Ketika banjir merendam rumah, udara terasa sesak, sungai dipenuhi sampah, atau hutan berubah menjadi lahan gundul, barulah kita bertanya apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Bumi? Padahal, jauh sebelum persoalan ekologi menjadi perbincangan global, Islam telah mengajarkan manusia untuk memperlakukan alam dengan penuh tanggung jawab.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang terasa mengemuka ketika saya rampung membaca buku Islam dan Lingkungan Hidup karya Dr. Agus Hermanto, M.H.I., dan Rohmi Yuhani’ah, M.Pd. Buku ini tidak sekadar mengajak pembaca mengenali kerusakan alam, tetapi juga mengembalikan kesadaran bahwa lingkungan hidup merupakan bagian dari amanah keagamaan.
Alam bukan benda mati yang bebas dieksploitasi sesuka hati. Ia adalah ciptaan Allah yang memiliki fungsi, keteraturan, dan hubungan timbal balik dengan seluruh makhluk.
Ekologi dalam Pandangan Islam
Sejak bagian awal, buku ini menegaskan bahwa Islam memiliki perhatian besar terhadap lingkungan hidup. Ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga hubungan manusia dengan alam. Akidah, syariah, dan akhlak menjadi tiga unsur penting yang saling berkaitan dalam membentuk perilaku manusia.
Akidah menanamkan keyakinan bahwa alam adalah ciptaan Allah. Syariah memberikan tatanan agar kehidupan berjalan tertib, termasuk dalam pemanfaatan sumber daya alam. Sementara itu, akhlak mengarahkan manusia agar memperlakukan lingkungan dengan baik, tidak serakah, dan tidak melakukan kerusakan.
Penjelasan tersebut membuat saya melihat bahwa persoalan lingkungan sesungguhnya bukan hanya urusan teknologi, ekonomi, atau kebijakan. Ada dimensi moral yang tidak boleh ditinggalkan. Ketika manusia mengambil sumber daya alam tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya, persoalannya bukan sekadar salah kelola, melainkan juga menyangkut tanggung jawab etis terhadap ciptaan Allah.
Buku ini menjelaskan bahwa lingkungan hidup merupakan ekosistem yang terdiri atas komponen biotik dan abiotik. Manusia, hewan, dan tumbuhan termasuk komponen biotik, sedangkan tanah, air, udara, batu, dan cahaya termasuk komponen abiotik. Semuanya saling berinteraksi dan memengaruhi. Jika salah satu bagian mengalami gangguan, bagian lain pun dapat terkena dampaknya.
Alam Diciptakan dengan Keseimbangan
Buku ini membahas tentang penciptaan alam semesta, bumi, dan kehidupan. Penulis mengajak pembaca memahami bahwa langit, bumi, matahari, bulan, hewan, tumbuhan, daratan, lautan, dan udara diciptakan dengan fungsi masing-masing. Tidak ada yang hadir tanpa tujuan.
Manusia memang diberi kedudukan mulia sebagai khalifah di muka bumi. Namun, kedudukan itu bukan berarti manusia boleh bertindak semaunya. Justru karena memiliki akal dan potensi, manusia dibebani tugas untuk menjaga, merawat, dan memanfaatkan alam secara bijaksana.
Buku ini mengingatkan bahwa perubahan pada satu ekosistem dapat memengaruhi kehidupan secara luas. Keserakahan manusia dalam mengeksploitasi hutan, misalnya, dapat mengganggu keseimbangan alam dan memunculkan berbagai persoalan. Karena itu, menjadi khalifah bukan hanya soal menguasai alam, tetapi juga memastikan alam tetap lestari.
Gagasan tersebut terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kita sering menganggap kerusakan lingkungan sebagai persoalan besar yang hanya bisa diselesaikan pemerintah atau perusahaan. Padahal, kebiasaan membuang sampah sembarangan, boros air, menggunakan energi secara berlebihan, dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar juga merupakan bagian dari persoalan yang sama.
Al-Qur’an sebagai Pedoman Menjaga Bumi
Buku ini juga mengaitkan persoalan lingkungan dengan Al-Qur’an, khususnya QS. ar-Rum ayat 41:
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat tersebut menjadi salah satu landasan penting dalam pembahasan buku. Penulis menunjukkan bahwa kerusakan di darat dan laut tidak dapat dilepaskan dari perilaku manusia yang mengabaikan tanggung jawabnya. Tafsiran Wahbah Az-Zuhaili dan As-Sa’di yang dikutip dalam buku ini memperkuat pemahaman bahwa kerusakan dan musibah dapat berkaitan dengan perbuatan buruk manusia (hlm. 2).
Namun, menurut saya, pesan yang paling penting dari ayat tersebut bukan sekadar menuding manusia sebagai penyebab kerusakan. Ada ajakan untuk kembali, memperbaiki diri, dan mengubah perilaku. Dengan demikian, kesadaran ekologis dalam Islam tidak berhenti pada rasa bersalah, tetapi harus dilanjutkan dengan tindakan nyata.
