M. Reza Sulaiman | Armand IS
Ilustrasi orang berdoa (Unsplash/Pedro Lima)
Armand IS

Siapa di sini selain penulis yang sudah jenuh melihat berita-berita artis pindah agama di media besar? Konon, berita artis pindah agama yang berseliweran muncul karena memang pasarnya ada.

Tidak bisa dimungkiri kalau berita berpindah "haluan" keyakinan jadi konsumsi publik yang laris manis dan memang para pembaca ikut tertarik dengan perjalanan spiritualitas seorang figur publik.

Pindah Agama adalah Hal yang Tidak Perlu Digembor-gemborkan

Alangkah baiknya masyarakat berhenti menjadikan perjalanan spiritualitas orang-orang tenar sebagai konsumsi publik. Ajakan ini bukan tanpa alasan, lantaran bagi seseorang yang benar-benar pindah agama, fenomena tersebut adalah hal yang biasa saja dan tidak perlu dihebohkan.

Perjalanan spiritualitas tiap diri masing-masing adalah autentik dan bersifat individual. Tak jarang di tengah perjalanan spiritualitas manusia, ada perubahan drastis yang dialami. Menjadikan perjalanan spiritualitas sebagai tontonan publik sejatinya mengurangi esensi dan value dari apa yang mereka alami.

Bayangkan ketika seseorang menemukan nilai ketuhanan dalam sepiring nasi pecel lele lalu menjadi omongan orang-orang. Sungguh mengganggu, bukan? Apalagi publik juga tak asing dengan sikap masyarakat kalau seorang artis pindah ke agama tertentu, agama "X" misalkan.

Sikap masyarakat pasti akan antusias dan menilai bahwa si artis pindah agama sebagai tindakan yang bijaksana dan diambil dari panggilan ilahi. Namun, ketika seorang artis pindah ke agama yang bukan "X", sang artis harus siap dengan banjir hujatan yang bertubi-tubi dan tuduhan bahwa ia pindah karena pasangan atau harta.

Pertumbuhan rohani manusia memang selalu mengalami gejolak. Bisa saja di suatu titik, seseorang menjadi fanatik terhadap agama atau keyakinan yang dipegang oleh diri masing-masing. Ada juga waktu saat seseorang mempertanyakan keyakinannya yang dipupuk subur oleh orang tua, lalu berpikir bahwa rumput tetangga lebih hijau.

Tiba suatu momen orang tersebut akhirnya mengambil keputusan untuk merombak ulang keyakinan yang ia yakini. Perjalanan demikian tentu tak jarang ditemui, bahkan pada para agamawan sekalipun.

Berita Artis Pindah Agama Hanya Laku di Indonesia

Kalau dilihat secara jeli, berita artis pindah agama hanya menjadi barang laku di Indonesia. Media di negeri nun jauh di sana memilih untuk tak mengekspos perjalanan spiritual seorang artis karena memang bukan dagangan yang laku. Apa yang disembah atau diyakini oleh para selebritas mancanegara enggan diekspos oleh media luar.

Lain ladang lain belalang, media Indonesia hobi memberitakan perjalanan spiritual seorang selebritas. Momen-momen saat seorang selebritas mengucapkan kalimat atau istilah yang kerap dipakai oleh umat di luar agamanya juga menjadi pemantik judul clickbait seperti, "Jordi Onsu Ucapkan Bismillah: Fix Mualaf?"

Publik sontak berasumsi dan seakan-akan menunggu momen Jordi Onsu meninggalkan agama sebelumnya dan memilih untuk mencari kebenaran di agama baru.

Memang, tak sedikit artis yang diuntungkan dengan berita bahwa mereka telah berpindah agama. AdSense, engagement, atau apa pun itu akhirnya mengalir lebih deras ke media sosial mereka. Tak jarang juga pindah agama digunakan sebagai alat untuk panjat sosial.

Sekali lagi, tak semua artis memiliki privilese yang demikian. Sebab, seperti yang telah disinggung sebelumnya, publik tak adil dalam memberi reaksi atau dukungan terhadap mereka yang pindah agama. Publik memiliki kecenderungan untuk mendukung perpindahan ke agama tertentu, dan menghujat saat seorang selebritas pindah ke agama yang tidak masuk ke preferensi pribadi.

Mulai dari Diri Sendiri

Semua dimulai dari diri sendiri. Adapun di sirkel terdekat kita, tidak perlu julid habis-habisan ketika kita tahu atau mendapat kabar bahwa kawan lama kita telah pindah agama. Kita cukup menyimpan pandangan kita dan tidak perlu kita gali-gali lebih dalam mengapa yang bersangkutan memutuskan untuk berpindah keyakinan.

Entah itu karena tuan dan puan di agama sebelah lebih rupawan nan membawa rasa nyaman, atau panggilan dari hati, semua itu kembali ke diri masing-masing tanpa kita harus campur tangan.

Mari kita kembalikan perjalanan spiritualitas sebagai urusan masing-masing. Kalaupun yang bersangkutan membagikan pengalaman spiritualnya yang telah menemukan keyakinan baru, tidak perlu kita bereaksi secara berlebihan dan lebay.

Terlepas apa yang engkau percayai, kita semua tentu mau bertumbuh secara spiritual dan menemukan versi terbaik diri kita masing-masing tanpa harus merasa dihakimi dan menjadi bahan omongan sirkel kita.

Perlu waktu yang panjang agar jagat media kita menjadi lebih sehat. Pasar, yakni kita sebagai konsumen media, juga harus menjadi pribadi yang sehat dan tidak mudah terpancing atau sensi saat melihat rekan terdekat kita berpindah haluan.

Perlahan, media kita bisa lebih bermutu dan para wartawan bisa berterima kasih untuk tidak menulis berita artis pindah agama untuk kesekian kalinya.