Di awal tahun ini, dunia teknologi digemparkan oleh kucuran dana investasi raksasa untuk perusahaan pembuat kecerdasan buatan (AI). Angkanya tidak main-main, menembus $122 miliar. Jika dirupiahkan dengan kurs saat ini, nominalnya setara dengan lebih dari 1.900 triliun rupiah.
Sebagai perbandingan, menurut data resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, total belanja negara dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2024 ditetapkan sebesar Rp 3.325,1 triliun. Artinya, dana yang dibakar oleh segelintir perusahaan teknologi untuk satu
sektor ini melampaui separuh dari total anggaran negara kita selama setahun penuh. Uang sebanyak itu dipertaruhkan untuk satu tujuan utama: menciptakan mesin super pintar yang menyaingi otak manusia.
Ilusi "Awan" dan Realitas Mesin Fisik
Publik mungkin berdecak kagum melihat betapa cerdasnya AI saat ini, mulai dari merangkum dokumen hingga membuat gambar yang realistis.
Kita sering kali terkecoh oleh istilah cloud atau "awan", seolah-olah teknologi ini melayang di udara dan bersih dari dampak fisik. Padahal, kenyataannya jauh dari itu. AI tidak hidup di awan ia bernapas di dalam pusat data raksasa berisi jutaan komputer super yang menyedot
listrik tanpa henti. Di balik layar ponsel atau laptop kita yang bersih, ada mesin-mesin fisik yang terus bekerja keras.
Keusangan Terencana Skala Raksasa
Di sinilah letak bom waktu yang jarang dibicarakan. Kita mungkin sudah terbiasa dengan fenomena barang elektronik yang cepat usang, atau yang sering disebut sebagai keusangan terencana (planned obsolescence).
Misalnya, ponsel yang tiba-tiba terasa lambat dan baterainya bocor setelah dua tahun, memaksa kita membeli yang baru. Namun, apa yang terjadi di dunia AI saat ini memiliki skala yang ribuan kali lipat lebih mengerikan.
Untuk membuat AI menjadi semakin pintar, perusahaan-perusahaan teknologi raksasa berlomba memborong "otak" komputer generasi terbaru.
Masalahnya, teknologi ini berkembang dengan sangat agresif. Komputer super canggih seharga miliaran rupiah yang dibeli tahun lalu, dengan cepat dianggap lambat dan tidak lagi mumpuni untuk melatih AI generasi tahun depan.
Akibatnya, siklus pergantian alat berat ini menjadi sangat singkat. Mesin-mesin mahal ini dipensiunkan paksa jauh sebelum masa pakainya habis secara fisik.
Bom Waktu Berupa 62 Juta Ton Rongsokan
Lalu, ke mana perginya komputer-komputer raksasa yang sudah dianggap rongsokan ini? Mereka berubah menjadi limbah elektronik skala masif yang mengandung logam berat dan bahan beracun pencemar tanah serta air.
Sebagai gambaran besarnya masalah ini, Laporan Global E-waste Monitor dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat bahwa dunia saat ini menghasilkan lebih dari 62 juta ton limbah elektronik dalam setahun.
Ironisnya, kurang dari seperempatnya (sekitar 22 persen) yang berhasil didaur ulang secara resmi dan aman. Bayangkan seberapa parah lonjakan angka ini ketika jutaan server dan mesin AI raksasa mulai dibuang secara rutin dalam beberapa tahun ke depan.
Ironi Teknologi Bersih
Sungguh sebuah ironi yang tajam. Perlombaan menciptakan AI super pintar ini sering kali dibungkus dengan kampanye manis bahwa teknologi akan membantu kita memecahkan masalah global, termasuk krisis lingkungan.
Namun, dalam proses menciptakan "kecerdasan" tersebut, kita justru menjarah sumber daya alam dengan rakus, memboroskan energi, dan mewariskan gunung rongsokan beracun.
Oleh: Ghifari Ibnu - Mahasiswa Sistem Informasi, Universitas Pamulang
Baca Juga
-
Fenomena 'Lebih Galak yang Ngutang': Saat Niat Baik Berujung Sakit Hati
-
Mengenal BEM: Mengapa Kampus Punya Pemerintahan Sendiri?
-
Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards
-
Membedah Makna Lagu 'Usik' Feby Putri: Seni Berdamai dengan Luka Masa Lalu
-
Rayakan 20 Tahun Debut, BigBang Bahas Identitas dan Kejayaan di Lagu BiiiG
Artikel Terkait
Kolom
-
Fenomena 'Lebih Galak yang Ngutang': Saat Niat Baik Berujung Sakit Hati
-
Mengenal BEM: Mengapa Kampus Punya Pemerintahan Sendiri?
-
Mendidik Disiplin atau Mengulang Budaya Perpelocoan?
-
Paradoks Jajanan SD versus MBG: Mengapa Proyek Besar Justru Rawan Keracunan?
-
Modern Dad dan Warisan Patriarki: Mengubah Cara Ayah Hadir dalam Pengasuhan
Terkini
-
Tegang Maksimal! Potret Kelam Remaja Kaya Los Angeles Era 80-an dalam Serial The Shards
-
Membedah Makna Lagu 'Usik' Feby Putri: Seni Berdamai dengan Luka Masa Lalu
-
Rayakan 20 Tahun Debut, BigBang Bahas Identitas dan Kejayaan di Lagu BiiiG
-
Ulasan Novel Purple Prose, Menyembuhkan Luka Dalam Bayangan Kehilangan
-
Menyusuri Jejak Prajurit Diponegoro di Masjid Baiturrahman Kediri