Dari Air, Udara, hingga Reboisasi
Buku ini membahas berbagai persoalan lingkungan secara bertahap, mulai dari penciptaan air, pencemaran udara, sumber daya alam, reboisasi, hingga dampak globalisasi. Pembahasan tersebut membuat buku ini terasa cukup luas untuk dijadikan pengantar memahami hubungan antara ajaran Islam dan persoalan ekologis.
Pada bagian tentang pencemaran udara, pembaca diajak melihat bagaimana asap pabrik, limbah industri, dan aktivitas manusia dapat mengganggu kualitas lingkungan. Sementara itu, pembahasan tentang reboisasi mengingatkan bahwa menanam dan merawat pohon bukan sekadar kegiatan penghijauan, tetapi juga bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan kehidupan.
Saya juga tertarik pada penjelasan mengenai perkembangan ilmu ekologi. Buku ini menyebut bahwa istilah ekologi diperkenalkan oleh ahli biologi Jerman, Ernst Haeckel, pada tahun 1860. Penulis kemudian menegaskan bahwa ilmu ekologi berkembang semakin pesat seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kerusakan lingkungan.
“Ilmu ekologi pada akhirnya tidak hanya menjadi ilmu penunjang, tetapi menjadi sebuah cabang yang mendasari ilmu lainnya dan tidak ada satu keilmuan pun yang mengabaikan ekologi.” (hlm. 2)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa ekologi bukan ilmu yang berdiri sendiri tanpa kaitan dengan kehidupan manusia. Ia berhubungan dengan kesehatan, pendidikan, ekonomi, hukum, agama, dan berbagai bidang lainnya. Oleh karena itu, memahami lingkungan berarti memahami salah satu fondasi penting kehidupan.
Relevan bagi Generasi Muda
Bagi generasi muda masa kini, buku ini memiliki relevansi yang kuat. Anak-anak muda hidup di tengah perkembangan teknologi dan globalisasi yang begitu cepat. Di satu sisi, kemajuan tersebut membuka banyak peluang. Namun, di sisi lain, gaya hidup konsumtif, penggunaan plastik sekali pakai, pemborosan energi, serta meningkatnya produksi sampah juga menjadi tantangan yang perlu dihadapi.
Buku ini dapat menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak seharusnya membuat manusia kehilangan unggah-ungguh terhadap alam. Generasi muda tidak harus menunggu menjadi pejabat, ilmuwan, atau aktivis lingkungan untuk berbuat sesuatu. Mereka bisa memulainya dari hal sederhana, seperti mengurangi sampah, memilah limbah, menghemat air, menanam pohon, menjaga kebersihan sungai, dan menggunakan media sosial untuk menyebarkan kesadaran ekologis.
Yang menarik, buku ini tidak memisahkan kepedulian terhadap lingkungan dari nilai-nilai keislaman. Justru keduanya dipertemukan. Menjaga kebersihan, tidak merusak alam, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana dapat dipahami sebagai bagian dari akhlak seorang Muslim.
Identitas Buku
- Judul: Islam dan Lingkungan Hidup
- Penulis: Dr. Agus Hermanto, M.H.I., dan Rohmi Yuhani'ah, M.Pd.
- Penerbit: Literasi Nusantara Abadi
- Cetakan: I, Juni 2023
- Tebal: 146 Halaman
- ISBN: 978-623-8227-27-3
- Genre: Agama
Baca Juga
-
iQOO Pad Ultra Segera Rilis 29 September: BawaLayar OLED 8,8 Inci, Snapdragon Generasi Baru
-
Honor MagicOS 11 Resmi Hadir: Usung Liquid Glass, AI Agentik, dan Storage Space 2.0
-
Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2: Menikmati Laut, Menguatkan Kebersamaan
-
Oppo Find X10 Siap Debut 22 September: Flagship dengan Kamera 200 MP dan Baterai Jumbo 8.000 mAh
-
Oppo Find X10 Pro Max Siap Meluncur,Ponsel Flagship dengan Performa Dimensity 9600 Pro
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan The Invisible Man: Ketika Ilmu Pengetahuan Kehilangan Kendali
-
Drama Korea Love Your Enemy: Ditakdirkan untuk Saling Bertemu dan Bersaing
-
Masjid Baiturrahman Alasmalang, Dirawat Seperlunya Tanpa Ubah Wajah Lama
-
Review Drama Start-Up: Drakor Lama dengan Pelajaran yang Tak Pernah Usang
-
Bisnis Kriminal yang Berujung Kekacauan di Serial The Gentlemen Season 2
Terkini
-
Tugas Guru Itu Mengajar, Bukan Menjadi Petugas Pemeriksa MBG
-
Mode Survival Rakyat: Ayah Antre BBM, Ibu Cari Sembako, Anak Keracunan MBG
-
Menelisik Pameran 'On Equal Grounds": Saat Hierarki di Dunia Seni Diruntuhkan
-
Cuaca Panas Terik? Ini 5 Mist Spray Aloe Vera untuk Menyegarkan Kulit Wajah
-
Dari Romcom hingga Aksi, 5 Drama Korea 2026 Ini Wajib Masuk Watchlist