Komentar tidak berempati dari sejumlah tenaga kesehatan (nakes) terhadap pasien pengguna BPJS Kesehatan di media sosial belakangan memunculkan pertanyaan besar tentang kualitas pelayanan kesehatan.
Kasus ini bermula dari unggahan seorang pasien yang mengeluhkan belum mendapatkan ruang perawatan setelah menunggu selama delapan jam.
Alih-alih mendapat dukungan, unggahannya justru dibalas dengan komentar sinis, bahkan ada yang menyarankan pasien masuk ke ruang jenazah dan melontarkan kalimat yang tidak pantas.
Kasus tersebut juga membuka pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi di balik hilangnya empati tenaga kesehatan.
Sebab, nakes juga bekerja dalam sistem pelayanan kesehatan yang penuh tekanan, mulai dari beban kerja, tuntutan pelayanan, hingga kondisi kerja yang dapat memicu kelelahan fisik dan emosional.
Dalam kondisi seperti itu, burnout menjadi masalah yang tidak bisa diabaikan. Kelelahan berkepanjangan bukan hanya dapat memengaruhi kesehatan nakes, tetapi juga cara mereka berinteraksi dengan pasien.
Meski demikian, memahami burnout bukan berarti membenarkan perilaku yang merendahkan atau menyakiti pasien.
Namun, jika tenaga kesehatan sama-sama berada dalam sistem yang bermasalah, mengapa tekanan tersebut justru dilampiaskan kepada pasien yang juga menjadi korban dari sistem kesehatan?
Burnout Nakes Bukan Masalah Sepele
Menjadi tenaga kesehatan bukan pekerjaan yang ringan. Mereka berhadapan dengan pasien yang sedang sakit, keluarga yang cemas, kondisi darurat, tuntutan ketelitian, serta keputusan yang terkadang harus diambil dalam waktu singkat.
Di saat yang sama, mereka juga bekerja dalam sistem yang memiliki keterbatasan. Jumlah tenaga kesehatan, fasilitas, kapasitas rumah sakit, administrasi, hingga persoalan kesejahteraan bisa menjadi sumber tekanan tersendiri.
Dalam situasi seperti itu, burnout bukan sesuatu yang bisa direduksi bahwa seseorang kurang kuat mental. Seseorang yang terus-menerus bekerja dalam kondisi lelah secara fisik dan emosional dapat mengalami perubahan dalam cara mereka merespons lingkungan.
Masalahnya, pasien sering kali menjadi pihak yang paling dekat dengan tenaga kesehatan ketika tekanan tersebut muncul. Ketika tenaga kesehatan sudah berada di titik lelah, interaksi dengan pasien yang kadang rumit bisa terasa sebagai tambahan beban.
Namun, meskipun burnout dapat membantu menjelaskan mengapa empati seseorang menurun, hal itu tetap tidak bisa dijadikan alasan untuk menyakiti pasien.
Ketika Korban Sistem Saling Berhadapan
Nakes dan pasien sebenarnya sama-sama berada dalam sistem kesehatan di Indonesia yang belum ideal. Nakes menghadapi tekanan dari dalam sistem, sedangkan pasien menghadapi konsekuensi dari sistem tersebut sebagai pengguna layanan.
Dengan kata lain, nakes dan pasien sama-sama menjadi korban dari persoalan sistemik yang berbeda.
Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tekanan yang seharusnya diarahkan kepada sistem justru turun kepada orang yang berada di posisi lebih lemah, yaitu pasien, terutama pengguna BPJS.
Lalu, mengapa pasien justru menjadi sasaran kemarahan?
Menurut saya, salah satu jawabannya berkaitan dengan relasi kuasa. Tenaga kesehatan memiliki pengetahuan dan posisi profesional yang tidak dimiliki pasien. Sementara itu, pasien datang dalam keadaan membutuhkan pertolongan. Ketimpangan ini membuat pasien berada dalam posisi yang lebih rentan.
Padahal, alih-alih melampiaskan kepada pasien, kritik terhadap sistem akan jauh lebih mengena jika diarahkan kepada pihak dan kebijakan yang memang memiliki kewenangan untuk memperbaikinya.
Memulihkan Empati Berarti Membenahi Sistem
Saya kira kita juga perlu berhati-hati dengan narasi bahwa solusi dari kasus seperti ini cukup dengan meminta tenaga kesehatan untuk lebih berempati.
Empati memang penting, tetapi sulit mengharapkan empati tumbuh subur dalam lingkungan kerja yang terus-menerus membuat orang kelelahan.
Pendidikan etika dan komunikasi tetap penting. Tenaga kesehatan harus memahami bahwa pasien bukan sekadar objek pelayanan. Namun, pendidikan saja tidak cukup jika persoalan strukturalnya tidak disentuh.
Masalah ini perlu dilihat lebih jauh melalui berbagai aspek, mulai dari bagaimana beban kerja tenaga kesehatan selama ini, apakah jumlah tenaga kesehatan sudah sebanding dengan kebutuhan pelayanan, hingga bagaimana kondisi kesejahteraan mereka.
Jika memang ada yang salah dengan sistem kesehatan, maka sistem itulah yang harus dikritik dan dibenahi. Jangan sampai tekanan dari atas terus mengalir ke bawah, dari sistem kepada nakes, lalu dari nakes kepada pasien.
Baca Juga
-
Dunning-Kruger Effect: Matinya Kepakaran Akibat Penguasa yang Anti Kritik
-
Ulasan Sweet Munchies: Cinta Segitiga yang Berawal dari Dapur Restoran
-
Ulasan Drama Dinner Mate: Menemukan Ruang Pulih setelah Patah Hati
-
Rakyat Harus Beradab, Mengapa Penguasa Bebas Berkata Kasar di Ruang Publik?
-
Ulasan Do Do Sol Sol La La Sol: Tentang Harapan yang Tumbuh dari Kehilangan
Artikel Terkait
-
Buku Fiksi vs Self-Improvement: Mana yang Lebih Mengasah Empati?
-
Tak Hanya Obat, Aktivitas Kreatif Bisa Bantu Jaga Kesejahteraan Psikologis Pasien Kanker
-
Banyak RS Akreditasi Paripurna Tapi Nakes Terlantar! Sistem Penilaian akan Dirombak Total
-
Empati Tidak Harus Menunggu Korbannya Menjadi Keluarga Kita
-
Burnout dan Tekanan Harus Selalu Kuat: Perempuan Juga Berhak Merasa Lelah
Kolom
-
Terjebak Clickbait dan Misinformasi: Ketika Kecepatan Membunuh Ketelitian Membaca
-
Dilema Perempuan Modern: Tuntutan Harus Mandiri dan Beban untuk Selalu Terlihat 'Proper'
-
Dilema Atlet Pelajar: Saat Generasi Emas Dipaksa Memilih Antara Lapangan atau Kelas
-
Gajian Tiap Bulan, tapi Takut Kehabisan Uang: Inikah Realitas Dunia Kerja?
-
Toxic Positivity di Tempat Kerja: Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?
Terkini
-
Review Resident Evil: Hujan Fan Service yang Memanjakan Gamer Sekaligus Mengorbankan Ending
-
Relatable! Ini Alasan Novel Harga Teman Cocok Dibaca Pejuang Quarter-Life Crisis
-
Sinopsis Vibe, Film India yang Dibintangi Kunal Kemmu dan Preity Zinta
-
Bye Warna Kalem! Tren Cewek Buah Bikin Tampilan jadi Lebih Segar
-
4 Calming Sunscreen Korea Lawan Kemerahan dan Dehidrasi pada Kulit Sensitif