M. Reza Sulaiman | Rizky Pratama Riyanto
Ilustrasi pria yang mencurigakan [Unsplash/Frankie Cordoba]
Rizky Pratama Riyanto

Aku tinggal di rumah bersama ayah dan ibu. Saat itu, kompleks kami sedang marak terjadi penjarahan rumah ke rumah dan parahnya sudah lima rumah terjarah. Bahkan, sampai hari ini tidak diketahui siapa pelaku di balik rencana terselubung itu secara pasti.

Maling di kompleks kami akan selalu aman karena terlindungi dari perkataan warga “Yang sabar ya Pak/Bu, rezekinya akan tergantikan dengan yang lebih baik.” Kalimat tersebut memang sah-sah saja untuk menenangkan, tetapi sebagai warga yang bijaksana tidak berarti prosesnya harus berhenti di sana, kan? 

Jika kalimat itu secara halal terus diungkapkan untuk “menyabarkan” tanpa ada tindak lanjut setelahnya, aku justru sangat menyarankan kepada para pencuri untuk menjarah rumah-rumah di sini lagi. Mereka pasti tidak akan tertangkap, toh warga di sini akan menoleransi tindakannya.

Meskipun warga di sini merespons dengan santai, mereka sejatinya sedang merasakan kekhawatiran yang sama. Rumah siapa saja bisa terjarah tanpa adanya pertanda apa pun. Target rumah selanjutnya tidak bisa diterka, semua warga panik dan khawatir. 

Barang berharga diselamatkan, komplotan maling gencar mencari mangsa. Tidak ada satpam di kompleks, tetapi iuran keamanan terus ditagih. Entah apa yang diamankan, mungkin sedang mengamankan perutnya. Setelah penjarahan berhenti terjadi, barulah satpam dibentuk. Sungguh menggemaskan!

**

Di Minggu pagi, tanpa ada angin, tanpa ada hujan aku terbangun dengan rasa waswas. Pandanganku tertuju pada jendela ruang keluarga. Tiba-tiba terlintas di pikiranku bahwa jendela itu sepertinya bisa dibobol oleh maling. Aneh sekali rasanya ketika ada terali di jendela sekuat itu bisa dibobol. 

Firasat lainnya muncul di benak orang tuaku untuk memasang kamera pengawas di setiap sudut rumah. Namun, firasat tersebut tidak dijalankan karena saking sibuknya bekerja. Lima hari setelahnya, ternyata target rumah keenam adalah rumah kami, tepat di siang hari aksi keji itu terjadi. 

Maling bekerja dengan otak yang brilian. Mereka melancarkan aksi ketika warga melaksanakan salat. Aku tahu peristiwa itu terjadi di siang hari karena tetangga menjadi saksi mata. Dua maling kabur membawa tas besar dan tidak bisa terkejar.

Kedua orang tuaku bekerja dari pagi hingga malam hari, sementara aku masih duduk di bangku SMP dan pulang jam 3 sore. Setiap hari kerja rumah kami selalu kosong—digembok dari luar. Aku membawa kunci rumah karena menjadi orang pertama yang pulang lebih awal.

Pada Jumat sore, aku tiba di depan rumah melihat pintu telah terbuka lebar dan gembok yang hilang entah ke mana. Aku tidak menelepon orang tuaku karena sekolah melarang siswa untuk membawa gawai sehingga aku menaruhnya di kamar. Alhasil, aku mencari pertolongan ke seorang ibu temanku. 

Pikiran cemas sebelum masuk ke dalam rumah bukan karena para pencuri berhasil merampas barang berharga, melainkan khawatir masih ada durjana yang bertengger di dalam rumah. Aku dan ibu temanku perlahan masuk ke dalam rumah dengan tangan kosong seraya memberanikan diri. 

Rumah kami dipastikan terjarah sempurna. Gawaiku hilang dan tidak terlacak. Dalam waktu singkat, area depan rumah dipenuhi oleh warga sekitar. Menanyakan kronologi hingga mendokumentasikan kondisi rumah yang porak-poranda. Konyolnya, aku membuka tudung saji di dapur untuk memastikan rendang tidak ikut dicuri oleh maling.

Otak dari penjarah itu sepertinya sempat masuk ke dalam rumah. Berkedok dimintai pertolongan untuk memperbaiki kompor gas, ternyata dirinya sedang memata-matai setiap penjuru kamar. Ia melihat pintu rumah yang sulit untuk didobrak, akhirnya komplotan maling itu pun membobol rumah kami dengan linggis.

Ya, aku tahu siapa pelakunya. Walaupun begitu, biarkan sajalah. Uang haram yang diperoleh tidak akan pernah membawakan keberkahan di sepanjang hidupnya. Tuhan akan membalasnya dan tidak mungkin akan membiarkan perasaan keluargaku terhempas. Dan Tuhan, memang benar-benar membalas keluarga mereka.

**

Cerita datang dari ayahku. Suatu hari, saat sedang menemui seorang nasabah, ia tidak sengaja bertemu dengan seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang tidak diketahui orang pada umumnya.

“Saya tahu bapak habis kemalingan.” 

“Rumah pelakunya empat rumah ke kanan dari depan rumah bapak.”

Mendengar perkataan itu, ayahku terdiam. Ia tidak langsung mempercayainya, tetapi ucapan tersebut terus terngiang di benaknya. Orang yang dicurigai tersebut sepertinya memang otak dari penjarahan di kompleks kami sebab aku merasakan hal yang sama.

Hal yang paling mencurigakan yaitu ketika ia pergi dari rumahnya menggunakan motor dan berpapasan denganku, sampai saat ini orang itu selalu tersenyum. Bukan menjadikan senyum itu sebagai sedekah, tetapi justru menjadi alasan kuat di balik ekspresi wajah yang menunjukkan rasa senang di atas penderitaan orang lain. 

Tenang saja, orang miskin akan selalu miskin karena aksi kejinya. Tuhan tidak sudi mengubah kondisi hidupnya. Uang haram menimbulkan celaka bagi keluarganya. Itulah alasannya mengapa para pencuri tidak pernah kaya semasa hidupnya.