Bayangkan, deh. Sobat Yoursay menciptakan sebuah lagu selama bertahun-tahun. Setiap lirik lahir dari pengalaman pribadi, setiap nada disusun dengan kesabaran, lalu suatu hari lagu itu diputar di seluruh dunia. Orang-orang bernyanyi mengikuti melodinya, media memujinya sebagai karya luar biasa, bahkan lagu tersebut menghasilkan keuntungan yang sangat besar. Masalahnya, nama yang dielu-elukan bukanlah namamu.
Premis itulah yang menjadi tajuk utama Film Power Ballad, drama komedi musikal garapan John Carney bersama Peter McDonald yang sudah rilis bioskop Indonesia sejak 19 Juni 2026. Betewe, film ini kembali membawa sentuhan khas sang sutradara yang gemar menjadikan musik sebagai bahasa utama untuk membicarakan kehidupan.
Deretan pemainnya pun cukup menarik. Paul Rudd memerankan Rick, musisi asal Amerika yang memilih menetap di Irlandia dan mencari nafkah dengan bermain bersama band pernikahannya. Di sisi lain, Nick Jonas tampil sebagai Danny, mantan anggota boyband yang sedang berusaha menghidupkan kembali karir solonya. Film ini juga dibintangi Naoimh Whelton sebagai Laura, Jack Reynor sebagai Mac, Mae Higgins sebagai Elaine, serta Peter McDonald sebagai Sandy, sahabat setia Rick.
Kisahnya tentu perihal Rick. Dia bukan sosok yang mengejar ketenaran. Yup, dia menjalani hidup sederhana bersama keluarganya di Irlandia sambil terus memainkan musik yang dia cintai. Suatu malam, ketika sedang tampil di pesta pernikahan, dia bertemu Danny.
Pertemuan dua musisi dari latar belakang berbeda menghabiskan malam dengan bertukar cerita, memainkan lagu, hingga akhirnya Rick memperdengarkan lagunya yang selama ini dia simpan dan sempurnakan sendiri. selama bertahun-tahun.
Beberapa bulan kemudian, hidup Rick berubah drastis. Lagunya menjadi hits internasional dengan judul baru, ‘How to Write a Song (Without You)’, dan dinyanyikan Danny. Karir Danny kembali melejit, sementara Rick hanya bisa menyaksikan lagunya diputar di radio, dinyanyikan jutaan orang, bahkan menghasilkan keuntungan besar tanpa sedikit pun mencantumkan nama Rick sebagai pencipta.
Merasa hak Rick dirampas, dia akhirnya berangkat ke Los Angeles bersama sahabatnya, Sandy, untuk menuntut pertanggungjawaban sekaligus mencari pengakuan atas karya yang selama ini menjadi bagian dari hidupnya. Seru dan bikin kesal deh film ini.
Seberapa Penting Pengakuan Dibanding Uang?
Banyak orang mungkin akan menjawab uang adalah segalanya. Royalti memang penting. Penghasilan dari sebuah karya bisa mengubah kehidupan seseorang. Namun, Film Power Ballad nunjukin ada sesuatu yang nggak bisa dibeli dengan angka sebanyak apa pun, yaitu hak cipta dan identitas pencipta.
Bagi seniman, karya bukan sekadar produk. Karya adalah perpanjangan dari dirinya sendiri. Lagu, novel, lukisan, film, atau puisi lahir dari pengalaman, kegelisahan, bahkan luka. Ketika karya itu diambil alih orang lain, yang hilang bukan hanya pemasukan, melainkan juga pengakuan semua proses kreatifnya.
Menurutku, inilah alasan mengapa kemarahan Rick begitu wajar. Rick memang kehilangan potensi royalti, tapi yang lebih menyakitkan adalah melihat orang lain menerima tepuk tangan atas sesuatu yang dirinya lahirkan dengan sepenuh hati.
Fenomena seperti ini sebenarnya nggak hanya terjadi di industri musik. Di era digital, kita sering melihat ide kreator kecil diambil akun yang lebih besar tanpa menyebut sumber. Penulis lagu berada di balik kesuksesan penyanyi terkenal, tapi publik lebih mengenal suara yang menyanyikan dibanding orang yang menulis setiap katanya. Bahkan di media sosial, unggahan hasil karya seseorang bisa dengan mudah disalin, diunggah ulang, lalu viral di akun lain.
Kalau suatu hari Rick ditawari uang dalam jumlah sangat besar untuk melupakan semuanya, apakah lukanya akan sembuh? Rasanya belum tentu. Sebab, uang bisa mengganti kerugian materi, tapi nggak bisa menghapus kenyataan bahwa dunia mengenang lagu tersebut atas nama orang lain.
Menurutku, pengakuan adalah bentuk penghormatan paling mendasar terhadap proses kreatif. Menyebut nama pencipta bukan sekadar formalitas, melainkan pengakuan suatu karya lahir dari waktu, tenaga, keberanian, dan pengalaman hidup seseorang. Tanpa pengakuan, seniman bisa saja tetap hidup berkecukupan, tapi kehilangan bagian penting dari identitasnya.
Begitulah, Film Power Ballad bukan hanya berbicara tentang pencurian lagu. Film ini juga ngajak kita merenung, terkait bagaimana kita menghargai karya orang lain. Karena bagi sebagian orang, uang memang bisa dicari kembali. Namun, ketika nama kita menghilang dari karya yang kita ciptakan sendiri, ada kehilangan paling dingin seumur hidup. Jangan sampai nggak nonton, ya, Sobat Yoursay!
Baca Juga
-
Review Petaka Gunung Welirang: Horor Pendakian Masih Menarik atau Sekadar Formula Usang?
-
The Death of Robin Hood: Sulitnya Menerima Sisi Gelap Orang yang Dikagumi
-
Review Enola Holmes 3: Lebih Dewasa, Emosional, dan Penuh Misteri
-
Cinta Lama Babak Kedua #CLBK: Apakah Kita Bisa Melupakan Cinta Pertama?
-
Mengurai Surat Cinta Sinema yang Tersirat dalam Film Minions & Monsters
Artikel Terkait
Ulasan
-
Ulasan Novel Tragedi, Serangan Misterius dari Sekelompok Orang Tak Dikenal
-
Dari Jalanan hingga Pertarungan Siluman: Budaya Jepang dalam Teito-kun!
-
Selir Kejam Joseon Terjebak di Tubuh Aktris Figuran? Intip Keseruan My Royal Nemesis!
-
Review Petaka Gunung Welirang: Horor Pendakian Masih Menarik atau Sekadar Formula Usang?
-
Cinta Paling Rumit: Bukan Sekadar Kisah Romansa, Ini Refleksi Luka dan Harapan Kita
Terkini
-
Maling Itu Empat Langkah dari Rumahku
-
Sulawesi Tengah Terus Diguncang Gempa: Sampai Kapan Kita Hanya Bisa Pasrah?
-
WhatsApp Ubah Cara Tampilkan Status Online, Kini Pakai Fitur Titik Hijau
-
Di Balik Layar Algoritma: Bagaimana Media Sosial Mempelajari Kebiasaanmu
-
Biaya Hajatan Membengkak? Bukan Salah Tamu, tapi Kebocoran di Dapur Rewang