kasual dan Akademis
Fenomena kontras ini bukan sekadar menebak-nebak omong kosong sambil minum kopi di angkringan. Kajian sosiolinguistik dan pedagogi dalam Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menunjukkan bahwa kelancaran berekspresi di ruang digital sama sekali tidak berbanding lurus dengan kemampuan menyusun teks argumentasi yang baku.
Penelitian tersebut menegaskan bahwa ada batas pemisah yang lebar antara kompetensi komunikatif kasual dengan kemampuan bernalar akademis. Kegagapan ini dipicu oleh ketergantungan akut pada struktur bahasa lisan yang bebas, sehingga ketika dihadapkan pada aturan EYD V dan logika paragraf deduktif-induktif, struktur berpikir murid langsung mengalami korsleting.
Mari kita bedah secara tajam mengapa fenomena "sakti di sosmed, mati di jurnal" ini bisa terjadi. Alasan pertamanya adalah hilangnya kemampuan mengelola kesabaran berpikir intelektual. Di media sosial, argumen dibangun di atas kecepatan dan impulsif. Anda melihat sesuatu yang mengganggu, emosi Anda terpelatuk, lalu jempol Anda otomatis merangkai kata. Validitas data? Nomor sekian. Yang penting adalah rima kalimat yang menohok dan jumlah suka (likes) yang banyak.
Sementara itu, menulis karya ilmiah adalah bentuk argumentasi yang elegan. Anda tidak bisa menulis, "Pokoknya kebijakan pemerintah itu ampas banget, Guys!" di dalam bab pembahasan. Anda berusaha mencari landasan teoretis, menyusun metodologi yang masuk akal, dan menyajikan data empiris yang valid.
Setiap klaim yang keluar dari kepala Anda harus mempertanggungjawabkan diri di hadapan catatan kaki atau sitasi gaya APA edisi ke-7. Bagi generasi yang terbiasa instan, proses optimasi berpikir dalam penulisan ilmiah ini terasa sangat birokratis, menjemukan, dan mengekang kebebasan.
Register Bahasa dan Krisis Bernalar Terstruktur
Alasan kedua terletak pada perbedaan radikal dalam penguasaan register bahasa. Media sosial memuja keintiman dan bahasa gaul. Kalimatnya pendek-pendek, lompat-lompat, dan sering kali abai pada subjek-predikat yang jelas. Ketika kebiasaan ini dibawa ke ranah akademis, tulisan mereka menjadi “bocor”.
Saya sering menemukan tugas mahasiswa yang struktur kalimatnya seperti orang sedang bergosip di kedai kopi, penuh kata sambung di awal kalimat, miskin kata kerja aktif, dan argumennya berputar-putar seperti komidi putar tanpa ujung yang jelas. Mereka kaku bukan karena tidak punya isi kepala, melainkan karena tidak tahu bagaimana cara menerjemahkan isi kepala yang acak-acakan itu ke dalam wadah formal yang kaku.
Kita tidak bisa terus-menerus membiarkan krisis ini terjadi dengan dalih "yang penting mereka kritis di media sosial." Menjadi kritis di ruang siber tanpa dibarengi ketajaman menulis ilmiah adalah hal yang semu; itu hanya melahirkan generasi jago yang berteriak, tetapi rapuh dalam berargumen secara struktural.
Institusi pendidikan harus mulai sadar bahwa mengajarkan metode menulis ilmiah tidak bisa lagi menggunakan cara-cara kuno yang doktriner dan membosankan. Kita butuh jembatan yang bisa mengubah energi ledakan opini anak muda di media sosial menjadi sebuah tulisan ilmiah yang rapi, tajam, dan tidak membuat ngantuk saat dibaca.
Jadi, wahai para pakar media sosial, silakan lanjutkan petualangan Anda berdebat dengan netizen di luar sana. Namun ingat, saat masa bimbingan skripsi tiba, algoritma media sosial tidak akan bisa menyelamatkan nilai Anda dari coretan tinta merah dosen pembimbing yang menuntut penggunaan kalimat efektif sesuai standar baku. Bersiaplah untuk belajar menulis dari nol lagi, demi warasnya isi kepala dan ringannya beban masa kuliah Anda.
Baca Juga
-
Membongkar Borok Kerja Kelompok yang Cuma Bikin Jinak Si Pemalas
-
Gaya Bahasa Jakselan di Kampus yang Bikin Logika Bahasa Baku Jadi Korban
-
Kesenjangan Literasi AI yang Diam-diam Menciptakan Kasta Baru di Kampus
-
Sisi Gelap Label Introvert yang Bikin Generasi Sekarang Makin Egois
-
Beban Menjadi Anak Emas yang Dipaksa Menebus Kegagalan Orang Tua
Artikel Terkait
-
Warung Irine Viral di TikTok, Strategi Digital Antar Usaha Kuliner Gresik Naik Kelas
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Kesepian di Era Media Sosial: Koneksi Makin Luas, Kedekatan Makin Langka
-
Ketika Kampus Negeri Tak Lagi Ramah bagi Kelas Menengah
-
Ratusan Mahasiswa RI Kuliah Gratis di Rusia, Ini Jurusan yang Paling Diburu
Kolom
-
Tumbuh Tanpa Kehilangan Akar: Desa Kemiren dan Jalan Panjang Merawat Budaya Osing
-
Ironi Ruang Kota: Ketika Mal Harus Terbuka, tapi "Rumah Rakyat" Dipagari Kawat Berduri
-
Ketika Siaran Pidato Terputus: Rakyat Lebih Cemas Perang Dunia atau Biaya Hidup?
-
Ketika "Bersyukur" Jadi Tameng Eksploitasi: Membedah Crab Mentality di Dunia Kerja
-
Ketika Barang Kecil Terasa Mewah: Membaca Paradoks Biaya Hidup Indonesia
Terkini
-
Gaya Kepelatihan Berkelas Eropa! Alasan Mengejutkan John Herdman Nonton Timnas dari Tribun Penonton
-
Melihat Pengarang Tidak Bekerja: Ketika Musuh Terbesar Penulis Adalah Dirinya Sendiri
-
Spider-Man: Brand New Day dan Awal Era Mutan di Marvel Cinematic Universe
-
4 Pelembap Retinol Ampuh Pudarkan Bekas Jerawat dan Muluskan Tekstur Kulit
-
Ulasan Film Unlocked: Ketika Kehilangan Ponsel Jadi Awal Teror Paling Nyata