Hayuning Ratri Hapsari
Ilustrasi: Opang, Gojek, dan Penumpang. (Generate by AI)

Transportasi merupakan kebutuhan penting dalam kehidupan masyarakat modern. Mobilitas yang tinggi membuat masyarakat membutuhkan sarana transportasi yang cepat, mudah, dan terjangkau. Salah satu moda transportasi yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah ojek. Seiring perkembangan teknologi digital, layanan ojek tidak lagi hanya tersedia melalui sistem pangkalan, tetapi juga melalui aplikasi seperti Gojek dan Grab. Kehadiran transportasi berbasis aplikasi ini memang memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat, namun di sisi lain juga menimbulkan tantangan bagi ojek pangkalan atau yang lebih dikenal dengan sebutan Opang.

Gojek hadir dengan berbagai keunggulan yang membuat masyarakat tertarik menggunakannya. Melalui aplikasi, pengguna dapat mengetahui tarif perjalanan sebelum berangkat, memantau posisi pengemudi secara real-time, serta melakukan pembayaran secara digital. Selain menggunakan sepeda motor, layanan ini juga menyediakan transportasi mobil yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Kemudahan tersebut menjadikan transportasi online sebagai pilihan utama bagi banyak masyarakat, terutama di daerah perkotaan. Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat persoalan yang masih sering terjadi hingga saat ini. Saya sering menjumpai kondisi tersebut ketika menggunakan Gojek dari kawasan Stasiun Tambun, Bekasi. Di area pintu keluar stasiun biasanya terdapat sejumlah Opang yang menunggu penumpang. Sementara itu, banyak pengguna aplikasi yang ingin memesan Gojek merasa tidak nyaman untuk menunggu di lokasi tersebut. Akibatnya, mereka harus berjalan ke titik tertentu atau mengatur lokasi penjemputan yang berbeda dari posisi sebenarnya agar dapat bertemu dengan pengemudi online.

Situasi seperti ini menunjukkan bahwa persaingan antara Opang dan transportasi online masih belum menemukan titik temu yang ideal. Di satu sisi, masyarakat memiliki hak untuk memilih layanan transportasi yang dianggap paling sesuai dengan kebutuhan mereka. Namun di sisi lain, Opang juga berusaha mempertahankan sumber penghasilan yang selama bertahun-tahun menjadi mata pencaharian utama mereka.

Banyak orang beranggapan bahwa solusi paling mudah adalah dengan meminta seluruh Opang bergabung menjadi mitra aplikasi seperti Gojek. Secara teori, gagasan tersebut memang terdengar sederhana. Akan tetapi, kenyataan di lapangan tidak semudah itu. Masih banyak pengemudi Opang yang berusia lanjut dan belum terbiasa menggunakan smartphone maupun aplikasi digital. Selain itu, sebagian dari mereka merasa keberatan dengan sistem komisi yang diterapkan oleh perusahaan aplikasi karena penghasilan yang diterima harus dipotong sesuai ketentuan yang berlaku.

Faktor lain yang menjadi pertimbangan adalah fleksibilitas tarif. Sebagian Opang merasa lebih bebas menentukan tarif berdasarkan kondisi lapangan dibandingkan harus mengikuti sistem tarif yang telah ditentukan aplikasi. Bagi mereka, perubahan sistem kerja tersebut bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut kebiasaan dan pola kerja yang telah dijalani selama bertahun-tahun.

Meski demikian, kondisi yang terus berlarut-larut tidak memberikan manfaat bagi siapa pun. Penumpang menjadi tidak leluasa menentukan titik penjemputan sesuai kebutuhan. Pengemudi transportasi online juga menghadapi kesulitan ketika harus mencari lokasi yang aman untuk menjemput pelanggan. Sementara itu, Opang tetap menghadapi tekanan akibat berkurangnya jumlah penumpang yang memilih menggunakan layanan mereka.

Menurut saya, solusi terbaik bukanlah mempertentangkan Opang dan Gojek, melainkan mencari cara agar keduanya dapat beradaptasi dan hidup berdampingan. Pemerintah daerah dapat berperan aktif dengan memberikan pelatihan kewirausahaan dan literasi digital kepada para pengemudi Opang. Pelatihan tersebut dapat membantu mereka memahami penggunaan smartphone, aplikasi transportasi, serta peluang ekonomi digital yang semakin berkembang.

Selain pelatihan, dukungan berupa bantuan atau subsidi perangkat komunikasi juga dapat menjadi salah satu langkah yang layak dipertimbangkan. Tidak semua pengemudi Opang memiliki kemampuan ekonomi untuk membeli perangkat yang memadai dan mengakses internet secara rutin. Dengan adanya dukungan tersebut, mereka memiliki kesempatan yang lebih besar untuk beradaptasi dengan perubahan zaman.

Di samping itu, perlu adanya pengaturan yang jelas mengenai titik penjemputan dan area operasional di lokasi-lokasi strategis seperti stasiun, terminal, atau pusat perbelanjaan. Pengaturan tersebut dapat mengurangi potensi konflik sekaligus memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang menggunakan jasa transportasi. Ketika semua pihak memiliki ruang yang jelas untuk beroperasi, maka persaingan dapat berubah menjadi hubungan yang lebih sehat.

Pada akhirnya, perkembangan teknologi tidak dapat dihentikan. Kehadiran transportasi online merupakan bagian dari perubahan yang terjadi dalam masyarakat digital. Namun perubahan tersebut tidak seharusnya membuat kelompok tertentu tertinggal. Opang dan Gojek pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan layanan transportasi kepada masyarakat. Oleh karena itu, yang dibutuhkan bukanlah persaingan tanpa akhir, melainkan kolaborasi dan dukungan agar semua pihak dapat memperoleh manfaat dari perkembangan teknologi yang ada.